border=

Industri Kopi Nasional Harus Lebih Agresif Pasarkan Produk ke Pasar Global

pelaku industri kopi nasional harus lebih agresif
(Berbagai produk kopi Indonesia ketika mengikuti pameran kopi di Mesir. Image : kemlu.go.id)

Pomidor.id – Indonesia merupakan produsen kopi nomor empat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Namun posisi itu tidak serta merta dinikmati para pelaku industri kopi nasional, lebih-lebih mereka yang berjibaku langsung di sektor hulu. Para petani kopi.

Kondisi ini terjadi karena banyak petani kopi Indonesia dinilai tidak begitu paham seluk beluk perdagangan kopi global. Sementara eksportir dalam negeri sendiri dianggap kurang agresif sehingga keuntungan perdagangan kopi ke mancanegara lebih banyak jatuh ke tangan broker-broker internasional seperti Singapura.

 border=

Hal itu pula yang terjadi di Mesir. Di negeri pharaoh itu kopi asal Indonesia memiliki pangsa pasar yang sangat .luas. Lebih dari 80 persen kopi yang beredar di Mesir dipasok dari tanah air. Ironisnya, tak banyak eksportir Indonesia yang menjadi mitra bisnis importir kopi di sana.

“Masih sulit mencari eksportir kopi Indonesia yang memang benar-benar orang Indonesia,” ujar pebisnis kopi asal Mesir, Khaled Hamdy saat bertemu Dubes Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzy, di Kairo, (9/7).

Baca Juga  : Ekspor Kopi ke Arab Saudi Masih Terbuka Lebar

 border=

Hamdy mengatakan kebanyakan kopi produksi Indonesia justru dipasok dari negara lain.

“Angka impor kopi Mesir dari Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dari nilai aslinya karena banyak penampung-penampung kopi justru dimainkan negara lain seperti Singapura,” jelas Hamdy dalam pers rilis Berita Perwakilan Kementerian Luar Negeri.

Ia menjelaskan penyebab utamanya adalah karena banyak petani kopi Indonesia tidak familiar mengenai seluk beluk bisnis internasional. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh eksportir yang notabene adalah broker-broker asing.

Maka sekalipun komoditas kopi menjadi primadona di Mesir, kondisi ini tidak berdampak banyak bagi tumbuhnya pengusaha kopi asal Indonesia.

“Para petani membutuhkan uang tapi tidak tahu cara menjaga kualitas kopi, sementara eksportir kuasai bisnis dan pandai menjaga kualitas kopi,” kata peraih Primaduta Award 2017 ini.

Baca Juga : Meraup Dolar dari Kopi Olahan

Menanggapi hal tersebut, Duta Besar Helmy Fauzy mengatakan pemerintah sudah berupaya untuk meningkatkan industri kopi nasional, termasuk pemberdayaan petani kopi. Presiden Joko Widodo juga memberi perhatian khusus pada pemangkasan birokrasi serta penyederhanaan ijin usaha agar tumbuh lebih banyak pelaku usaha baru.

Ia berjanji menyampaikan masukan dari importir Mesir kepada kementerian terkait.

“Meningkatkan kesejahteraan petani memang tidak mudah dan bukan upaya instant. Tapi pemerintah terus berupaya dan meyakini melalui perbaikan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan