Petani Kulit Putih Afsel Berencana Bedol Desa ke Rusia

demo petani kulit putih afsel
(Demonstrasi menentang kekerasan terhadap petani di Afrika Selatan. Belum lama ini ribuan petani kulit putih Afsel mengajukan suaka kepada pemerintah Rusia untuk menghindari kekerasan yang mengancam jiwa mereka. Image : scorners.eu)

Pomidor.id – Delegasi petani kulit putih Afrika Selatan yang terdiri dari 30 keluarga, belum lama ini tiba di Stavropol, Rusia. Kedatangan mereka di kawasan pertanian selatan Rusia itu untuk menghindari kekerasan yang kian meningkat intensitasnya di negara asal. Demi menghindari kekerasan yang bahkan sudah mengancam jiwa tersebut, mereka berencana bedol desa atau memboyong sebagian keluarga petani kulit putih Afsel untuk menetap secara permanen di Rusia.

Link Banner

Kanal Televisi Rossiya 1 melaporkan sekitar 15 ribu orang Boer, keturunan pemukim Belanda di Afrika Selatan, ingin pindah ke Rusia.

Menurut salah seorang delegasi, kekerasan yang sudah di luar batas serta rencana pemerintah mengambil alih lahan mereka, membuat tak ada pilihan lain selain migrasi ke tempat yang lebih aman.

“Ini soal hidup dan mati. Begitu banyak kekerasan yang kami alami. Parahnya, gelombang kekerasan itu malah digerakkan oleh para politisi,” kata Adi Slebus kepada media di Rusia.

Baca Juga : Petani Afsel Sewa Mantan Pasukan Khusus Israel untuk Latih Bela Diri

“Iklim di sini (Stavropol) mendukung. Dan tanah di sini diciptakan Tuhan untuk pertanian. Sangat menyenangkan,” imbuhnya.

Konflik antara petani kulit putih Afsel dengan warga kulit hitam kian meruncing di bawah pemerintahan Presiden Cyril Ramaphosa. Ramaphosa berjanji mengembalikan tanah yang telah dimiliki petani kulit putih sejak tahun 1600-an kepada warga kulit hitam di negara tersebut.

Pemerintah beralasan hal itu untuk mengakhiri apa yang disebut sebagai warisan apartheid. Segregasi rasial yang tajam kala itu membuat sebagian besar lahan di Afrika Selatan berada di bawah penguasaan minoritas kulit putih.

Namun sejumlah kelompok hak asasi manusia mengingatkan kebijakan pemerintah tersebut dapat memicu kekerasan.

Data yang dirilis Afriforum, selama kurun waktu dua tahun saja (2016-2017) telah terjadi 74 kasus pembunuhan dan 638 serangan yang menyasar petani kulit putih Afsel.

land or death
(Warga kulit hitam mengintimidasi petani kulit putih Afsel dengan berbagai cara, di antaranya mengenakan kaos bertuliskan “Land or Death”. “Lahan atau Mati’. Image : defendevropa.org)

Baca Juga : Geser AS, Rusia Kini Super Power Baru di Sektor Pertanian

Para petani imigran ini menyatakan siap memberikan kontribusi pada sektor pertanian Rusia yang kini tengah booming. Pernyataan tersebut bukan omong kosong belaka. Pasalnya selain membawa keterampilan bercocok tanam, masing-masing keluarga petani juga berbekal USD 100 ribu untuk biaya sewa dan menggarap lahan.

Meski belum ada rilis resmi dari Pemerintahan Presiden Putin, namun kedatangan imigran petani kulit putih Afsel ini tampaknya akan diterima dengan tangan terbuka.

Rusia memiliki 43 juta hektar lahan pertanian yang belum tergarap. Baru-baru ini pemerintah negeri beruang merah itu memberikan cuma-cuma lahan kepada warga Rusia yang mau bertani. Program yang dimulai sejak tahun 2014 menuai sukses besar dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian Rusia.

Be the first to comment

Leave a Reply