border=

Warga Keturunan Kulit Putih Kuasai 70% Lahan Pertanian di Namibia

Warga Keturunan Kulit Putih Kuasai 2/3 lahan di Namibia
(Hampir dua pertiga lahan pertanian di Namibia dimiliki warga keturunan kulit putih. Sementara penduduk asli, warga kulit hitam, justru banyak yang menjadi buruh tani. Image : thisisafrica.me)

Pomidor.id – Namibia, sebuah negara kecil di selatan Afrika, bersiap-siap menggelar konferensi pertanahan nasional tanggal 1 hingga 5 Oktober lusa. Konferensi tersebut akan membahas mengenai reformasi kebijakan pertanahan yang dirasa sudah mendesak. Pasalnya, data Statistik Pertanahan Namibia menyebutkan lebih 70 persen lahan pertanian di negara itu dikuasai warga keturunan kulit putih yang jumlahnya tak sampai 1 persen dari keseluruhan populasi penduduknya.

Di Namibia, sama halnya dengan di Afrika Selatan dan Zimbabwe, isu tanah sudah lama menjadi isu yang sangat sensitif. Bentrokan antar warga kulit hitam dan warga keturunan kulit putih yang berpangkal dari urusan tanah, sering terjadi secara sporadis. Bahkan terkadang sampai memakan korban jiwa. Keadaan makin rumit dengan adanya kampanye untuk mengembalikan lahan kepada warga pribumi kulit hitam.

Rilis Badan Statistik Namibia (semacam BPS di Indonesia), lebih dari 70 persen lahan subur di negara itu dimiliki oleh petani kulit putih. Hal yang nyaris sama juga terjadi di negara tetangganya, Afrika Selatan, yang 72 persen lahan pertaniannya dimiliki oleh warga keturunan kulit putih.

 border=

Baca Juga : Petani Kulit Putih Afsel Berencana Bedol Desa ke Rusia

Ketika berpisah dari Afrika Selatan di tahun 1990, Namibia sebenarnya sudah memberlakukan kebijakan jual beli tanah yang amat ketat. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kepemilikan lahan, terutama lahan pertanian, yang sangat njomplang. 0,5 persen warga keturunan kulit putih menguasai hampir dua pertiga lahan komersial. Sementara penduduk asli, mayoritasnya tinggal berdesakan di wilayah-wilayah komunal.

Namun upaya pemerintah Namibia mendistribusikan 15 juta hektar lahan pertanian ke warga kulit hitam di tahun 2020, prosesnya dinilai terlalu lamban.

 border=
Petani kulit putih
(Karena skill dan kemampuan manajerial yang lebih baik, petani kulit putih menjadi motor produksi sektor pertanian di Namibia. Image : dandc.eu)

Menurut Persatuan Agrikultural Namibia, hingga tahun 2015, hanya 27 persen dari luasan lahan tersebut yang sudah didistribusikan. Sisanya masih jauh dari realisasi. Perkembangan sengketa lahan di Afrika Selatan juga tak luput dari perhatian warga di negara yang terletak di barat daya Afrika itu.

Dikhawatirkan, jika isu ini tak ditangani dengan baik, kerusuhan rasial yang dipicu persoalan tanah juga bakal merembet ke Namibia.

Baca Juga : Sektor Pertanian Berperan Kurangi Pengangguran di Nigeria

Oleh karena itu, muncul desakan untuk mempercepat kebijakan redistribusi lahan pertanian bagi warga Namibia yang tidak memiliki tanah. Kementerian Pertanahan menargetkan dapat mendistribusikan 10 juta hektar lahan dalam dua tahun ke depan.

Kerumitan masalah tanah ini tak terlepas dari proses dekolonisasi yang belum tuntas.

Namibia merupakan negara jajahan Jerman di tahun 1884 hingga 1915, sebelum kemudian dipaksa bergabung dengan Afrika Selatan. Para keturunan kulit putih yang memutuskan tetap tinggal di Namibia, mewarisi lahan yang sangat luas di negara tersebut.

Penguasaan lahan yang sangat luas ini menimbulkan perasaan ketidakadilan dan kecemburuan sosial di antara warga kulit hitam.

Warga Keturunan Jerman di Namibia
(Keturunan Jerman di Namibia. Untuk meredam potensi kerusuhan rasial berkaitan dengan isu tanah, Presiden Namibia mengatakan bahwa apa pun garis keturunannya, mereka yang lahir di negara itu adalah berdarah Namibia. Image : wikipedia.org)

Baca Juga : One Map Program Percepat Program Reforma Agraria Indonesia

Namun Presiden Namibia, Hage Geingob, juga meminta pendistribusian lahan itu dilakukan hati-hati. Ia menginginkan dihindarinya cara-cara radikal seperti yang dilakukan pemimpin di Afrika Selatan.

“Memang orang-orang kulit putih datang dan merampas tanah kita seratus tahun yang lalu. Tapi anak keturunan mereka yang lahir di sini memiliki darah Namibia,” tegas Geingob dikutip dari laman All Africa.

Petani kulit putih dan petani kulit hitam
(Petani kulit putih mengajari warga kulit hitam Namibia tentang ilmu pertanian. Konferensi pertanahan nasional yang digelar 1 hingga 5 Oktober diharapkan dapat mempercepat pendistribusian lahan secara adil dan damai. Image : allnetafrica.com)

Diharapkan konferensi yang membahas kebijakan lahan awal Oktober ini, dapat mengerucut pada solusi untuk mempercepat proses restorasi dan pendistribusian lahan secara damai. Tanpa harus ada huru hara yang sampai memakan ratusan korban jiwa seperti yang terjadi di Afrika Selatan dan Zimbabwe.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan