border=

Kemendag Dorong Perluasan Pasar Ekspor Produk Organik Indonesia

potensi produk organik indonesia
(Lanskap pertanian organik. Dengan luasan lahan serta iklim yang relatif mendukung, Indonesia mustinya bisa menjadi salah satu produsen utama produk organik dunia. Image : eco-business.com)

Pomidor.id – Produk organik Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional. Namun potensi ini harus didukung strategi pemasaran yang tepat agar para pelaku usaha dapat menggenjot ekspor produk tersebut ke manca negara.

Demikian pernyataan Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan, Marolop Nainggolan dalam sebuah seminar beberapa waktu lalu di Jakarta.

 border=

Dalam seminar bertema “Pemasaran Produk Organik Indonesia” itu, Marolop mengatakan para pemangku kepentingan dapat berdiskusi untuk mencari solusi terbaik agar produk organik menjadi salah satu produk yang paling banyak diekspor.

“Produk organik Indonesia yang memiliki peluang besar untuk diekspor antara lain beras, kopi, madu, coklat, mete, gula aren kelapa, minyak kelapa, udang, the dan vanila,” tutur Marolop.

Baca Juga : Ekspor Gula Serbuk Organik Tembus Pasar Eropa

Lebih lanjut Marolop menambahkan, besarnya potensi produk organik di Indonesia ditandai dengan meningkatnya jumlah pertanian organik dari waktu ke waktu, bertambahnya toko produk organik di swalayan dan rumah makan, meningkatnya jumlah organisasi dan konsumen organik, serta berdirinya Lembaga Sertifikat Organik (LSO).

Potensi tersebut sejalan dengan pasar produk organik dunia yang tumbuh pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Di tahun 2018, pasar produk organik diperkirakan mencapai USD 161,5 milyar dengan laju pertumbuhan 15 persen per tahunnya.

Ini merupakan lonjakan signifikan mengingat dua tahun sebelumnya, tahun 2016, pasar produk organik nilainya baru sebesar USD 93,1 milyar.

Lima negara produsen utama produk organik adalah India, Uganda, Meksiko, Ethiopia dan Filipina. Sedangkan tiga negara utama pasarnya adalah Amerika Serikat, Jerman dan Perancis.

“Beberapa negara berkembang sudah mulai mempromosikan produk organik karena menguntungkan produsen dan konsumen. Selain itu, konsumen juga lebih menghargai produk hasil pertanian organik dibandingkan produk non organik. Hal inilah yang harus dapat dimanfaatkan para pelaku usaha untuk memasuki pasar ekspor,” jelas Marolop.

Baca Juga : Indonesia Berpeluang Jadi Eksportir Utama Beras Organik

Kementerian Perdagangan sendiri di tahun 2018 telah menetapkan target pertumbuhan ekspor non migas sebesar 11 persen dengan strategi peningkatan ekspor melalui perluasan pasar internasional.

“Ke depan, ekspor produk organik Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk mencapai target ekspor non migas tersebut,” tutup Marolop.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan