Wow, Greenhouse Mini untuk Melon Hasilkan Ratusan Juta Setahun

Greenhouse mini Panu hasilkan jutaan rupiah
(Panu Taweepon (kanan) memamerkan melonnya di SIMA-ASEAN Agribusiness Exhibition di Bangkok. Petani asal Propinsi Surat Thani, 500 km sebelah selatan Bangkok, itu menjadi sorotan di Expo karena sukses menghasilkan profit tinggi dengan memaksimalkan produksi melon di greenhouse mini. Image : zacsarian.com)

Pomidor.id – Kisah ini bukan hoaks atau mengada-ada, tapi memang betulan nyata. Kisah ini sekaligus mengajarkan betapa pengetahuan yang ditunjang dengan kreativitas dan kemauan keras akan membawa hasil yang kadang di luar dugaan. Bayangkan, greenhouse mini “hanya” seluas 60 m2 yang ditanami melon, bisa menghasilkan hampir Rp 150 juta setahun!

Link Banner

Panu Taweepon, seorang petani muda di Propinsi Surat Thani, Thailand, sudah beberapa tahun belakangan ini bertanam melon. Melon-melon itu ia budidayakan di lahannya yang seluas 3.200 m2. Lahan seluas itu ia bagi-bagi lagi menjadi puluhan greenhouse mini dengan ukuran 60 m2/greenhouse.

Yang istimewa, setiap greenhouse mini itu memproduksi rata-rata 500 melon berbobot sekitar 2 kg sekali panen. Ini sama saja dengan ia memanen tak kurang dari 1 ton dari setiap greenhouse yang luasnya tak sampai satu unit rumah terkecil di perumahan di Indonesia.

Melon itu kemudian ia jual 100 baht/kg (Rp 42.500/kg). Dikalikan 1.000 kg, akan ketemu angka yang mencengangkan, Rp 42.500.000 per greenhouse per satu kali masa panen. Jika umur melon adalah tiga bulan, dalam setahun ia bisa tiga kali panen (sehabis panen umumnya ada masa jedah untuk perawatan, pengolahan media tanam, pemupukan, dlsb).

deretan melon milik Panu
(Deretan melon yang dihasilkan dari greenhouse mini Panu Taweepon. Image : zacsarian.com)

Dengan sekali panen menghasilkan lebih dari Rp 42 juta, maka setahunnya Panu meraup hampir Rp 150 juta. Itu hanya dari satu greenhouse. Padahal ia masih memiliki puluhan greenhouse mini di lahannya.

Baca Juga : Petani Buah Thailand Pasang Chip Anti Maling

Sukses petani kecil seperti Panu bukan sekedar teori atau omongan ngedabrus di pinggir jalan. Tapi betul-betul nyata. Hal ini pula yang membuatnya menjadi salah satu sosok yang banyak disorot di SIMA-ASEAN Agribusiness Exhibition di Bangkok tanggal 6-8 Juni lalu.

Di event tahunan tersebut, Panu menunjukkan lewat video bagaimana ia mengoperasikan seluruh greenhouse-nya dengan sistem hidroponik metode irigasi tetes, Sistem ini memudahkannya merawat melon yang ada di dalam greenhouse karena hanya butuh membuka katup-katup yang ada untuk menyiram dan memupuk tanaman.

Bahkan saking mudahnya, ia tidak perlu merekrut banyak tenaga kerja. Cukup dibantu ibunya yang sudah tua, perawatan melon sudah bisa dilakukan optimal.

Prototipe gh khusus untuk melon
(Prototipe greenhouse mini untuk melon milik Panu yang dipamerkan di Expo Bangkok. Image : mb.com.ph)

Untuk pemasarannya, ia memanfaatkan akun Facebooknya. Meski sementara hanya menyasar pembeli dari negerinya sendiri, promosi lewat akun media sosialnya itu amatlah efektif.

“Sampeyan order hari ini, besok melon itu sudah sampai di rumah Sampeyan. Tak ada minimum order. No problem seandainya pun Sampeyan cuma order satu. Tapi ongkos kirimnya Sampeyan yang tanggung,” jelas Panu.

Baca Juga : Iran Operasikan Greenhouse Hidroponik di Lahan Ribuan Hektar

Meski demikian, orderan via online yang paling banyak adalah yang kemasan satu boks berisi 5 melon. Karena satu melon bobotnya lebih dari 2 kilo, berat per boksnya rata-rata mencapai 12 kg. Dengan harga Rp 42.500/kilo, dalam sekali pengiriman ia bisa mendapat lebih dari Rp 680 ribu.

Apa yang dilakukan laki-laki berusia 37 tahun asal Thailand ini tak hanya membuatnya ngetop di negerinya, tapi juga menyebar hingga ke berbagai negara. Greenhouse mini milik Panu pun kini ramai dikunjungi. Dari sekedar yang ingin melihat-lihat sampai yang betul-betul ingin belajar bagaimana mengelola greenhouse berukuran kecil yang menghasilkan profit tinggi.

Agar tidak menimbulkan kesemrawutan dan mengganggu produksi, pengunjung yang datang dibatasi. Setidaknya, reservasi kunjungan musti dilakukan sebulan sebelumnya.

melon dengan label NF Farm
(Dengan branding NF Farm, melon produksi Panu menarik perhatian pengunjung Expo Bangkok. Melon NF Farm ini sangat terkenal di Thailand karena rasa dan kualitasnya yang bagus. Image : zacsarian.com)

Baca Juga : Tukang Insinyur Impikan Wisata Petik Buah di Kebunnya

Ada pelajaran penting yang bisa kita petik di sini. Agripreneur seperti Panu Taweepon membuktikan bahwa untuk sukses di pertanian tidak harus bertumpu pada luas-luasan lahan. Yang lebih berperan adalah kemauan, kerja keras, serta inovasi yang ditunjang dengan pengetahuan.

Jangan lupakan pula pemanfaatan teknologi untuk memviralkan produk. Di era digital seperti sekarang, para petani seyogyanya juga melek teknologi sehingga mempermudah menawarkan produknya langsung ke konsumen. Akun-akun media sosial yang sifatnya gratis, bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk itu. Kan lebih berfaedah daripada digunakan untuk sebar-sebar hoaks atau fitnah.

Be the first to comment

Leave a Reply