border=

Terungkap, Perbudakan di Perkebunan Kopi Bersertifikasi Starbucks

Perbudakan di Perkebunan Kopi Berlisensi Starbucks
(Adanya perbudakan di perkebunan kopi yang memiliki sertifikat Starbucks, mencoreng jaringan kedai kopi terbesar di dunia itu. Image : nationofchange.org)

Pomidor.id – Di balik nyamannya Starbucks sebagai tempat nongkrong, terselip penderitaan para buruh di perkebunan kopi. Bulan September lalu, terungkap adanya perbudakan di perkebunan kopi yang mengantongi sertifikasi Starbucks. Temuan ini sekaligus menunjukkan ketidaksinkronan antara prosedur pemberian sertifikasi yang ketat dengan apa yang terjadi di lapangan.

Sepintas tak ada yang tampak mencurigakan di perkebunan kopi Córrego das Almas di Piumhi, wilayah pedesaan negara bagian Minas Gerais yang terletak di tenggara Brazil. Bahkan terpampang jelas tulisan “Perbudakan atau kerja paksa dilarang di sini”, di beberapa titik lokasi perkebunan.

Tulisan itu seakan menunjukkan kepada dunia bahwa perkebunan yang menjadi rekanan penyuplai biji kopi pilihan di Starbucks, jaringan kedai kopi paling terkenal seantero jagad, menolak adanya perbudakan atau kerja paksa.

 border=

Nyatanya fakta di lapangan berbicara lain. Aparat penyelidik Brazil menemukan bukti buruh-buruh yang diperkerjakan di perkebunan kopi tersebut hidup dalam kondisi menyedihkan. Mereka tinggal di bedeng-bedeng minim fasilitas pembuangan dan air minum.

Inspeksi tim dari Departemen Tenaga Kerja Brazil kemudian membebaskan 18 buruh yang sebelumnya dipaksa bekerja dalam keadaan yang tak beda dengan perbudakan.

Penggerebekan Perkebunan Kopi yang Perbudak Buruhnya
(Kementerian Tenaga Kerja Brazil membebaskan 18 buruh yang dipekerjakan layaknya budak di perkebunan kopi di negara bagian Minas Gerais. Image : mongabay.com)

Perkebunan tersebut dikenal sebagai Fartura (berkelimpahan dalam bahasa Portugis). Fartura ini memiliki lisensi dari UTZ, salah satu perusahaan paling bonafid di industri agro. Namun adanya peristiwa ini membuat lisensi atau sertifikat dari UTZ ditarik sementara. Sebab apa yang dilakukan Fartura tidak sesuai dengan standar kesejahteraan pekerja yang diterapkan pemasok kopi asal Belanda itu.

Selain UTZ, perkebunan kopi tersebut juga mengatongi lisensi dari C.A.F.E., yang dimiliki Starbucks bekerja sama dengan SCS Global Services.

Baca Juga : Agromafia Italia Perlakukan Pekerja di Sektor Pertanian Layaknya Budak

Baik UTZ maupun C.A.F.E. paska penggerebekan oleh otoritas  Brazil, menyatakan akan meninjau ulang lisensi yang telah diberikan kepada Fartura. Hal ini karena bukti-bukti yang ditemukan di Fartura jauh di bawah standar fasilitas perkebunan.

“Banyak kelelawar dan tikus berkeliaran di sini. Makanan yang kami beli banyak yang digondol tikus sehingga kami harus membelinya lagi,” ujar salah seorang pekerja yang dibebaskan.

“Hari libur atau minggu kami tak dapat upah. Sedang Senin sampai Sabtu kami harus kerja mulai dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore,” imbuh rekannya. Ia menjelaskan mereka hanya dibayar sesuai dengan biji-biji kopi yang mereka petik.

Tempat Tinggal Jorok
(Para buruh yang bekerja di perkebunan kopi di Brazil tinggal di tempat yang jorok dengan fasilitas seadanya. Image : mongabay.com)

Tak hanya tinggal di tempat yang tak layak. Mereka juga harus pasrah dengan buruknya sanitasi. Penampungan untuk air bahkan dilaporkan sering tercemar bangkai kelelawar karena tak memiliki penutup. Padahal air itu digunakan untuk minum dan memasak.

Dari sisi upah, aparat mencurigai kecurangan yang dilakukan pengelola perkebunan terhadap para buruh. Berdasarkan pengakuan mereka, biji-biji kopi yang mereka kumpulkan seharian sering kali raib sebelum sempat ditimbang keesokan harinya.

Juga dilaporkan para buruh harus mengeluarkan sejumlah uang agar upah mereka dapat cair. Dengan kata lain, bayar uang untuk dapat uang. Sekedar ke kota terdekat mencari bahan makanan pun, mereka “dipalak” harus menggunakan bus reyot dengan ongkos mahal. Para buruh mengeluh tak dapat lagi menyimpan uang untuk dikirim ke rumah.

Baca Juga : Petani Myanmar Beralih dari Budidaya Bunga Poppy ke Ternak Ulat Sutra

Sementara itu, pihak UTZ mengatakan audit terhadap kelayakan perkebunan dilakukan Februari 2018. Lisensi diberikan dua bulan setelahnya.

Namun setelah reportase media Brazil yang mengungkap adanya indikasi perbudakan di perkebunan kopi, UTZ segera menangguhkan lisensi dan menyatakan akan memeriksa langsung kondisi di lapangan.

“Hak dan kesejahteraan pekerja adalah yang paling penting dan menjadi bagian integral dari standar kami. Kami memandang kasus ini sangat serius karena melanggar standar UTZ. Segera setelah kami menerima bukti kuat adanya pelanggaran di perkebunan yang mengantongi sertifikasi UTZ, maka kami akan segera mengambil tindakan tegas. Termasuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh,” demikian bunyi rilis resmi dari UTZ.

Buruh Perkebunan Kopi yang Dibebaskan
(Buruh perkebunan kopi menerima pertanyaan dan arahan dari aparat Kementerian Tenaga Kerja Brazil. Image : telesurtv.net)

Kesan “cuci tangan” juga dilakukan Starbucks. Kendati mengakui Fartura telah disertifikasi sejak tahun 2016, tapi kedai waralaba kopi itu membantah membeli atau menerima pasokan kopi dari Fartura dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami sudah melakukan investigasi atas kasus ini dan akan mencermati keputusan dari Kementerian Tenaga Kerja Brazil. Kami akan menyampaikan kepada seluruh pemasok bahwa perkebunan yang masuk dalam daftar hitam tak bisa lagi memasok kopi ke Starbucks,” demikian pernyataan resmi Starbucks.

Baca Juga : Peningkatan Produksi Coklat Berkorelasi dengan Deforestasi

Penemuan adanya perbudakan di perkebunan kopi ibarat puncak gunung es yang bisa terjadi di mana saja.

“Bukan sekali dua ini saja perkebunan yang berlisensi ketahuan memperlakukan pekerjanya seperti budak dan melanggar HAM. Kasus-kasus seperti ini tidak bakalan menjadi yang terakhir,” kata Jorge Ferreira dos Santos, Kepala Koordinasi Pengusaha Pedesaan di Minas Gerais, yang saat penggerebekan turut mendampingi petugas dari Kementerian Tenaga Kerja.

Dos Santos menambahkan, sistem sertifikasi perkebunan sangat lemah dan tidak transparan.

Sebagai informasi, perkebunan Fartura memiliki tiga juta pohon kopi. Namun tidak hanya kopi, Fartura juga mengoperasikan peternakan dengan total pekerja berjumlah 151 orang. Perkebunan ini disewa dan dikelola oleh pengusaha Fabiana Soares.

Proses Produksi Kopi
(Sebagian besar proses produksi kopi di Brazil masih mengandalkan tenaga kerja manusia. Mulai dari perawatan, pemetikan biji kopi hingga pengeringannya. Image : jmu.edu)

Ketika kasus perbudakan di perkebunan kopi ini mencuat, melalui pengacaranya, Fabiana Soares menyatakan sangat terkejut. Sebab, kerja paksa atau perbudakan bukanlah “filosofi” perusahaannya.

“Perkebunan kopi kami telah beroperasi selama bertahun-tahun dan selalu berusaha mematuhi semua persyaratan hukum. Kami mendapatkan sertifikasi dan lisensi setelah melalui berbagai tahapan yang sangat ketat,” jelas pengacara Soares.

Baca Juga : Perbudakan Modern di Industri Peternakan Brazil

Apa yang dikatakan dos Santos tentang puncak gunung es perbudakan di berbagai perkebunan di Brazil, terbukti benar.

Di kota Muzambinho, masih wilayah Minas Gerais, juga didapati kasus yang mirip. Petugas inspeksi membebaskan 15 buruh yang diperkerjakan layaknya budak di perkebunan milik Maria Júlia Pereira. Dari ke-15 buruh tersebut, ada satu yang masih berusia 17 tahun.

Sejarah Panjang Perbudakan di Industri Kopi Brazil
(Perbudakan di perkebunan kopi memiliki sejarah panjang dalam industri kopi Brazil. Image : jmu.edu)

Dua kasus perbudakan di perkebunan kopi tadi menandakan bahwa industri yang mengekploitasi tenaga kerja manusia masih terus berlangsung. Sebenarnya tak cuma di Brazil, di berbagai belahan bumi yang lain, tak terkecuali di Indonesia, kasus-kasus yang hampir sama kerap terjadi. Hanya saja belum terungkap.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan