border=

Ekspor Obat Hewan Indonesia Meningkat , Capai Rp 20 Trilyun

Ekspor Obat Hewan Meningkat
(Ekspor obat hewan meningkat secara signifikan dan menghasilkan devisa lebih dari Rp 1 trilyun. Image : Tumblr)
Pomidor.id – Dalam kurun waktu 3,5 tahun, ekspor obat hewan mendatangkan devisa negara yang cukup besar. Data Direktorat Jenderal  Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, nilai ekspor obat hewan dari tahun 2015 sampai dengan bulan Juni 2018 telah mencapai Rp 20,16 Triliun.

Direktur Jenderal PKH I Ketut Diarmita menyatakan bahwa ekspor obat hewan asal Indonesia saat ini telah menembus lebih dari 80 negara di dunia yang tersebar di Benua Amerika, Asia, Afrika, Australia dan Eropa.

Obat hewan yang diekspor tersebut ada 3 tiga jenis sediaan, yaitu biologik, farmasetik, dan premiks.

 border=

“Saya memberikan apresiasi kepada seluruh produsen obat hewan di Indonesia. Nilai ekspor obat hewan periode Januari hingga Agustus 2018 ini saja sudah meningkat 7,8 persen dari posisi nilai ekspor tahun 2017,” kata I Ketut Diarmita saat pertemuan dengan para produsen obat hewan se-Indonesia akhir pekan lalu di kantor pusat Kementerian Pertanian.

Baca Juga : Indonesia-Brazil Sepakati Kerja Sama di Bidang Peternakan

I Ketut menyampaikan bahwa Kementan meyakini ekspor ini masih terus dapat ditingkatkan. Baik itu dari segi volume ekspor, jenis produk maupun tujuan pasar baru negara-negara di luar negeri. Untuk membuka pasar baru, perusahaan harus jeli melihat dan mengatasi hambatan teknis ke negara tujuan, serta menyampaikannya kepada Ditjen PKH.

 border=

“Kami akan fasilitasi dalam akselerasi ekspor dengan menjalin harmonisasi persyaratan ekspor dengan berbagai negara tujuan,” terang I Ketut.

Selain membentuk Tim Percepatan Ekspor komoditas bidang peternakan dan kesehatan hewan, Ditjen PKH juga menerbitkan Surat Edaran kepada pimpinan perusahaan ekspor obat hewan dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Surat Edaran itu menyebutkan obat hewan produksi dalam negeri yang didaftarkan untuk orientasi ekspor, akan mendapat prioritas dalam proses penerbitan SK Nomor Pendaftarannya. Tentunya dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan aspek teknis terkait mutu, khasiat dan keamanan obat hewan.

Baca Juga : WHO : Stop Penggunaan Antibiotik pada Ternak yang Sehat

I Ketut menyampaikan, di era pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) seperti saat ini, sangat diperlukan inovasi-inovasi baru di bidang obat maupun pakan ternak. Caranya dengan membuat pilot-pilot project pembuatan pakan yang melibatkan para ahli dari perguruan tinggi.

“Tingkatkan produksi dan kualitas obat hewan, serta buat bagaimana agar dapat berdaya saing,” paparnya.

Untuk meningkatkan daya saing, Kementan mendorong para produsen obat hewan untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB). Penerapan CPOHB, pendaftaran obat hewan dan pengujian mutu obat hewan merupakan penjaminan terhadap mutu, khasiat dan keamanan obat hewan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan