border=

Kemenperin Kembangkan Arang Bambu Jadi Komponen Baterai

Arang bambu
(Arang bambu dapat menjadi komponen baterai. Selain ramah lingkungan, bahan bakunya juga mudah didapat. Image : arangbambo.com)

Pomidor.id – Balai Riset Kementerian Peridustrian terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pelaku industri. Yang terbaru adalah inovasi Balai Riset dan Standarisasi Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang menjadikan arang bambu sebagai komponen baterai.

Penggunaan arang bambu sebagai pengganti grafit pada komponen baterai karena bahan bakunya melimpah di Kalsel. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu petung. Demikian diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, di Jakarta, Selasa (14/8).

 border=

Menurut Ngakan, selama ini komponen baterai kering yang umum digunakan berasal dari bahan grafit. Sementara grafit merupakan mineral tambang alam yang bersifat tidak dapat diperbaharui. Potensi tambang grafit di Indonesia terdapat di Pulau Sumatera dengan sisa produksi tambang sekitar 2 juta ton atau dengan luasan area 30 hektare.

Untuk mengurangi konsumsi karbon yang bersumber dari mineral alam, perlu dicari bahan baku yang mudah diperbarukan seperti bambu yang dapat dibudidayakan dengan waktu tanam sekitar 4-5 tahun.

“Selain itu, bambu memiliki komponen lignoselulosa tinggi sehingga kadar karbon dan oksigen melebihi 90 persen dari berat keseluruhan,” ujar Ngakan.

 border=

Baca Juga : Biofoam Alternatif Pengganti Styrofoam yang Lebih Ramah Lingkungan

Arang bambu dibuat melalui metode pirolisis, yaitu bambu dikarbonisasi pada suhu 500-600oC dengan menggunakan peralatan khusus. Selanjutnya, arang yang dihasilkan diaktivasi memakai bahan kimia asam dan basa serta diberikan tambahan logam untuk menaikkan kapasitas listriknya. Logam yang digunakan adalah logam seng (Zn) dan nikel (Ni).

Kemudian, dibuat partikel nano menggunakan high energy mechanic (HEM) berbasis Ball Mill. Karbon yang dihasilkan diuji struktur dan sifatnya menggunakan Pressure Swing Adsorption (PSA), Scanning Electron Microscopy (SEM), X-ray diffraction (XRD), dan konduktivitas.

Bambu petung
(Bambu petung sebagai bahan baku arang bambu, masih banyak dijumpai di daerah pinggiran Malang. Image : pomidor.id)

Ngakan meyakini, arang bambu akan mempunyai nilai atau kapasitas listrik yang lebih optimal apabila dapat dibentuk partikel ukuran nano.

Pada tahap ini, masih dilakukan pengembangan lanjutan. Daya Hantar Listrik (DHL) paling tinggi diperoleh pada arang bambu betung dengan aktivator KOH dan di-dopping oleh logam Zn dengan nilai DHL 7,02 mS/cm, imbuhnya.

Baca Juga : Ilmuwan Ciptakan Sandal dari Bahan Daur Ulang

Potensi pengembangan bahan baku baterai ini seiring pula dengan tingginya penggunaan smartphone atau gadget lain.

Merujuk data Kementerian Komunikasi dan Informatika, konsumen smartphone di Indonesia pada tahun 2018 akan melampaui 100 juta orang atau menjadi negara pengguna aktif ponsel pintar terbesar keempat di dunia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan