Kesadaran Pelaku IKM Akan Pentingnya Sertifikasi Halal Masih Rendah

Pentingnya sertifikasi halal bagi IKM
(Niskha Sandriana, kedua dari kiri, bersama dengan Kasi Industri Makanan dan Minuman Dinas Perindustrian Kota Malang, Suswati, Pelaku IKM, Heri, dan Ketua Halal Qualified Industry Development Universitas Brawijaya Malang, Sucipto. Keempatnya hadir dalam pelatihan mengenai pentingnya sertifikasi halal bagi Industri Kecil dan Menengah, khususnya di Kota Malang. Image : pomidor.id)

Pomidor.id – Kecenderungan para pelaku Industri Kecil dan Menengah yang mengabaikan pentingnya sertifikasi halal sebenarnya merugikan mereka sendiri. Pasalnya, dalam jangka panjang mereka akan sulit bersaing jika enggan mencantumkan informasi halal tidaknya produk mereka. Apalagi di era diberlakukannya perdagangan bebas antar negara ASEAN.

Hal ini disampaikan oleh Nishka Sandriana, STP. MAP, Penyuluh di Dinas Perindustrian Pemerintah Kota Malang, saat menghadiri acara Pelatihan Penguatan Daya Saing Food Souvenir dan Hotel Syariah Sebagai Elemen Penunjang Wisata Halal di Kota Malang”, Senin, (20/8).

Pada acara yang digelar di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya tersebut, Niskha berujar bahwa pelaku IKM menganggap bahwa produk yang mereka hasilkan sudah cukup memberikan kepuasan bagi target market mereka.

“Konsumen atau pembeli tidak menuntut banyak akan kualitas dari produk olahan pangan, sehingga penjual pun menganggap bahwa tingkat pembelian yang memenuhi target sudah cukup,” paparnya.

Baca Juga : Urgensi Sertifikasi Halal Bagi Industri Mamin dan Restoran di Malang Raya

Sejauh ini, Dinas Perindustrian Pemkot Malang sudah sering melakukan sosialisasi, dengan menggandeng pihak universitas-universitas di kota Malang, bahkan juga dengan Dinas Perindustrian Propinsi Jawa Timur.

Sayangnya, upaya sosialisasi yang dilakukan masih belum membuat mayoritas pelaku IKM tergerak untuk segera mengurus sertifikasi halal.

“Mereka memang telah menerima informasi yang lengkap. Namun ada keengganan untuk mengurus sertifikasi, terkait dengan banyaknya lampiran yang harus disertakan serta memenuhi prosedur-prosedur yang disyaratkan,” tutur Niskha.

Ia menambahkan, rendahnya kesadaran sebagian besar para pelaku IKM melakukan sertifikasi halal pada produk-produk mereka ini akan berakibat merugikan dalam jangka panjang.

Sebab, dengan diberlakukannya Masyakarat Ekonomi ASEAN atau MEA, persaingan tidak hanya datang dari dalam negeri. Melainkan juga dari negara-negara tetangga. Banyak pelaku industri kecil dan menengah dari negara-negara ASEAN yang sudah menyadari pentingnya sertifikasi halal untuk menggaet pasar yang lebih luas.

Foto bersama peserta pelatihan
(Peserta pelatihan sertifikasi halal di Universitas Brawijaya, berfoto bersama. Image : pomidor.id)

Baca Juga : Malang Pilot Project Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

Menurut Niskha, upaya sosialisasi yang dapat menjangkau semua pemilik industri kecil dan menengah harus terus ditingkatkan, di mana hal ini tidak dapat dilakukan oleh Dinas Perindustrian saja. Pelatihan serta penyuluhan akan pentingnya mutu makanan dan minuman olahan, termasuk sertifikasi halal, akan terus dilakukan secara kontinyu dengan menggandeng berbagai pihak.

“Kami, dari Dinas Perindustrian, berharap acara seperti pelatihan ini ditingkatkan frekuensinya. Sekaligus tetap menjaga komunikasi antar anggota komunitas IKM sehingga semua anggota dapat menerima informasi penting demi kemajuan usaha mereka,” pungkasnya.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan