border=

Harga Beras Terus Naik, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Opsi Impor

Harga Beras Terus Naik, Perlu Pertimbangkan Opsi Impor
(Untuk menstabilkan harga beras yang merangkak naik, pemerintah perlu mempertimbangkan opsi impor. Namun impor tetap harus memperkirakan waktu yang tepat sehingga tidak berdekatan dengan panen raya. Image : Geotimes)
Pomidor.id – Harga beras medium mulai merangkak naik. Untuk itu, pemerintah perlu mempertimbangkan opsi impor mengingat beberapa daerah sentra produksi beras di Indonesia mengalami kekeringan. Kekeringan ini memengaruhi masa tanam dan pada akhirnya akan menyebabkan mundurnya musim panen.

Data BPS, pada bulan Juli 2018 harga beras berada di kisaran Rp 9.135. Angka ini naik pada Agustus 2018 menjadi Rp 9.198 dan naik lagi pada September 2018 menjadi Rp 9.310. Pergerakan harga yang menunjukkan peningkatan ini menandakan pasokan beras di pasar semakin berkurang.

Meski terbuka opsi impor beras, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah harus memperkirakan waktu yang tepat.

 border=

Melihat pergerakan harga beras yang terus meningkat, impor sebaiknya dilakukan sebelum Januari 2019. Pemerintah bisa belajar dari pengalaman impor di awal tahun ini.

Baca Juga : Impor Beras Musti Pertimbangkan Timing Agar Tak Rugikan Petani

“Pemerintah memutuskan untuk melakukan impor di Januari 2018, sekitar sebulan sebelum panen raya yang terjadi pada Februari 2018. Nyatanya proses pengiriman beras impor ke Indonesia memakan waktu dan berasnya sampai di waktu yang berdekatan dengan panen raya. Hal ini berakibat pada anjloknya harga beras dan meruginya petani,” terang Ilman dalam keterangan tertulis, Jumat, (26/10).

 border=

Berdasarkan estimasi BPS, Indonesia mengalami surplus produksi beras sebear 2,85 juta ton. Jumlah ini jauh dibawah estimasi Kementan yaitu sebesar 16,31 juta ton.

Mengingat keputusan impor harus dilakukan kalau stok di Bulog berada di bawah 1 juta ton, maka pemerintah perlu mempertimbangkan pembukaan keran impor beras di waktu mendatang. Ini karena jumlah stok surplus dan batas keputusan impor yang lebih kecil jaraknya dibandingkan estimasi Kementan sebelumnya.

Baca Juga : Mentan Terjebak Janji Swasembada Terkait Data Produksi Beras

”Dengan menyadari bahwa surplus beras yang dimiliki Indonesia saat ini tidak sebesar perkiraan sebelumnya, tidak menutup kemungkinan bahwa tingginya permintaan beras pada saat-saat tertentu membuat beras yang terserap melebihi estimasi konsumsi dan pada akhirnya menurunkan estimasi surplus,” jelas Assyifa.

Ia menambahkan, hal ini pada akhirnya akan berimbas pada fluktuasi harga beras. Dengan demikian pemerintah perlu mempertimbangkan penggunaan instrumen impor sebagai bentuk pengendalian harga yang terjangkau bagi konsumen.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan