border=

Polemik Impor Beras Bisa Kontra Produktif Bagi Kepercayaan Pasar

Polemik Impor Beras Kontra Produktif
(Polemik impor beras berkepanjangan akan menggerus kepercayaan pasar. Image : elshinta.com)

Pomidor.id – Ribut-ribut atau polemik impor beras antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Dirut Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) dianggap sudah terlalu ekstrim. Keduanya terlibat saling silang pendapat sengit mengenai perlu tidaknya impor beras. Jika berlarut-larut, hal ini malah bisa kontra produktif bagi kepercayaan pasar.

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, menyampaikan perbedaan pendapat antar penyelenggara negara terkait impor memang bukan baru sekali terjadi. Namun bedanya, dulu hanya sebatas waktu pelaksanaan impor dan kuota impor.

“Tapi bukan sampai terlalu ekstrim yang satu menyatakan butuh impor, yang satu menyatakan tidak butuh impor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (24/9).

 border=

Baca Juga : Impor Beras Musti Pertimbangkan Timing Agar Tak Rugikan Petani

Menurutnya, dalam kondisi saat ini pemerintah harusnya bisa meningkatkan sinergi dan koordinasi. Bukan justru menciptakan polemik yang kontra produktif dan bisa menggerus kepercayaan pasar.

“Kalau sudah dalam titik itu, ini sudah bukan tidak berkoordinasi lagi. Tapi sudah ada pembelahan di dalam kabinet sendiri itu sendiri,” sebutnya.

 border=

Akibat polemik impor beras ini,Enny menilai malah bakal menimbulkan ketidakpastian dari kebijakan yang diambil pemerintah.

Ia menambahkan, kesimpang-siuran kebijakan akan menyusahkan upaya pemerintah menjaga stabilitas harga dan kepercayaan pasar. Kondisi ini dikhawatirkan malah berakibat kontra produktif.

Baca Juga : Buwas: Gudang Bulog Penuh, Tak Mampu Lagi Tampung Beras

Ekonom senior ini menyarankan dalam mengambil kebijakan strategis seperti impor beras, pemerintah harus betul-betul berkoordinasi secara matang dan komprehensif. Dengan demikian, apa yang sampai ke masyarakat bisa satu suara.

“Kalau pemerintah sendiri sudah carut marut, berpolemik sendiri, gimana pasar mau yakin, mau confidence. Padahal itu (kepercayaan) justru yang sekarang dibutuhkan,” tandasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan