border=

Gawat, Perang Dagang Bisa Berimbas ke Mi Instant

Mi Instant Bisa Kena Imbas Perang Dagang
(Mi instant pun bakal terimbas perang dagang yang diisyaratkan oleh Presiden Donald Trump, ke Indonesia. Image : alamy.com)

Pomidor.id – Ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang akan memperluas perang dagang dengan negara-negara yang dianggap mbeling dalam berbisnis dengan negaranya, bukan tidak mungkin akan menyasar pula Indonesia. Jika ancaman ini betul-betul diwujudkan, siap-siap saja para penggemar mi instant merogoh kocek lebih dalam  karena harganya pasti akan jadi lebih mahal.

Sesungguhnya bukan hanya mi instant yang bakal terkena imbas dari kebijakan protektif yang diusung Presiden Trump itu. Namun juga produk makanan berbahan dasar tepung dan gandum seperti roti dan kue-kuean. Pasalnya, sebagian besar bahan baku industri makanan kita masih bergantung pada impor, terutama impor gandum dari AS.

 border=

Kekhawatiran industri makanan dan minuman bakal terpengaruh seandainya perang dagang yang dikobarkan Trump merembet ke Indonesia, disuarakan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman.

“Kalau industri sendiri yang terkena dampaknya itu yang berbahan tepung, terigu, itu kan banyak, paling enggak roti, mi instan. Susu juga karena kan dia 80% nya masih impor,” jelas Adhi akhir pekan ini di Jakarta.

Baca Juga : Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

 border=

Kondisi ini pada akhirnya akan merepotkan industri makanan dan minuman nasional. Menurut Adhi, jika berlarut-larut, pengusaha mau tak mau akan mengambil opsi menaikkan harga produknya.

Meski demikian, besaran kenaikan harga belum bisa dihitung pasti karena menunggu perkembangan situasi global dan tindakan konkrit Gedung Putih.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mewanti-wanti bahwa fasilitas GSP (Generalized System of Preference) yang diberikan ke Indonesia tengah ditinjau ulang. Hal ini karena neraca perdagangan AS mengalami defisit mengingat ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam itu lebih banyak.

GSP adalah kebijakan AS berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara berkembang. Karena itu, GSP sangat menguntungkan Indonesia dalam menjalin hubungan dagang dengan AS.

Kurang lebih ada 124 produk asal Indonesia yang saat ini tengah dievaluasi. Jika perlakuan khusus berupa keringanan bea masuk yang diberikan ke Indonesia dicabut, besar kemungkinan Indonesia akan membalas dengan mengurangi impor atau bahkan mengenakan tarif bea masuk yang lebih tinggi terhadap berbagai produk AS.

Beberapa produk impor dari AS yang bisa diretaliasi di antaranya adalah produk pertanian seperti kedelai, jagung, gandum, dlsb.

Baca Juga : Geser AS, Rusia Kini Super Power Baru di Sektor Pertanian

Momentum ancaman perang dagang ini mustinya membuat pemerintah kreatif dan tak terlalu bergantung pada sejumlah produk dari negara tertentu. Kalau ada yang bisa dimaksimalkan untuk diproduksi di dalam negeri, ya harus kerja keras untuk mewujudkannya. Butuh proses dan waktu, memang. Tapi itu jauh lebih baik memulainya sekarang ketimbang kita gampang panik ketika ada gangguan suplai dari negara produsen.

Kalau pun ada produk atau komoditas yang sulit diproduksi di dalam negeri, buka peluang selebar-lebarnya berbisnis dengan negara-negara produsen lainnya. Gandum, misalnya. Di luar AS sebagai eksportir utama gandum dunia, beberapa tahun terakhir ini bermunculan negara produsen gandum seperti Uni Eropa, Rusia, Ukraina, China dan India.

Semakin banyak alternatif semakin baik. Dengan demikian saat ada negara yang memberlakukan syarat aneh-aneh dalam urusan jual beli, kita akan lebih leluasa menerapkan hukum dagang universal :

“Situ jual, sini beli. Bayar. Habis perkara.”

Panen Gandum di Kaliningrad
(Panen gandum di Kaliningrad, Rusia. Pasca bubrahnya Uni Sovyet, negara beruang merah itu kini menjelma menjadi salah satu super power penghasil gandum di dunia. Indonesia semestinya memperbanyak alternatif negara pemasok gandum dan turunannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bergantung pada satu atau dua negara terlalu beresiko. Lebih-lebih jika negara tersebut dikomandoi oleh pemimpin doyan ribut model Trump. Image : ria.ru)

Baca Juga : Indonesia Ingin Bangun Kemitraan Sejajar dengan EU Soal Kelapa Sawit

Di sisi lain, potensi konflik dagang antar negara juga tidak bisa dieliminasi sama sekali. Jika potensi konflik itu meningkat jadi ajang saling balas mempersulit lalu lintas produk antar negara seperti yang terjadi saat ini, pastilah kemudian ada yang paling parah terkena imbasnya.

Maka jangan kaget dan ngomel-ngomel ketika suatu hari Sampeyan membeli sebungkus mi instant di warung, ternyata harganya naik dua kali lipat.

Itu bukan karena si penjual kemaruk pingin untung gede. Tapi dari pabrikan harganya memang berubah drastis gara-gara pasokan gandum dari negara eksportir tak selancar biasanya. Seretnya pasokan gandum otomatis mengerek pula harga tepung yang menjadi bahan baku utama mi instant.

Itulah imbas dari perang dagang, seandainya benar-benar terjadi, yang mau tak mau harus kita terima. Yang lebih dominan adalah faktor eksternal akibat ada pemimpin negara besar yang lebih mengedepankan gaya koboi daripada ngobrol baik-baik ketika bermasalah dengan negara lain.

Sayangnya, logika sederhana ini kerap tiba-tiba menjadi sangat pelik di tangan “tukang gorengan”. Bagaimana tidak pelik, kalau soal mi instant ini malah nyasar ke pembangunan infrastruktur sia-sia, negara bubar, sertifikat boongan, invasi TKA, utang segunung, dan aneka isu absurd lainnya. Absurd karena memang tak jelas kaitan antara satu isu dengan isu lainnya, plus data yang disodorkan pun terkesan data asal comot dan bernuansa cocoklogi.

Mustinya yang paling murka dengan kemungkinan naiknya harga mi instant adalah para penghuni kos-kosan. Teman setia di kala bokek ini pun kena imbas perang dagang. Wajarlah kalau kemudian mereka saking desperate-nya bisa saja bikin tagar #impeachsijambul.

Atau yang paling realistis, #janganganggumikami

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan