border=

Jaga Harga Stabil, Kementan Cermati Mata Rantai Perdagangan Beras

Mata Rantai Perdagangan Beras Sangat Panjang
(Panjangnya mata rantai perdagangan beras menyebabkan disparitas harga yang cukup tajam di tingkat petani dan konsumen. Image : Dok. Kementerian Pertanian)
Pomidor.id – Isu kenaikan harga beras terkait berkurangnya pasokan, ditepis Kementerian Pertanian. Melalui Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP), Gatut Sumbogodjati, mengatakan yang perlu dicermati adalah mata rantai perdagangan beras yang cukup panjang.

Mata rantai perdagangan beras dimulai dari petani. Kemudian berturut-turut ke pedagang pengumpul, penggilingan, industri beras, pasar induk, pedagang grosir, pasar retail baik pasar modern, pasar tradisional, sampai dengan warung/kios.

“Rantai pasok inilah yang menyebabkan disparitas harga antara di tingkat petani dengan konsumen,” ujar Gatut.

 border=

Selain mata rantai perdagangan beras, faktor harga juga dipengaruhi oleh sebaran tempat produksi, sebaran tempat konsumsi serta sebaran waktu panen. Di luar Jawa produksi melimpah, namun konsumsinya sedikit, sehingga, beras luar Jawa perlu distribusi ke Jawa.

Dari laporan harga dari Petugas Informasi Pasar, harga rata-rata beras medium di tingkat produsen/petani bulan September dan Oktober lebih rendah daripada harga rata-rata bulanan tahun 2018.

Harga rata-rata beras medium di tingkat produsen/petani bulan September sebesar Rp 9.093/kg. Sedangkan di bulan Oktober sampai dengan tanggal 5 Oktober sebesar Rp 9.131/kg.

 border=

Baca Juga : Pemerintah Wajib Jaga Pasokan dan Stabilitas Harga Pangan

Angka ini masih lebih rendah dari harga rata-rata bulanan tahun 2018 sebesar Rp 9.191/kg. Dibandingkan dengan hulan Agustus pun angka ini mengalami penurunan sebesar 0,34% dari rata-rata bulan Agustus Rp 9.128 menjadi Rp 9.093 di bulan September.

Sementara itu, laporan harga dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), bulan September dan Oktober ini harga beras masih lebih rendah dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2018. Baik itu untuk jenis Cianjur, Setra, Saigon, Muncul, IR64, IR 42 dan Ketan Putih.

Kenaikan hanya terjadi untuk jenis ketan hitam. Itu pun tidak signifikan.

Data PIBC, beras Cianjur Kepala bulan September Rp 13.289/kg, sedangkan rata-rata bulanan tahun 2018 sebesar Rp 13.738/kg.

Beras IR 42 bulan September Rp 11.846/kg, sedangkan rata-rata bulanan tahun 2018 sebesar Rp 11.878/kg. Ada pun beras IR 64 grade I bulan September Rp 10.342/kg, sedangkan rata-rata bulanan tahun 2018 sebesar Rp 10.823/kg.

Baca Juga : Pastikan Beras Cukup, BPS Rilis Data Produksi Padi Akhir 2018

Kenaikan hanya terjadi jenis ketan hitam dari Rp 15.941/kg menjadi Rp 17.688/kg. Harga ketan putih biasa semenjak ada impor terus menurun.

September 2018, harga beras ketan putih biasa Rp 11.148/ kg lebih rendah dari harga beras biasa IR 42 yaitu Rp 11.846/ kg.  Harga ini  tidak memberikan insentif bagi petani  karena adanya impor ketan. Sampai Juli 2018, impor ketan putih mencapai hampir 50 ribu ton.

“Spekulasi bahwa ada penurunan produksi pada musim kemarau yang mengakibatkan harga terdorong naik, sudah tidak tepat lagi. Mari kita ciptakan stabilsasi harga beras pada tingkat  yang menguntungkan petani, tidak membebani konsumen dan memberikan keuntungan yang wajar bagi pedagang,” jelas Gatut.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan