Bisnis Kedai Kopi adalah Bisnis Cita Rasa

Bisnis Kedai Kopi adalah Bisnis Cita Rasa
(Sesekali Dimas, peci putih, menyempatkan diri bergabung dan ngobrol dengan pelanggannya. Menurutnya, selain suasana yang nyaman, kunci dari bisnis kedai kopi adalah cita rasa. Image : pomidor.id)

Pomidor.id – Kedai-kedai kopi kini semakin banyak bermunculan di berbagai sudut kota besar. Tak terkecuali di Malang, memfasilitasi orang nongkrong sembari menikmati seduhan kopi merupakan ladang bisnis yang cukup menggiurkan. Bagi yang tekun dan mau terus belajar, bisnis kedai kopi adalah bisnis cita rasa yang menguntungkan dalam jangka panjang.

Bagi Dimas Samoedra, bisnis kedai kopi bukan sekedar bisnis suguhan wedang. Pemilik kedai kopi “Duoningrat” di Pasar Tawangmangu Kota Malang itu menganggap usaha yang ia geluti adalah bisnis rasa. Bisnis yang mengedepankan cita rasa. Bisnis yang titik persaingannya terletak di lidah.

“Orang datang ke warung atau kedai kopi tak hanya untuk ngopi. Tapi juga menikmati kopi,” terang Dimas mengenai variasi harga di kedai kopinya.

Dibandingkan warung kopi yang banyak bertebaran di sekitar pasar, harga segelas kopi yang dijual Dimas memang relatif mahal. Jika warung-warung tersebut menjual paling banter Rp 3 ribuan, Dimas mematok harga segelas kopi termurah Rp 8 ribu. Sementara yang paling mahal Rp 15 ribu per gelasnya.

Baca Juga : Industri Kopi Nasional Harus Lebih Agresif Pasarkan Produk ke Pasar Global

Meski demikian, Dimas tak merasa ragu atau khawatir menjual segelas kopi dengan harga di atas rata-rata untuk ukuran lokasi yang berada di areal pasar tradisional seperti Pasar Tawangmangu. Ia meyakini rasa merupakan sesuatu yang sering diburu orang. Sekali cocok, biasanya akan kembali lagi.

Karena itu, Dimas tak pernah berhenti mempelajari dan mencari segala informasi tentang kopi sebagai bahan baku utama untuk kedainya, termasuk jenis serta karakteristik kopi berdasar daerah tempat tumbuhnya.

“Yang terdekat dari sini adalah kopi Dampit. Kopi robusta murni. Sedangkan kopi arabika umumnya dari Jawa Barat, NTT, Toraja hingga Aceh (Gayo). Blend biji dua kopi pilihan ini akan menghasilkan rasa dan aroma kopi yang luar biasa, asal proses pencampurannya dilakukan teliti. Juga hati-hati,” jelasnya.

Menyiapkan kopi pesanan pelanggan
(Seorang pegawai “Duoningrat” tengah menyiapkan racikan kopi pesanan pelanggan. Image : pomidor.id)

Agar optimal, Dimas berinvestasi pula pada mesin pengolah kopi yang dioperasikan di kedainya. Ia juga mengajari tiga karyawannya untuk mengetahui betul urut-urutan proses pembuatan mulai dari bentuk biji hingga menghidangkannya dalam segelas kopi yang siap dinikmati pelanggan. Kedai kopi ini beroperasi mulai jam 7 pagi hingga jam 12 malam.

Lebih jauh Dimas mengatakan mengelola bisnis kedai kopi bukanlah pekerjaan instant atau bisa dilakukan sambil lalu. Butuh lebih dari dua tahun ia melalui masa-masa “trial and error”.

Baca Juga : Kopi Mazedo, Kopi Herbal untuk Kesehatan

Akan tetapi karena merasa yakin bisnis yang ditekuninya sekarang dapat menjadi sandaran hidup, Dimas akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya di BRI. Lulusan Universitas Brawijaya jurusan Manajemen ini bahkan menuturkan penghasilan dari bisnis kopinya jauh lebih besar dari pekerjaan lamanya.

“Sehari saya bisa memperoleh Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu per hari dari kedai kopi ini saja. Itu belum termasuk penjualan olahan biji kopi menjadi kopi bubuk. Saya rutin mengirim ke Jogja, Tegal, Gresik dan Bekasi. Kalau ditotal bisa lebih dari satu ton yang saya kirim ke daerah-daerah itu setiap bulannya. Jadi kalau ditanya apa saya nyesel keluar dari BRI? Ya, nggaklah. Lebih menjanjikan di sini (bisnis kopi),” ujar Dimas tertawa.

Walau pun produknya semakin dikenal, prinsip yang dipegang erat laki-laki yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya ini adalah konsisten menjaga kualitas. Ia tidak mau sembarangan menjual barang karena aji mumpung permintaan pasar sedang tinggi.

Begitu pula dengan racikan kopi yang dijual di kedainya. Ketiga karyawannya yang semuanya masih berstatus mahasiswa ia minta tetap mempertahankan standar suguhan kopinya, baik yang termurah maupun yang termahal. Menurutnya, orang datang ke kedai kopinya karena merasa puas. Soal harga, itu nomor dua. Toh, ia juga tidak mematok harga yang mahalnya keterlaluan.

Cek Mesin Kopi
(Dimas tengah memeriksa mesin pemroses biji kopi menjadi bubuk kopi yang berada di kedai kopi miliknya. Image : pomidor.id)

Baca Juga : Meraup Dolar dari Kopi Olahan

Dimas menceritakan ada seorang penarik becak yang selalu mampir di kedainya sekali atau dua kali dalam seminggu. Biasanya hari Selasa atau Jum’at. Itu adalah jadwal rutin salah satu toko bahan pokok di pasar Tawangmangu untuk mengirim barang ke beberapa tempat dalam jumlah besar.

Mengingat jarak lokasi yang tak terlalu jauh, pekerjaan mengantar barang-barang tersebut diserahkan ke penarik becak tadi. Sehingga di hari-hari itu ia mendapat kelebihan rejeki.

“Selesai antar-antar barang, bapak penarik becak ini pasti mampir kemari. Pesan kopi yang paling enak. Kalau pas hari Jum’at, pulangnya juga nyangking kopi bubuk kemasan untuk dinikmati di rumah. Waktu saya tanya, apa ga eman uang yang didapat susah payah sebagiannya dibelikan kopi mahal-mahal? Si bapak cuma njawab pendek: sudah cocok dengan kopinya. Setelah kerja keras seharian, sesekali kan juga kepingin menikmati hasilnya,” ujar Dimas menirukan perkataan pelanggannya tadi.

Cangkruk di Kedai Kopi
(Menjelang petang hari, kedai kopi “Duoningrat” mulai didominasi anak-anak muda dan kalangan mahasiswa. Image : pomidor.id)

Tukang becak tersebut hanyalah satu dari sekian banyak pelanggannya yang datang dari kelas menengah ke bawah. Masih ada sekian lagi “customer” yang meski kantongnya pas-pasan, namun rela mengeluarkan sedikit uang lebih untuk mendapatkan sesuatu yang sejenak bisa membuat mereka lepas dari kepenatan hidup.

Baca Juga : Penggemar Kopi Lebih Panjang Umur?

“Sebelum membeli sesuatu, orang biasanya menggunakan rasio, terutama yang berkaitan dengan harga. Mahal murahnya dipikir betul. Tapi sesudah membeli dan merasakan, yang lebih berperan kemudian adalah hati. Ini juga berlaku di bisnis kedai kopi. Ini bisnis cita rasa. Orang datang ke sini lagi ya karena memang cocok dengan rasanya,” tukas Dimas.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan