border=

Tinggi, Permintaan Ekspor Bambu Suji dan Lidah Mertua

Kementan Dorong Ekspor Bambu Suji dan Lidah Mertua
(Dirjen Hortikuktura Kementan, Suwandi, saat mengunjungi budidaya dan industri tanaman hias CV Asia Prima di Sukajaya, Salabintana, Sukabumi, Jumat (12/10). Image : Dok. Kementerian Pertanian)
Pomidor.id – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan budidaya tanaman hias jenis bambu suji dan lidah mertua. Hal ini karena kedua tanaman tersebut memiliki permintaan ekspor yang tinggi.

“Komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi atau ekspor sangat banyak. Sesuai arahan Menteri Pertanian untuk meraup dolar dari sektor pertanian, kami lirik pengembangan budidaya tanaman hias, bunga bambu suji dan lidah mertua yang permintaan ekspornya sangat tinggi,” kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian,Suwandi, dalam keterangan tertulis, Jumat, (12/10).

Saat mengunjungi budidaya dan industri tanaman hias CV. Asia Prima di Desa Sukajaya, Kecamatan Salabintana, Sukabumi, Suwandi mengatakan pihaknya mendorong pengembangan budidaya bambu suji dan lidah mertua melalui pola kemitraan.

 border=

Suwandi menjelaskan, petani binaan akan diperluas dan kelembagaan petani diperkuat. Sehingga budidaya tanaman hias tersebut menjadi berskala korporasi. Ini juga bisa dijadikan pendapatan sampingan bagi petani yang mata pencaharian utamanya menanam padi atau sayuran.

“Peluangnya usahanya sangat besar, budidayanya bisa pakai pekarangan rumah,” imbuhnya.

Lidah Mertua
(Budidaya lidah mertua juga dapat menambah penghasilan bagi petani karena permintaan untuk pasar ekspor cukup tinggi. Image : shutterstock.com)

Baca Juga : Peluang Bisnis Ekspor Krisan Masih Sangat Besar

 border=

Eksportir tanaman hias sekaligus pemilik CV. Asia Prima, Tarempa Patuo, mengatakan pihaknya memulai ekspor bambu suji sejak 1997. Selain bambu suji, ia juga mengekspor lidah mertua.

Tarempa mengatakan budidaya kedua jenis tanaman hias ini dilakukan oleh petani, sehingga membangun pola kemitraan dengan ratusan petani.

Bambu suji dirangkai dalam berbagai bentuk, seperti pagoda, guci dan nanas. Harga per rangkai bervariasi yakni Rp 15 ribu sampai Rp 150 ribu.

“Bambu suji kami ekspor ke Korea, Singapura, Malaysia dan Australia, bahkan Amerika. Dari tahun ke tahun trennya terus meningkat. Kalau lidah mertua diekspor ke Korea dan Singapura,” sebutnya.

Menurutnya, tingginya permintaan ekspor bambu suji karena pemanfaatannya yang kini berbeda. Dulu kebutuhannya secara musiman, yakni untuk tahun baru Korea. Sementara sekarang bergeser sebagai tanaman hias untuk dekorasi di dalam rumah sehingga permintaannya tinggi.

“Permintaan dari Belanda pun belum bisa dipenuhi. Ini bisnis di sektor pertanian yang sangat menguntungkan dan nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tarempa.

Bambu Suji
(Bambu suji memiliki pasar besar di sejumlah negara Asia, Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Image : shutterstock.com)

Baca Juga : Bunga Tulip, Bunga Kehidupan Kebanggaan Belanda

Lebih lanjut disebutkan Tarempa, ekspor bambu suji rata-rata 2 kontainer per minggu, nilainya Rp 600 juta, sehingga per tahunnya mencapai Rp 32 miliar. Sementara lidah mertua diekspor dua kali per bulan, dengan nilai ekspor Rp 3 miliar per tahun.

“Coba kalau seratus perusahaan tanaman hias seperti ini, kita bisa penuhi permintaan ke banyak negara. Volume ekspor naik, pertumbuhan ekonomi kita makin membaik, negara kita semakin hebat di mata negara-negara lain,” ucapnya.

“Karena itu, kami apresiasi sekali upaya pemerintah yang mau mendorong budidaya tanaman hias ini. Kami juga berterima kasih atas pelayanan Kementan yang mempermudah izin ekspor ini. Jika dulu butuh yang lama, sekarang dengan sistem online menjadi cepat dan gratis. Kami yakin, jika usaha ini semakin luas, perekonomian masyarakat pedesaan semakin maju,” pungkasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan