border=

Empat Investor Minati Budidaya Jagung Sistem Plasma

Investor Minati Budidaya Jagung Sistem Plasma
(Budidaya jagung dengan sistem kemitraan dengan kebun rakyat (plasma), diminati investor. Image : ist)
Pomidor.id – Kementerian Pertanian menyebutkan ada empat calon investor yang akan berinvestasi pada usaha budidaya tanaman jagung. Budidaya jagung sistem plasma ini untuk mendukung penyerapan produksi petani dan mewujudkan stabilisasi harga.

“Dengan semakin kondusifnya bisnis perjagungan ini, petani jagung ada jaminan pasar karena bisa langsung dibeli, peternak bisa dapat harga stabil,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro di Jakarta, Senin (5/11), sebagaimana dilansir Antara.

Ia menyebutkan bahwa Kementan tengah memfasilitasi perizinan terhadap empat perusahaan. Ada pun bentuk investasinya adalah budidaya jagung sistem plasma atau dilakukan dengan sistem kemitraan dengan kebun rakyat (plasma).

 border=

Baca Juga : Pelaku Usaha Pakan Dukung Usulan Dekati Sentra Produksi Jagung

Lokasi kemitraan tersebut antara lain berada di Banggai (Sulawesi Tengah) seluas 20.000 hektare dan Kalimantan Timur 10.000 hektare.

“Yang di Banggai itu 20 ribu hektare, 30 persen atau 5.000 hektare adalah lahan inti, sedangkan 15 ribu hektare lahan plasma. Sementara di Kalimantan Timue 2.500 hektare lahan inti dan 7.500 hektare lahan plasma,” kata dia.

 border=

Sementara itu, investor lain akan melakukan “joint venture” dengan perusahaan Thailand untuk membuka lahan perkebunan jagung di Kalimantan Tengah seluas 300.000 hektare atau di Seram Barat seluas 20.000 hektare.

Baca Juga : Gandeng PBNU, Kementan Tanam Perdana Jagung Serentak Nasional

Syukur menjelaskan bahwa para investor pun sudah mengetahui kondisi lokasi produksi yang tersebar di berbagai wilayah. Sementara di sisi lain, beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung.

Oleh karena itu, distribusi jagung masih menjadi kendala sehingga perlu dikembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar biaya logistik tidak mengakibatkan gejolak harga.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan