border=

ASEAN Harus Kerja Sama dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

ASEAN Perlu Kerja Sama untuk Mitigasi Perubahan Iklim
(Kekeringan di sebuah desa di Kamboja. ASEAN musti bekerja sama untuk menghadapi perubahan iklim mengingat kedekatan secara geografis serta memiliki kesamaan iklim. Image : Bussiness Insider)
Pomidor.id – Negara-negara ASEAN harus memperkuat kerja sama adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk dapat mencapai target suhu global. Kerja sama antar negara ASEAN ini sangat penting karena secara geografis bertetangga serta memiliki banyak kesamaan iklim.

Demikian pernyataan pers Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ruandha Agung Sugardiman. Menurutnya, mitigasi perubahan iklim ini perlu dilakukan bersama karena ASEAN dapat memberi dampak besar dalam menjaga suhu bumi tak naik lebih dari 2 derajad Celcius.

“Jika kita bekerja sama, ASEAN bisa berkontribusi hingga 5,49% dari penurunan emisi gas rumah kaca [GRK] dunia,” ujar Ruandha, Rabu (5/12/).

 border=

Pada diskusi panel yang digelar di Paviliun Indonesia di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim (COP-24 UNFCCC) di Katowice, Polandia, Selasa (4/12/), wilayah ASEAN juga rentan menerima dampak negatif perubahan iklim.

Untuk memperkuat kerja sama antar negara anggota, telah dibentuk kelompok kerja ASEAN untuk perubahan iklim (AWGCC). Pokja AWGCC itu menjadi ajang negara ASEAN berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan kapasitas pengendalain perubahan iklim.

Ruandha menekankan, kerja sama antar negara Asean sangat penting mengingat setiap negara memiliki perkembangan berbeda dalam mencapai target pengurangan emisi GRK.

 border=

“Kerja sama diharapkan bisa mempercepat pencapaian target pengurangan emisi negara ASEAN,” sambungnya.

Baca Juga : Indonesia Serukan Laut Menjadi Bagian Kesepakatan Paris

Indonesia sendiri menargetkan pengurangan emisi GRK sebanyak 29% pada 2030 atau mencapai 41% dengan dukungan internasional. Pencapaian target tersebut didukung sejumlah sektor dengan sektor energi dan kehutanan menjadi kontributor terbesar, masing-masing 11% dan 17,2%.

Malaysia, melalui Kepala Program Kehutanan dan Perubahan Iklim Institut Penelitian Kehutanan, Elizabeth Philip, mengatakan untuk mencapai target National Determined Contributions (NDCs) sebanyak 45%, mengandalkan dua hal. Yakni, pengurangan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi atau REDD Plus.

Banjir di Manado
(Banjir yang menenggelamkan sebuah kawasan di Manado, Sulawesi Utara, beberapa tahun lalu. Baik kekeringan atau pun banjir ekstrim, tidak terlepas dari efek perubahan iklim. Dua-duanya juga sama-sama mengancam produksi pangan masyarakat. Image : Floodlist)

Sementara itu, Kepala Kantor Perubahan Iklim Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina Albert Altarejos Magalang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di antara negara ASEAN. Namun ia juga menyatakan, pemerintah Filipina menekankan tentang pentingnya keadilan dalam pengendalian perubahan iklim global.

Filipina menyerukan agar negara maju sebagai emiter terbesar GRK bertanggung jawab. Sementara negara berkembang seperti Filipina, seharusnya tetap diberi kesempatan untuk membangun tanpa terikat pada pembatas emisi GRK..

Baca Juga : Mengutak-atik Iklim Justru Bisa Berakibat Fatal

Deputi Direktur Program Perubahan Iklim, Badan Lingkungan Hidup Singapura, Rohaya Saharom mengingatkan banyak wilayah di negara ASEAN yang berada di tepi pantai yang terancam kenaikan muka air laut dampak perubahan iklim. Selain itu, perubahan iklim juga mengancam produksi pangan bagi masyarakat ASEAN.

“Saat ini wilayah ASEAN juga sudah mengalami bencana iklim seperti badai dan banjir,” jelas Rohaya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan