border=

Disparitas Harga Sayur dan Buah Beratkan Produsen dan Konsumen

Disparitas harga sayur dan buah terlalu tinggi
(Sayur dan buah yang dijual di supermarket di Perancis. Perbedaan harga sayur di tingkat petani/produsen dengan di tingkat konsumen dianggap sudah tidak wajar lagi. Image : connexionfrance.com)

Pomidor.id – Sudah lama produsen dan konsumen sayur dan buah-buahan menjadi obyek para pedagang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Tak peduli negara besar atau negara kecil, posisi bakul atau pedagang selalu di atas angin. Ini pula yang terjadi di Perancis. Disparitas harga dari produsen ke konsumen atas berbagai produk pertanian di negara itu bahkan bisa lebih ekstrem dari di Indonesia.

Tingginya harga sayur dan buah di Perancis belakangan ini, lebih-lebih di kota besar seperti Paris, dianggap sudah menyalahi nalar. Selain disparitasnya yang terlalu njomplang dengan biaya produksi yang sesungguhnya, harga yang ditetapkan sebagian besar supermarket serta toko sayur dan buah dianggap mencekik konsumen saking mahalnya.

 border=

Menurut Federasi Sayur-sayuran Perancis, Légumes de France, harga sayur dan buah di Perancis betul-betul “tidak nyambung dengan realitas”. Ini karena mahalnya harga yang harus dibayar konsumen sama sekali tidak sebanding dengan yang diperoleh produsen.

Presiden Légumes de France, Jacques Rouchaussé, mengatakan bahwa supermarket telah “menipu” konsumen dengah menetapkan harga yang jauh dari biaya riil produksi sayur dan buah. Hal yang sama juga berlaku pada sayur dan buah-buahan impor yang harganya lebih tidak masuk akal lagi.

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Musti Beli Sayur & Buah dari Petani Lokal

 border=

Rouchaussé menuding semuanya ini dilakukan pihak supermarket demi mengejar keuntungan besar.

“Pasokan dan permintaan tidak seimbang di sini. Harga riil yang musti dibayar konsumen ‘tidak nyambung’ dengan biaya produksi,” ungkap Rouchaussé.

Ia kemudian menunjuk harga rata-rata per biji melon yang mencapai 5.50 Euro (Rp 92 ribu) dan harga tomat yang dijual 8 Euro (Rp 133 ribu) per kilo.

“Padahal di tingkat produsen atau petani langsung, sebiji melon hanya dihargai antara 40 centimes (Rp 10 ribu) hingga 60 centimes (Rp 15 ribu). Sedangkan tomat dari petani harganya tak lebih dari 80 centimes (Rp 20 ribu),” jelas Rouchaussé.

Centime adalah bahasa Perancis untuk sen. Centime merupakan pecahan mata uang Franc sebelum pemakaian Euro.

Rouchaussé menambahkan, disparitas harga ini sangat mengejutkannya.

“Saya sampai jatuh dari kursi saking kagetnya melihat perbedaan harga yang begitu menyolok ini,” ujarnya.

Ia mengakui memang ada beberapa produk sayur dan buah yang sensitif terhadap perubahan cuaca sehingga wajar harganya fluktuatif. Ada pula yang harganya naik turun akibat penyesuaian pasokan dan permintaan pasar.

Les Parisiens berendam
(Les Parisiens mendinginkan diri dengan berendam di kolam depan Menara Eiffel. Suhu yang terlalu tinggi di musim panas tahun ini membuat kebutuhan asupan sayur dan buah juga lebih banyak dari biasanya. Namun hal itu sulit tercapai karena mahalnya harga sayur dan buah, terutama di kota-kota besar Perancis. Image : lefigaro.fr)

Baca Juga : Petani Perancis Rentan Bunuh Diri Akibat Faktor Ekonomi

Meski demikian, ia menegaskan ketika harga di tingkat produsen murah, maka harga di tingkat konsumen pun mustinya juga turun.

“Jika tidak, hal itu akan membuat masyarakat enggan mengkonsumsi sayur dan buah. Padahal di saat hot summer seperti saat ini, mereka butuh lebih banyak makan yang segar-segar dan banyak serat. Tapi karena harganya terlampau mahal, hal itu sulit terjadi,” keluh Rouchaussé.

Waduh, Monsieur. Mbok sesekali studi banding ke Indonesia. Disparitas harga edan-edanan juga terjadi di sini. Termasuk yang dilakukan jaringan supermarket dari negara Sampeyan, lho.

Makanya jangan suka baper lah, Monsieur. C’est le capitalisme.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan