border=

Perancis dan Belgia Heboh Saling Klaim Penemu French Fries

French Fries
(Dilumuri saus tomat atau pun saus sambel tetap nikmat. Sayangnya, french fries menjadi biang keributan antara dua negara Eropa, Perancis dan Belgia, yang saling klaim sebagai penemu pertama makanan populer ini. Image : quora.com)

Pomidor.id – Seolah mengulang semifinal Piala Dunia 2018 di Rusia, Belgia kembali berseteru dengan Perancis. Kali ini bukan di lapangan bola, melainkan di dapur. Ya, dua negara bertetangga di Eropa itu kini tengah ribut saling klaim sebagai penemu french fries, olahan kentang goreng paling ngetop sejagad.

Saling klaim ini sudah lama terjadi. Berulang-ulang pula. Heboh sesaat, kemudian berangsur-angsur mereda tanpa kejelasan absolut negara mana sesungguhnya yang menemukan resep olahan kentang yang saat ini kita kenal sebagai french fries tersebut.

 border=

Namun pekan lalu, kegaduhan kembali terjadi setelah harian terkemuka Perancis, Le Figaro, mengangkat kisah provokatif dengan judul, “French fries bukan bikinan orang Belgia.”

“Suka atau tidak, french fries yang kita kenal hari ini adalah kudapan asli orang Paris,” ujar sejarawan makanan, Pierre Leclercq, dalam wawancara khusus dengan harian tersebut.

Seperti menyiram perasan air jeruk campur cuka ke luka lama yang hampir mengering, publikasi Le Figaro ini segera saja memantik reaksi keras warga Belgia. Apalagi wawancara itu dimuat tepat saat International Belgian Fry Day, salah satu hari nasional yang diperingati seluruh rakyat Belgia.

 border=

Umumnya orang Belgia menganggap bahwa kentang yang digoreng kecil-kecil berbentuk persegi panjang berasal dari Namur, daerah selatan negara itu. Selain kentang, penduduk setempat juga terkenal sangat menggemari ikan goreng. Jika dirunut ke belakang, kebiasaan goreng menggoreng itu diwariskan turun temurun sejak empat abad lalu.

Masalah baru muncul ketika Perang Dunia I berkecamuk. Tentara Amerika yang membantu Kerajaan Belgia melawan Jerman dan sekutunya, salah menyebut kentang goreng yang disuguhkan warga lokal sebagai “French Fries”. Sayangnya, penyebutan yang keliru itu ternyata terus melekat dan populer hingga hari ini.

Itu versi dari Belgia.

Baca Juga : Jaringan McDonald di Rusia Mulai Gunakan Kentang Lokal

Sedangkan Leclercq, mengatakan klaim orang Belgia itu mengada-ada. Pasalnya, tanaman kentang yang aslinya dari daratan Amerika, baru dikenal luas bangsa Eropa abad ke-18 atau tiga abad yang lalu. Logikanya, bagaimana mungkin penduduk Namur menggoreng barang yang belum ada.

Leclercq menjelaskan, di abad ke-18, lemak (sarana untuk menggoreng) sangat terbatas dan hanya bisa diakses orang-orang kaya. Bahan-bahan makanan juga teramat langka. Orang-orang menghemat makanan dengan sesedikit mungkin membuang bagiannya, termasuk kulit dan lemak.

Enjoyin Aja
(Perancis menganggap klaim Belgia mengada-ada. Sebaliknya Belgia menuduh Perancis songong karena asal klaim sebagai penemu french fries. Padahal bagi si Mbak, bodo amat dengan saling klaim itu. Kentang goreng ya kentang goreng. Enjoyin aja. Image : tumblr.com)

Sehingga kecil kemungkinan penduduk Eropa saat itu yang umumnya tinggal di pedesaan, sempat-sempatnya membuat makanan model kentang goreng. Apalagi untuk menggorengnya dibutuhkan lemak (minyak) dalam jumlah banyak.

Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Karena dihuni banyak bangsawan dan orang-orang kaya, kebutuhan akan makanan tak hanya sekedar untuk mengenyangkan perut tapi juga rasa. Maka kemudian munculah makanan gorengan lezat yang disebut “pomme Pont-neuf”.

Inovasi makanan ini dijual kepada penonton teater oleh vendor gerobak dorong di sekitar jembatan tertua Paris, Pont Neuf, di akhir abad ke-18. Bisa jadi merujuk pada nama jembatan tersebut, gorengan yang sebagian besarnya berbahan kentang ini lantas dinamakan “pomme Pont-neuf”.

“Tak jelas siapa penemu kentang goreng. Tapi yang pasti pekerjaannya adalah penjual makanan keliling. Dan mengingat lokasi jualannya, kami yakin ia adalah warga Paris,” tutur Leclercq.

Baca Juga : Belgian Blue Bukan Sapi GMO, Tapi Murni Sapi Hasil Silangan

Penuturan Leclercq ini langsung dibantah Belgia. Apalagi frietkoten, gorengan asli Belgia yang di antaranya mirip french fries, mudah ditemui dijual di jalan-jalan negara itu.

“Kami ini sudah biasa dianggap rendah orang-orang Perancis,” ucap Bernard Lefèvre, Presiden Asosiasi Frietkoten Belgia kepada The Telegraph.

“Orang Perancis memang songong. Klaim french fries adalah milik mereka tak lebih dari ungkapan rasa malu karena makanan sehebat itu ternyata bukan orisinil temuan mereka,” ketusnya.

Untuk memperkuat argumennya, Lefèvre menunjuk french fries tradisional yang dibuat dengan kentang yang tumbuh di Jerman Selatan dan Belanda, bukan di Perancis. Lagipula kentang itu awalnya digoreng dengan lemak daging sapi, bukan minyak.

Saking jengkelnya dengan Perancis yang ngeyel mengaku-aku french fries adalah temuan warganya, Lefèvre kemudian berseloroh :

“Tak ada yang mengklaim menemukan air. Tapi ada orang yang menciptakan spa. Kentang tidak berasal dari Perancis atau Belgia, tapi dari Peru. Orang Belgialah yang pertama kali berinovasi membuat kentang menjadi makanan yang sempurna. Kentang goreng!”

Saat ini Belgia mengajukan petisi ke UNESCO untuk menetapkan kentang goreng atau french fries sebagai ikon resmi produk warisan budaya negaranya.

Baca Juga : Nugget Singkong, Penganan Rakyat Bercita Rasa Kekinian

Bagi kita orang Indonesia mungkin menganggap saling klaim antara Perancis dan Belgia itu berlebihan dan ga penting banget.

Sambal Goreng Kentang
(Di Indonesia, varian paling terkenal dari olahan kentang adalah sambal goreng kentang atau sambal goreng ati. Rasanya tambah nikmat jika banyak campuran udang dan petai. Kalau kuliner yang ini mustahil deh diklaim Perancis atau Belgia. Justru yang patut diwaspadai itu lirikan dari negara tetangga yang kadang suka sembarangan main klaim. Image : tasikasik.com)

Tapi jangan lupa, beberapa tahun yang lalu kita juga pernah ribut dengan Malaysia akibat negara jiran itu seenaknya mengklaim rendang adalah kuliner asli negara jiran tersebut. Protes masyarakat Indonesia atas klaim sepihak Malaysia itu mirip dengan apa yang terjadi sekarang antara Perancis dan Belgia.

Makanan memang bukan semata sarana penghilang rasa lapar, tapi juga produk budaya dan identitas sebuah bangsa.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan