border=

Petani Keluhkan Harga Cabai yang Terus Merosot

Harga cabai anjlok
(Meski kualitas panenan cabai bagus, namun jika harganya anjlok seperti beberapa hari terakhir ini, tetap akan memberatkan petani. Terlebih bagi petani gurem dengan lahan garapan yang tak begitu luas. Image : pomidor.id)

Pomidor.id – Hampir dua minggu belakangan ini, harga cabai “kurang bersahabat” bagi petani. Pasalnya, baik cabai merah maupun cabai rawit, harganya terus merosot. Jangankan untung, untuk balik modal saja sangat sulit.

Junaidi, petani cabai di Teluk Grajakan, Pandanwangi, Kota Malang, mengeluhkan harga cabai yang tak kunjung membaik sejak akhir Agustus lalu. Dari kisaran Rp 25 ribu – Rp 30 ribu per kg, cabai merah harganya terus menukik selama dua pekan terakhir.

“Cuma dihargai Rp 6 ribu per kilo oleh bakul. Harga jual segitu ya jelas ga nutut untuk menutup biaya operasional,” ujar Junaidi saat ditemui di lahannya, Senin (17/9).

 border=

Dengan luas lahan garapan tak lebih dari 500 m2, keseluruhan modal yang harus dikeluarkan Junaidi untuk menanam kurang lebih seribu pohon cabai mencapai Rp 6 juta. Modal itu untuk membeli benih, pupuk, ajir, obat pembasmi hama tanaman, dlsb.

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Musti Beli Sayur & Buah dari Petani Lokal

Modal akan kian besar jika ia memakai tenaga harian karena standar upah buruh tani di Kota Malang mendekati gaji buruh pabrik besar.

 border=

“Saya garap sendiri. Hanya di awal waktu mengolah tanah saja dibantu tenaga (buruh) dari Pakis. Itu pun tak sampai seminggu. Sisanya saya kerjakan sendiri. Ojire (duitnya) sudah tak ada lagi untuk bayar orang,” tutur Junaidi.

Yang membuatnya tambah puyeng, masa sewa lahan yang kini ia garap tersisa beberapa bulan lagi. Ia sama sekali tak memiliki gambaran darimana biaya untuk memperpanjang sewanya jika harga cabai masih berkutat di bawah Rp 10 ribu per kg.

Tanam lombok
(Menanam cabai membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mustinya ada mekanisme yang mengatur batas harga bawah dan batas harga tinggi sehingga petani tidak sampai rugi. Menyerahkan harganya bulat-bulat ke pasar sama saja dengan disinsentif untuk profesi menjadi petani. Image : pomidor.id)

Hal yang tak jauh berbeda juga dialami Edi, petani cabai rawit di Tumpang, Kabupaten Malang. Bahkan bayang-bayang kerugiannya jauh lebih besar. Dengan harga tak sampai Rp 12 ribu per kg di tingkat petani, ia mengaku kesulitan untuk membayar buruh petik.

“Rata-rata satu orang buruh petik butuh sekitar dua jam untuk mendapatkan 3 kg cabai kecil. Kalau ia dibayar Rp 35 ribu untuk kerja setengah hari (4 jam), hasil panen hanya tinggal separuh. Dihitung dari modal tanam, perawatan sampai panen, ya pasti rugi lah,” terang Edi yang menanam cabai rawit di lahan seluas 2000 m2.

Baca Juga : Petani Indonesia Kerja Lebih Keras Dibanding Karyawan Kantoran

Baik Junaidi maupun Edi adalah contoh kecil dari banyaknya petani gurem yang mengandalkan lahan sewaan untuk mengais rejeki dari bertani. Dengan lahan garapan yang tak terlalu luas, penghasilan mereka bergantung sepenuhnya pada fluktuasi harga komoditas sayuran yang mereka tanam.

Jika harga sedang baik, bolehlah mereka sedikit tersenyum. Tapi jika harga anjlok seperti saat ini, alih-alih balik modal. Untuk musim tanam berikutnya saja, mereka kebingungan dengan biayanya. Bisa-bisa jika sudah mentok, mereka akan kembali ke profesi lamanya. Kuli bangunan.

Kalau semakin banyak petani yang beralih profesi, terus yang menggantikannya siapa?

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan