border=

Pemerintah Giatkan Upaya Wujudkan Swasembada Protein Hewani

Swasembada Protein Hewani
(Untuk menuju swasembada protein hewani, sumber protein dapat berasal dari berbagai macam ternak, termasuk ikan. Jadi tidak hanya dari satu atau beberapa sumber saja. Image : Nuts)
Pomidor.id – Mencermati kondisi industri peternakan Indonesia saat ini dan ke depan, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita menyampaikan saat ini Indonesia sedang menuju swasembada protein hewani.

Untuk menuju swasembada protein hewani, sumber protein yang dikonsumsi masyarakat bisa berasal dari keanekaragaman ternak. Jadi tidak tergantung pada satu macam sumber protein saja.

“Untuk itulah, dilakukan penguatan peningkatan produksi dan produktivitas tidak hanya untuk sapi dan kerbau. Namun kita juga mendorong bertumbuhkembangnya ternak lainnya, seperti kambing, domba, kelinci, unggas, dan sapi perah,” jelas Ketut, Senin, (12/11).

 border=

Populasi sapi dari tahun 2014 sampai tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 12,6 persen. Populasi kerbau dari tahun 2014 sampai tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 4,5 persen. Demikian juga dengan populasi komoditas ternak lainnya, seperti babi, kambing, domba, ayam buras, ayam ras pedaging dan petelur, serta itik.

Baca Juga : Produksi Daging Unggas Penuhi Kebutuhan Protein Hewani Nasional

Terkait pengembangan komoditas sapi/kerbau, telah terjadi loncatan populasi yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari rata-rata pertumbuhan populasi sapi-kerbau dari periode tahun 2014-2017 yang mengalami loncatan kenaikan pertumbuhan menjadi sebesar 3,83 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan populasi pada periode tahun 2012 – 2014 dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya mengalami penurunan sebesar (1,03 persen).

 border=

Untuk mempercepat peningkatan populasi sapi/kerbau, pada tahun 2015-2016 telah dilakukan program Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB). Selanjutnya pada Oktober 2016 Kementan memperluas program ini dengan lebih mengoptimalkan pelayanan reproduksi kepada sapi-sapi milik peternak melalui Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) yang bertujuan untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di tingkat peternak.

“Esensi Upsus Siwab adalah mengubah pola pikir petani ternak, yang cara beternaknya selama ini masih bersifat sambilan, menuju ke arah profit dan menguntungkan bagi dirinya,” papar Ketut.

Baca Juga : Belgian Blue Berkembang Biak, Harapan Capai Swasembada Daging Sapi

Berdasarkan perhitungan analisa ekonomi, jika harga anak sapi lepas sapih rata-rata sebesar 8 juta rupiah, sedangkan hasil Upsus Siwab 2017 – 2018 sebanyak 2.385.357 ekor ekor, maka akan diperoleh nilai ekonomis sebesar 19,08 Triliun.

“Nilai yang sangat fantastis mengingat investasi program Uspsus Siwab 2017 – 2018 hanya sebesar Rp. 1,41 T. Sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar 17,67 Triliun rupiah,” pungkas Ketut.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan