border=

Mengenali Gejala dan Pencegahan Kontaminasi Bakteri E.Coli

Mengenali Gejala Kontaminasi Bakteri E.Coli
(Sakit perut parah adalah gejala umum orang keracunan bakteri E.Coli. Image : Healthline)
Pomidor.id – Beberapa hari lalu, Pusat Penanganan dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, memperingatkan warganya agar tidak dulu mengkonsumsi selada romaine dan jenis-jenis selada lainnya, menyusul merebaknya kontaminasi bakteri E.Coli sejak Oktober lalu. Pemerintah Indonesia sendiri bergerak cepat dengan menginstruksikan Badan Karantina Kementerian Pertanian untuk memperketat pengawasan arus masuk barang, terutama komoditas makanan yang disinyalir rawan tercemar bakteri tersebut. Lalu apa sih sebenarnya bakteri E.Coli itu? Serta apa gejala dan bagaimana penyebarannya?

Escherichia coli atau yang umum dikenal E.Coli adalah bakteri yang tinggal di usus besar manusia serta hewan mamalia lainnya. Kebanyakan jenis bakteri ini tidak berbahaya, bahkan menguntungkan karena memproduksi vitamin K dan mencegah adanya bakteri lain.

Meski demikian, ada juga yang berbahaya seperti E.Coli tipe O157:H7 yang menyebabkan orang keracunan setelah memakan makanan (sayuran) yang mengandung bakteri tipe ini. Kontaminasi bakteri E.Coli ini bisa melalui kotoran hewan atau bahkan kotoran manusia.

 border=

Laura Gieraltowski, PhD, MPH, seorang seorang pakar epidemiologi di CDC, mengatakan gejala umum orang yang keracunan makanan yang tercemar bakteri E.Coli adalah diare, muntah-muntah, demam dan kejang di bagian perut. Tiga atau empat hari setelah terkontaminasi, korban bisa saja mengalami diare berdarah. Namun dengan penanganan tepat dan istirahat yang cukup, korban akan berangsur pulih dalam waktu satu minggu.

“Itu adalah satu minggu yang krusial. Jika tertangani, maka semuanya akan baik-baik saja,” jelas Dr. Laura.

Baca Juga : Bahaya Menyantap Makanan yang Sudah Dihinggapi Lalat

 border=

Meski demikian, ia tetap meminta agar publik mewaspadai gejala lanjutan dan segera pergi ke dokter. Sebab jika tidak, bisa mengancam jiwa. Beberapa gejala lanjutan/berat adalah :

– Dehidrasi parah yang tanda-tandanya adalah jumlah urine menurun. Korban juga selalu merasa haus sehingga berpengaruh terhadap kesadaran.

– Muntah-muntah selama lebih dari 12 jam.

– Diare hebat. Kotoran korban terkadang bercampur dengan nanah atau darah.

– Demam tinggi.

– Sakit perut yang tak kunjung mereda meski sudah buang air besar.

(Serem. Penampakkan bakteri E.Coli setelah diperbesar ratusan kali lipat. Image : BioCote)

Baca Juga : Picu Kanker, BPOM Nigeria Peringatkan Warga Tak Konsumsi Tomat Busuk

Infeksi akibat kontaminasi bakteri E.Coli dapat berubah menjadi Sindrom Hemolitik Uremik (SHU) yang jauh lebih serius. SHU ini biasanya rawan terjadi pada anak di bawah 5 tahun, lansia dan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Gejalanya nyaris sama, yakni demam, sakit perut, warna kulit pucat dan sedikit buang air kecil.

“Siapa pun yang memiliki gejala-gejala ini, harus secepatnya mencari perawatan medis darurat,” tegas Dr. Laura.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk sementara ini warga AS agar menghindari mengkonsumsi selada, khususnya romaine lettuce.

“Bahkan jika sudah sempat memakannya dan tidak menunjukkan tanda sakit apa-apa, jangan habiskan sisanya. Buang saja,” ujarnya.

Rekomendasi CDC ini hanya untuk selada romaine. Sedangkan untuk sayuran lainnya tidak ada masalah. Masyarakat dapat beralih mengkonsumsi kale, bayam atau jenis sayuran hijau lainnya karena dipastikan aman.

Baca Juga : Cara Memasak Sama Pentingnya dengan Memilih Makanan Sehat

Namun tidak ada salahnya untuk melakukan tindakan preventif untuk mencegah kontaminasi bakteri E.Coli. Kebersihan adalah kuncinya. Hal-hal sederhana yang bisa dilakukan adalah :

– Cuci buah dan sayur yang hendak dikonsumsi hingga benar-benar bersih.

– Selalu cuci tangan sebelum menyiapkan, memasak dan makan.

Cuci yang Bersih
(Cuci hingga betul-betul bersih buah dan sayur yang akan dikonsumsi untuk menghindari kontaminasi bakteri E.Coli. Image : Pinterest)

– Pisahkan peralatan memasak yang bersih dengan yang kotor.

– Jauhkan daging mentah dari makanan matang.

– Simpan makanan sisa dalam lemari pendingin agar tidak terjangkit bakteri, dlsb.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan