border=

Desa Ini Larang Warganya Memelihara Kucing

Dilarang memelihara kucing
(Demi menjaga habitat satwa liar asli, sebuah desa di pesisir Selandia Baru mengajukan aturan yang melarang warganya memelihara kucing. Image : youtube.com)

Pomidor.id – Sebuah desa kecil di pesisir Selandia Baru bakal menerapkan aturan yang melarang warganya memelihara kucing atau mengembangbiakkannya. Alasannya, kucing termasuk binatang yang dapat mengancam ekosistem alami di desa tersebut.

Omaui, sebuah desa pesisir di wilayah Southland, Selandia Baru, bisa jadi bakal menjadi satu-satunya tempat di dunia yang mempunyai aturan melarang warganya memelihara atau mengembangbiakkan kucing. Kalau pun ada yang sudah terlanjur memiliki, kucing-kucing mereka harus didaftarkan untuk kemudian dilakukakan sterilisasi.

 border=

Selain itu, microchip juga harus dipasang untuk memantau keberadaan kucing peliharaan mereka.

Tak hanya kucing, larangan juga berlaku pada hewan lain seperti musang, babi, kambing, landak, hamster, dlsb. Dalam aturan yang saat ini tengah digodok itu ditegaskan bahwa semua hewan atau tumbuhan yang bukan habitat asli dilarang dipelihara atau dibawa ke sana.

Tapi khusus larangan memelihara kucing ini yang paling mengundang kontroversi karena kucing merupakan binatang rumahan yang banyak dipelihara orang.

 border=

Baca Juga : New York Larang Gajah Sebagai Hewan Pertunjukkan

Dewan Konservasi Regional untuk Lingkungan Southland menyatakan larangan memelihara hewan-hewan di atas bertujuan untuk melindungi satwa liar asli di kawasan Omaui tersebut.

Sebagai wilayah yang agak terisolasi, kehidupan satwa liar di Selandia Baru sangat unik dan berevolusi selama jutaan tahun tanpa gangguan mamalia yang bersifat predator. Karena itu, kehadiran kucing dan hewan dari luar lainnya dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan puluhan jenis burung dan reptil asli Omaui

John Collins, Ketua Yayasan Perlindungan Satwa Asli Omaui, mengatakan larangan memelihara kucing semata-mata demi melindungi habitat asli di sana.

Sementara Ali Meade dari Konservasi Lingkungan Southland menjelaskan bahwa aturan tersebut tidak serta merta langsung meniadakan populasi kucing di Omaui. Warga yang terlanjur memiliki kucing dipersilahkan tetap memeliharanya.

“Monggo tetap dipelihara sebaik mungkin. Tapi kalau sudah mati, ya Sampeyan jangan cari kucing yang baru lagi,” ujar Meade.

Baca Juga : Kabar Duka, Orang Utan Tertua di Dunia Tutup Usia

Ketika ditanya mengapa tidak mengatur saja kucing-kucing boleh dipelihara tapi hanya di dalam rumah ketimbang melarangnya secara total, Meade menjawab lugas.

“Lha itu kan maunya warga sendiri. Kami hanya meneruskan keinginan mereka.”

Meski terbilang aneh, aturan memelihara kucing ini tak berdampak luas. Pasalnya, penduduk Omaui sendiri hanya 35 orang. Sedangkan jumlah kucing yang ada di desa itu saat ini tak lebih dari 8 ekor. Diperkirakan dua atau tiga tahun lagi Omaui baru akan “bebas kucing”.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan