Sistem Informasi Kesehatan Hewan Indonesia Terbaik Se-Asia

Sistem Informasi Kesehatan Hewan Terbaik se-Asia
(Pertemuan Komite Koordinasi Program (PCC) Australia-Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIPEID di Ruang Rapat Utama I Ditjen PKH, Kementerian Pertanian. Image : Dok. Kementan)

Pomidor.id – Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional yang terintegrasi Indonesia (iSIKHNAS) diakui oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) sebagai salah satu yang terbaik di Asia. Demikian pernyataan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita.

Pada pertemuan Komite Koordinasi Program (PCC) Australia-Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIPEID), Ketut Diarmita mengatakan sistem informasi kesehatan hewan di Indonesia berpotensi dikembangkan di negara lain.

Pada pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa, (18/9), ia juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah Australia. Negara jiran itu berperan besar dalam kerja sama mengembangkan iSIKHNAS melalui program AIPEID yang akan berakhir pada tahun ini.

“Melalui iSIKHNAS early report (laporan cepat) atau early detection (deteksi awal) dapat berjalan dengan baik. Pemerintah dapat bergerak cepat untuk mengambil keputusan atau langkah-langkah aksi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan. Sehingga jangan sampai terjadi outbreak penyakit,” ucap Ketut.

Baca Juga : 7 Langkah Strategis Pemerintah Atasi Resistensi Antimikroba

Penguatan sistem informasi kesehatan hewan nasional sangat penting. Terutama sebagai upaya menghadapi ancaman masuknya penyakit hewan menular yang baru muncul yang berpotensi menghancurkan dunia peternakan.

“Hal ini telah menjadi prioritas pemerintah Republik Indonesia untuk mengendalikan penyakit, serta meningkatkan produksi ternak domestik untuk memastikan keamanan pangan dan menstabilkan harga pasar untuk produk ternak,” ungkapnya.

Menurutnya, bila terjadi penjangkitan penyakit di wilayah di Indonesia akan berdampak pada penurunan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Karenanya, sistem iSIKHNAS harus dipelihara dan dimonitoring dengan baik. Teknis pengelolaan sistem dengan memperkuat dan meningkatkan kapasitas SDM juga penting dilakukan.

“Pengelola iSIKHNAS harus dapat bekerja secara profesional dan mandiri serta mampu melaksanakan penyeliaan teknis lainnya karena iSIKHNAS tidak hanya mencakup informasi penyakit hewan. Namun juga berbagai informasi terkait produksi ternak, pemotongan hewan, distribusi Nitrogen (N2) Cair dan straw serta ketersediaan pakan untuk hewan,” ujarnya.

Baca Juga : Penerapan Cold Chain System Agar Daging Aman Dikonsumsi & Berkualitas

Ketut juga menyampaikan, saat ini Kementerian Pertanian terus melakukan restrukturisasi perunggasan. Terutama untuk unggas lokal di sektor 3 dan 4 yang menjadi sumber utama penjangkitan penyakit Avian Influenza (AI).

“Ditjen PKH terus menerus berusaha untuk membangun kompartemen-kompartemen AI dari penerapan sistem biosecurity, yang awalnya hanya 49 titik, saat ini sudah berkembang menjadi 143 titik. 40 titik lagi masih menunggu untuk proses sertifikasi,” tegasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan