Agromafia Italia Perlakukan Pekerja di Sektor Pertanian Layaknya Budak

agromafia
(Organisasi kriminal di Italia mengendalikan ratusan ribu pekerja di sektor pertanian. Mereka dijuluki agromafia karena cara kerjanya memang mirip mafioso. Image : ilgiornaledelcibo.it)

Pomidor.id – Jika di Indonesia populer istilah mafia pangan, hal yang mirip juga ada di Italia. Namun di negeri pizza itu, mafia yang berulah di sektor pertanian lebih beken dengan nama Agromafia. Sepak terjang mafia ini tak kalah bengis karena menjadikan buruh atau pekerja di industri pertanian layaknya budak.

Di Italia, lebih dari 400 ribu pekerja pertanian dipekerjakan secara ilegal oleh organisasi mafia. Sekitar 132 ribu di antaranya bahkan harus menjalani hidup sangat tidak layak. Kebanyakan dari mereka juga dipaksa bekerja lebih dari 12 jam sehari dengan upah jauh di bawah standar.

Muat Lebih

Menurut reportase yang dirilis bulan Juli ini oleh serikat buruh Italia untuk petani, Flai Cgil, kondisi buruk yang dialami pekerja di sektor pertanian tak ubahnya “perbudakan modern”. Organisasi kriminal macam mafia dituding berada di balik kondisi mengenaskan ini.

Penghasilan dari industri yang menjadikan manusia sebagai obyek sapi perah tersebut tak kurang dari lima milyar euro per tahunnya. Kegiatan tak manusiawi itu sendiri disebut ‘Caporalato’ atau perekrutan ilegal.

“Fenomena ‘Caporalato’ ibarat kanker bagi seluruh komunitas,” ujar Roberto Iovino dari serikat buruh.

“Aktivitas legal dan ilegal sering campur aduk di sektor pertanian. Hal ini pada akhirnya menyulitkan bagi penegak hukum untuk mengetahui siapa yang melanggar hukum dan siapa yang tidak,” imbuhnya.

Caporalato terkadang juga dilabeli Agromafia karena bersentuhan dengan banyak aspek agribisnis. Sedang dedengkotnya dijuluki ‘Caporali’. Caporali inilah yang berkuasa penuh mengatur jam kerja dan gaji pekerja.

pekerja migran dari Afrika
(Pekerja migran dari Afrika mengumpulkan panenan tomat. Lebih dari 400 ribu pekerja di sektor pertanian di Italia berada dalam kondisi yang mengenaskan. Image : improntalaquila.com)

Baca Juga : Perbudakan Modern di Industri Peternakan Brazil

Bukan rahasia lagi apabila perbudakan modern di sektor pertanian ini meluas di seluruh Italia. Mulai dari produksi tomat Sisilia, salad hijau dari Brescia, produksi anggur bersoda ‘Franciacorta’ di Lombardia, strawberry di Basilicata, nyaris semuanya bertumpu pada tetesan keringat para pekerja ilegal.

Upah di Bawah Standar

Reportase itu menunjukkan, upah rata-rata para pekerja yang dieksploitasi tenaganya itu berkisar antara 20 hingga 30 Euro per hari atau sekitar Rp 338 ribu hingga Rp 507 ribu per hari. (Jangan bandingkan dengan di sini karena standar biaya hidupnya jelas jauh berbeda.)

Yang lebih mengenaskan, banyak yang dipaksa untuk bekerja hingga 14 jam sehari, 7 hari seminggu!

Sebagian besar kesaksian yang dikumpulkan mengungkapkan bahwa pekerja dibayar kurang dari jam kerja mereka yang sesungguhnya. Selain itu, upah yang mereka terima pun separuh lebih rendah dari yang telah ditentukan oleh Pemerintah Italia untuk upah minimun pekerja di sektor pertanian.

Beberapa pekerja melaporkan ke Flai-Cgil kalau mereka diupah hanya satu Euro per jam. Ironisnya, mereka harus membayar 1,5 Euro untuk sebotol kecil air minum, 5 Euro untuk transportasi pulang pergi dan 3 Euro untuk makan siang.

Keadaan makin tekor karena para pekerja harian tersebut juga diharuskan membayar antara 100 hingga 200 Euro untuk sewa tempat tinggal. Padahal tempat kontrakan yang mereka huni sering kali jauh dari tempat kerja dan fasilitasnya sangat minim.

tinggal di bedeng2
(Bagi pekerja yang tak mampu menyewa kontrakan yang layak, mereka harus pasrah tinggal dibedeng-bedeng yang dibangun seadanya. Kok gubuk-gubuknya mirip TKI di negeri jiran ya. Image : scoopnest.com)

Caporali yang Berkuasa

Lantas lari ke mana kesejahteraan yang seharusnya mereka terima itu? Ke mana lagi kalau bukan ke Caporali!

Dari laporan yang sama, seorang Caporali atau Caporale (kopral) menyedot 10 hingga 15 Euro per hari dari setiap buruh yang berada di bawah kendalinya. Dalam spiral agromafia, seorang Caporali setidaknya mengatur 3 ribu sampai 4 ribu pekerja pertanian.

Baca Juga : Petani Myanmar Beralih dari Budidaya Bunga Poppy ke Ternak Ulat Sutra

Bisa dibayangkan betapa besar keuntungan Caporali dari Agromafia ini. Tanpa perlu bercucuran keringat, setiap bulan mereka memperoleh penghasilan puluhan ribu hingga ratusan ribu Euro dari menghisap keringat para pekerja. Apalagi itu adalah keuntungan “bersih” karena umumnya aktivitas yang mereka jalankan adalah aktvitas ilegal sehingga tidak termonitor oleh kewajiban membayar pajak.

“Mereka (Caporali) bukannya buta hukum. Mereka justru memahami hukum karena mereka selalu saja dapat menemukan cara-cara memalsukan kontrak kerja dan mekanisme untuk (menghindari) Institut Jaminan Sosial Nasional,” kata salah seorang pekerja kepada peneliti dari serikat buruh.

Institut Jaminan Sosial Nasional merupakan lembaga jaminan sosial dan kesejahteraan terbesar di Italia.

“Mereka itu jelas kriminal,” sang pekerja menambahkan.

Derita Buruh Migran

Meski disebut Caporali, namun pelakunya tidak selalu warga Italia. Ada juga yang berasal dari Rumania, Bulgaria, Maroko dan Pakistan. Mereka bergerak mengelola organisasi kriminal dan perekrutan sendiri-sendiri. Bahkan perekrutan bisa dilakukan sejak dari negara asal seperti Maroko dan Pakistan.

upah di bawah standar
(Para pekerja mengangkut hasil panenan anggur. Kendati bekerja lebih dari 14 jam sehari, banyak pekerja pertanian di Italia yang dibayar jauh di bawah standar Eropa. Image : progettoitalianews.net)

Di tahun 2017, dari satu juta buruh, 286.940 adalah buruh migran. Itu masih ditambah dengan estimasi ada sekitar 200 ribu buruh yang tidak terdaftar alias buruh ilegal.

Yang paling malang adalah buruh migran dari Afrika yang diupah paling rendah daripada buruh migran dari negara-negara lainnya.

Baca Juga : Peningkatan Produksi Coklat Berkorelasi dengan Deforestasi

Para korban dari Agromafia ini hidupnya sangat rentan karena tidak dapat mengklaim hak-hak mereka. Banyak dari mereka yang terpaksa bekerja sesuai kemauan Caporali karena dokumen yang mereka miliki ditahan oleh sang “mafioso”.

Kisah-kisah memilukan pun kerap terdengar mulai dari pelecehan fisik, perkosaan dan intimidasi. Seorang buruh ilegal asal Afrika bercerita pernah dipukuli sampai hampir mati gara-gara protes meminta upahnya yang tak kunjung dibayar meski sudah berbulan-bulan bekerja.

Ada pula kisah mengenai sekitar 5 ribu wanita Rumania yang diperkerjakan di daerah pedesaan di Sisilia. Karena terisolasi dan sering kali hanya ditemani anak-anak mereka, para pekerja wanita ini banyak yang mengalami kekerasan seksual dari petani setempat.

Kemanusiaan Dulu, Baru Keuntungan

Umumnya korban ragu-ragu melaporkan perlakuan tidak manusiawi yang mereka terima karena mereka takut kehilangan pekerjaan.

Seorang pekerja muda asal Ghana yang bekerja di Tuscany mengatakan ia sebenarnya diberitahu tentang tata cara mengajukan keluhan. Namun ia menahan diri karena tidak mau beresiko kehilangan pekerjaan dan dideportasi. Apalagi ia juga masih harus mengirim uang kepada keluarganya di negara asal.

Baca Juga : Konsumsi Buah Impor Jadi Simbol Status Sosial di India

Dalam reportase yang dirilis serikat buruh Italia untuk petani itu, Sussana Camusso, Sekjen CGIL, serikat perdagangan terbesar di Italia, mengatakan harus segera ada tindakan konkrit untuk melenyapkan agromafia.

“Kita harus membangun kembali budaya menghormati kemanusiaan, tak terkecuali pada para imigran. Mereka adalah orang-orang yang bekerja begitu keras membanting tulang untuk menyediakan makanan dan menggerakan perekonomian kita,” ucapnya.

agromafia stop now
(Etika dan rasa kemanusiaan membuat sebagian kalangan menyerukan untuk menghentikan praktik-praktik perbudakan modern di sektor pertanian. Image : flai.it)

“Kita harus membantu orang-orang ini untuk mengatasi rasa takut. Tapi kita juga harus menjelaskan kepada semua pihak bahwa uang bukan satu-satunya aspek terpenting. Kita harus mengutamakan manusia dulu. Baru kemudian mendapat keuntungan,” tegas Camusso.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan