border=

Pembatasan Impor Pangan Jangan Sampai Malah Jadi Bumerang

Pembatasan impor pangan harus hati2
(Kendati berperan mengurangi defisit neraca perdagangan, pembatasan impor, khususnya komoditas pangan, harus dilakukan hati-hati agar tidak justru jadi bumerang. Image : Budi Candra Setya/ANTARAFOTO)

Pomidor.id – Untuk mengurangi defisit neraca perdagangan, pemerintah berencana melakukan membatasi impor barang konsumsi. Namun khusus untuk pembatasan impor pangan perlu pertimbangan mendalam, karena jika tidak justru bisa menjadi bumerang. Daya beli masyarakat akan kian tergerus akibat melambungnya harga pangan yang sebagian masih tergantung pasokan dari luar.

Demikian diungkapkan Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi, dalam keterangan tertulis, Rabu (5/9).

 border=

Menurutnya, defisit neraca perdagangan memang dapat berdampak negatif pada kestabilan moneter Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, pemerintah juga harus memikirkan efek pembatasan impor pangan terhadap konsumen, terutama mereka yang masuk ke dalam masyarakat miskin.

Baca Juga : Pemerintah Wajib Jaga Pasokan dan Stabilitas Harga Pangan

Ini karena rencana pemerintah membatasi impor mencakup pula komoditas barang konsumsi, termasuk pangan. Padahal nilai impor barang konsumsi masih lebih kecil ketimbang impor barang modal dan bahan baku penolong.

“Pemerintah harus memikirkan ulang penerapan rencana ini. Apalagi menjelang akhir tahun, permintaan akan barang-barang konsumsi akan mengalami peningkatan. Ketika impor dibatasi, apakah produk dalam negeri sudah siap menggantikan? Dikhawatirkan nanti harga akan kembali naik dan tidak bisa dijangkau,” jelas Hizkia.

“Dengan berkurangnya impor, bukan hanya akan mengurangi supply, tetapi juga akan mendistorsi kompetisi di pasar,” imbuhnya.

Misalnya untuk komoditas daging sapi, selama ini ada pasokan/supply dari Australia. Saat supply dihentikan, apakah peternak sapi dalam negeri sudah bisa menggantikan supply yang akan hilang.

Daging sapi masih bergantung impor
(Daging sapi merupakan komoditas pangan yang masih bergantung pada pasokan dari luar. Tergesa-gesa membatasi impor daging sapi akan melonjakkan harganya sehingga kian sulit terjangkau masyarakat umum. Image : pomidor.id)

Baca Juga : Umumkan Impor Pangan, Jangan Cengengesan

Hizkia menekankan, supply yang hilang bukan hanya soal kuantitas, tapi juga kualitas. Hal ini tentu akan memengaruhi industri yang bergantung dengan daging sapi impor, seperti hotel, restoran dan katering.

Lebih lanjut Hizkia mengatakan sebaiknya pemerintah meninjau ulang komoditas yang akan dibatasi impornya. Sebaiknya pemerintah tidak membatasi impor pada barang-barang yang dikonsumsi dan dibutuhkan oleh masyarakat, misalnya pangan. Pasalnya pembatasan impor pangan dikhawatirkan akan merugikan masyarakat karena harga bahan pangan akan meningkat.

Hizkia juga meminta pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi yang bisa dihasilkan dari perdagangan internasional.

“Saat produksi dan kualitas komoditas yang dihasilkan dari dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, di situlah impor berperan untuk menstabilkan harga dan memastikan masyarakat bisa mengakses bahan pangan dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Baca Juga : Industri Pertanian Sudah Mendesak, Bos

Berdasarkan data BPS pada Mei 2018, impor barang konsumsi mencapai USD 1,73 miliar. Sementara itu nilai impor barang modal dan bahan baku penolong adalah USD 2,81 miliar dan USD 13,11 miliar. Apabila kebijakan ini jadi diberlakukan, maka akan ada pembatasan terhadap konsumsi masyarakat.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan