border=

Sepertiga Hasil Tangkapan Ikan Tak Pernah Sampai ke Meja Makan Kita

Hasil tangkapan ikan yang membusuk
(Hanya dua pertiga hasil tangkapan ikan di laut yang sampai ke konsumen. Sebagian besar sisanya membusuk dan dibiarkan begitu saja. Image : freeimages.com)

Pomidor.id – Hanya dua pertiga hasil tangkapan ikan di seluruh dunia yang benar-benar sampai ke meja makan dan disantap manusia. Sepertiganya? Terbuang sia-sia. Tak terkecuali di Indonesia. Pantas saja Menteri Susi mengeluarkan kebijakan melarang penggunaan pukat harimau (trawl). Pasalnya, cara ini selain merusak terumbu karang, juga menjaring ikan-ikan bukan target yang pada akhirnya dibuang lagi ke laut dalam keadaan mati dan menimbulkan masalah baru pada lingkungan.

Menurut laporan tahunan Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO), sekitar 35 persen hasil tangkapan ikan global tak pernah sampai ke tangan konsumen. Entah itu ukurannya terlalu kecil atau membusuk dalam proses pengangkutan dan penyimpanan.

Prosentase ikan yang membusuk sebelum sempat dikonsumsi ini kian besar jumlahnya di kalangan nelayan tradisional karena terbatasnya akses pada peralatan modern seperti cool storage atau mesin pendingin yang memenuhi standar.

 border=
Ikan mubazir di Afrika
(Karena masih ditangani dengan cara tradisional, prosentase ikan yang terbuang sia-sia di wilayah pesisir Afrika sangatlah besar. Padahal jutaan penduduknya masih didera masalah kronis kelaparan. Image : newsdeeply.com)

Baca Juga : Diversifikasi Usaha Perikanan Tangkap Perlu Segera Dilakukan

Para ahli sudah lama mengingatkan akan kerugian sekaligus keberlanjutan operasi penangkapan ikan di seluruh dunia. Apalagi perburuan ikan di lautan menunjukkan trend peningkatan dari tahun ke tahun.

“Sejak tahun 1961, konsumsi ikan laut terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan jumlahnya dua kali lipat dari pertumbuhan penduduk bumi. Karena itu sektor perikanan juga menjadi perhatian FAO dalam menghadapi persoalan kelaparan dan kekurangan gizi,” ujar Direktur Jenderal FAO, José Graziano da Silva.

 border=

Diperkirakan lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia yang bekerja di sektor perikanan yang tidak memiliki pengetahuan atau peralatan memadai untuk menjaga hasil tangkapan ikan mereka tetap segar sampai di konsumen.

Baca Juga : Pengendalian Cantrang Agar Industri Olahan Ikan Tumbuh 10%

Sementara itu, Direktur Eksekutif Oceana Eropa, Lasse Gustavsson, mengatakan, perlu tindakan nyata untuk mengurangi praktik-praktik yang mubazir ini. Apalagi milyaran manusia mengandalkan kebutuhan pangan dan gizinya dari ikan di laut.

“Betul-betul keterlaluan. Banyak orang kelaparan tapi sepertiga hasil laut terbuang percuma begitu saja. Mustinya ini menjadi kepedulian kita bersama karena berkaitan langsung dengan keamanan pangan global,” jelas Gustavsson.

Trawl merusak biota laut
(Jika tak dikendalikan, penggunaan pukat harimau atau trawl akan mengancam biota dan ekosistem laut karena sifatnya yang tak “pandang bulu” dalam menjaring ikan. Image : phys.org)

FAO sendiri memberikan pendampingan kepada nelayan di sejumlah negara berkembang untuk memangkas kerugian dari hasil tangkapan atau penangkaran ikan yang mubazir.

Penggunaan rak-rak untuk pengeringan ikan terbukti menurunkan 50 persen jumlah ikan tak layak konsumsi di Danau Tanganyika, Afrika. Sedangkan bantuan fasilitas untuk panen kepiting di Samudera Hindia, berperan mengurangi kerugian nelayan setempat hingga 40 persen.

Baca Juga : Kejahatan Industri Perikanan Ancam Kedaulatan Negara

Akan tetapi tanpa komitmen lebih keras dari pemerintahan masing-masing negara, upaya FAO tersebut tidaklah berdampak signifikan. Terkesan hanya sporadis dan bersifat lokal.

“Butuh komitmen kuat dari pemerintah setiap negara untuk mencegah ekploitasi berlebihan terhadap sumber daya laut,” ujar Manuel Barange, Direktur Perikanan dan Aquakultur FAO.

Ikan mubazir di Indonesia
(Indonesia pun tak luput dari persoalan hasil tangkapan ikan yang mubazir. Kadang karena tempat penyimpanan yang tak memadai, kadang pula karena harganya anjlok, begitu banyak ikan yang dibuang-buang begitu saja. Image : kkp.go.id)

Barange menambahkan, jika tak ada perbaikan signifikan, sebagian negara di Afrika dan negara berkembang lainnya akan menjadi importir ikan di masa depan.

Ironisnya, negara-negara tersebut didominasi negara-negara miskin. Ketergantungan pada pasokan ikan dari luar akan menyebabkan harganya lebih mahal. Dan lagi-lagi, yang paling terkena imbasnya adalah masyarakat kurang mampu.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan