border=

Kementan Gunakan Data Beras BPS Sebagai Acuan

Kementan Gunakan Data Beras BPS Sebagai Acuan
(Agar tidak terjadi kesimpangsiuran data serta memudahkan pemerintah mengambil kebijakan terkait beras, Kementan akan menggunakan data BPS sebagai acuan. Image : ist)
Pomidor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini merilis data beras terbaru, dan menyebut data-data sebelumnya sejak 1997 tidak akurat. Agar tidak terjadi kesimpangsiuran data, Kementerian Pertanian menegaskan akan menggunakan data beras BPS ini sebagai acuan.

Dalam data beras BPS terbaru itu, total luas panen pada tahun ini 10,90 juta hektar dan total produksi gabah kering giling (GKG) 56,54 juta ton. Sedangkan, produksi padi 32,42 juta ton dan konsumsi beras 29,57 juta ton sehingga diperkirakan surplus beras pada tahun ini 2,85 juta ton.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengaku sangat senang dan mengapresiasi rilis data BPS ini. Ia mengatakan, Kementan menyambut adanya perbaikan metodologi perhitungan.

 border=

Soal tudingan bahwa Kementan selama ini merilis data produksi beras yang tidak akurat dengan metodologi yang salah, ia menampiknya. Menurutnya, Kementan selama ini hanya mengacu kepada satu data, yakni yang dirilis oleh BPS.

Baca Juga : Darmin : Data Beras Bantu Pemerintah Ambil Keputusan yang Tepat

“Itu yang kita tunggu-tunggu. Dalam undang-undang, satu-satunya data yang diakui adalah BPS. Jadi, Kementan tidak pernah mengeluarkan data produksi sendiri. Tapi selalu mengacu ke data BPS,” ujar Syukur.

 border=

Syukur mengungkapkan, untuk tahun 2018 sendiri, Kementan mengalokasikan 85 persen dari total anggaran sebesar Rp 22,65 triliun.

Hal itu guna memenuhi kebutuhan petani untuk peningkatan produksi seperti belanja sarana dan prasarana pertanian. Kementan bahkan tercatat mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5,5 triliun untuk kepentingan bibit dan benih bagi petani.

Baca Juga : BPPT Kembangkan Teknologi KSA Agar Akurat Hitung Produksi Padi

Dari pemeringkatan Global Food Security Index (GFSI) atau Indeks Ketahanan Pangan Global, sektor pertanian Indonesia menunjukkan trend positif dalam rentang waktu 2014-2018. Peringkat GFSI di 2018 ini, Indonesia menduduki peringkat 65 dari 113 negara yang dinilai. Capaian itu meningkat dimana RI pada tahun 2014 berada di posisi ke-72.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan