border=

Impor Beras Musti Pertimbangkan Timing Agar Tak Rugikan Petani

Impor beras pertimbangkan timing
(Kendati impor beras masih dibutuhkan, namun tetap harus mempertimbangkan waktu yang tepat demi melindungi petani. Image : kedaipena.com)

Pomidor.id – Pernyataan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita di CNN Indonesia, bahwa tanpa impor beras keadaan Indonesia dapat mengalami chaos memang ada benarnya. Pasalnya, sampai saat ini Indonesia masih defisit beras. Sehingga impor perlu dilakukan untuk menutup kebutuhan dalam negeri.

Namun meski demikian, impor beras tetap harus mempertimbangkan timing atau waktu yang tepat. Tujuannya adalah untuk melindungi beras hasil panen petani. Jika tidak, seperti yang terjadi di awal tahun 2018, impor yang tiba dua minggu menjelang panen membuat harga beras petani turun.

Demikian rilis pernyataan peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman, (Jumat 14/9). Ia mengatakan impor masih menjadi instrumen penting dalam mengendalikan harga beras di Tanah Air.

 border=

“Mengingat beras itu komoditas esensial, pemerintah patut menjaga stok beras nasional untuk mencegah terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga. Berkaca pada impor Januari kemarin, Pemerintah melalui Bulog patut untuk melakukan impor dengan timing yang tepat. Ini agar impor tidak meredam harga beras terlalu rendah dan merugikan petani yang dapat terjadi apabila dilakukan saat masa panen,” jelas Assyifa.

Baca Juga : Impor Beras Belum Perlu, Swasembada Harus Dijaga

Berdasarkan data BPS, terdapat kenaikan harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) sebesar 3,05% dan 1,64% pada Agustus 2018. Pada saat yang sama, harga beras tidak mengalami kenaikan, malah justru turun sebesar 0,28%.

 border=

Sementara data dari Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah luas lahan panen terus berkurang. Jumlah luas lahan panen pada Juli 2018 adalah 1,5 juta hektar dan turun menjadi 1,41 juta hektar dan 0,98 juta hektar pada Agustus dan September 2018.

Kemarau panjang yang diprediksi terjadi hingga akhir bulan November dan serangan hama dapat menjadi kendala dalam produktivitas gabah. Kondisi ini sangat berpotensi mengganggu pencapaian target-target pertanian serta membuka peluang naiknya harga beras yang akan mempengaruhi inflasi secara keseluruhan.

Baca Juga : Industri Perberasan Nasional Harus Diperkuat

Untuk itu, pengawasan terhadap pasokan beras (supply) perlu diperhatikan oleh pemerintah hingga panen selanjutnya. Pemerintah sebaiknya tidak menutup diri untuk melakukan impor beras dengan sekaligus mempertimbangkan dua hal. Yakni harga beras dan stok cadangan beras dibawah batas aman.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan patut diapresiasi. Akan tetapi perlu juga dipastikan pangan yang dijual di pasar domestik memiliki harga yang terjangkau bagi seluruh masyarakat.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan