border=

Benarkah Pertanian Organik Justru Buruk Bagi Lingkungan?

Pertanian Organik
(Pertanian organik menyimpan lebih banyak karbon dalam tanah ketimbang pertanian non-organik. Image : Civil Eats)
Pomidor.id – Selama ini pertanian organik disebut-sebut sebagai pertanian ramah lingkungan. Sebab, pertanian ini tujuan utamanya selain memproduksi makanan sehat, juga meminimalkan penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk atau pestisida sehingga tidak mencemari lingkungan. Namun benarkah demikian? Jangan-jangan justru malah sebaliknya.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature, menunjukkan bahwa pertanian organik tidaklah “sesuci” yang selama ini kita bayangkan. Tanaman kacang dan gandum yang dibudidayakan murni secara organik ternyata berakibat buruk bagi lingkungan. Hal ini karena untuk memproduksi jumlah yang sama dengan yang dibudidayakan secara konvensional, kedua tanaman tersebut membutuhkan ruang yang lebih luas.

Ruang yang lebih luas ini berarti tuntutan pembukaan lahan baru tak dapat dihindari. Dalam skala massif, bisa berujung pada deforestasi alias pembabatan hutan untuk memperluas lahan penanaman. Buruknya lagi, emisi karbon yang dihasilkan dalam pertanian organik juga lebih besar, demikian kesimpulan tim peneliti.

 border=

Meski begitu, para peneliti mengakui kesimpulan ini tidak bisa digebyah uyah begitu saja. Penelitian ini hanya terbatas pada beberapa tanaman di satu wilayah. Jadi terlalu tergesa-gesa untuk menggeneralisirnya ke seluruh pertanian yang dikembangkan dengan metode organik.

Khusus untuk penelitian ini, tim ilmuwan hanya fokus pada pertanian kacang polong dan gandum di Swedia.

Baca Juga : Manajemen Pengolahan Tanah Kurangi Efek Perubahan Iklim

 border=

Karena sama sekali tidak memakai pupuk kimia, budidaya kacang polong di tempat itu lebih banyak membutuhkan lahan ketimbang membudidayakan tanaman yang sama dengan cara non-organik. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah terkait efisiensi serta sumber daya untuk menggarap lahan tersebut.

“Hasil studi kami menunjukkan bahwa kacang polong yang dibudidayakan secara organik di Swedia, memiliki dampak iklim sekitar 50 persen lebih besar daripada kacang polong yang ditanam secara konvensional,” kata salah satu tim peneliti, Stefan Wirsenius dari Chalmers University of Technology di Swedia.

“Pada jenis tanaman lain, gandum organik misalnya, perbedaannya bahkan mencapai 70 persen,” imbuhnya.

Pertanian Konvensional vs Pertanian Organik
(Perbedaan luasan lahan untuk menghasilkan satu ton gandum antara pertanian konvesional dan pertanian organik. Image : Science Alert)

Tim penelliti mengembangkan metrik “biaya karbon” untuk menilai jejak karbon dari beberapa jenis penggunaan lahan serta memetakan emisi karbon dioksida dari makanan yang diproduksi.

Untuk pertanian organik, rasio itu ternyata lebih buruk dibandingkan pertanian non-organik. Fakta ini juga menegaskan hasil beberapa studi sebelumnya yang mengungkapkan bahwa penyimpanan karbon dalam vegetasi dan tanah di pertanian organik berpengaruh negatif terhadap lingkungan.

Baca Juga : Jagung Lebih Baik untuk Makanan, Bukan Bahan Bakar

Namun tim peneliti tidak lantas menyarankan agar pertanian organik dihentikan, melainkan hanya penggunaannya perlu dipertimbangkan dengan cermat. Pertimbangan itu juga bisa meluas ke biofuel, yang produksinya membutuhkan lebih banyak lahan daripada untuk pangan atau bahan bakar fosil.

Sedangkan dari perspektif konsumen, Wirsenius mendukung mereka menerapkan gaya hidup sehat dengan tetap mengkonsumsi makanan-makanan organik. Kalau pun konsumen ingin berkontribusi mencegah dampak perubahan iklim, hal yang bisa mereka lakukan adalah sedikit mengubah konsumsi makanan.

Dari yang biasanya mengkonsumsi daging sapi atau domba, bisa menggantinya dengan ayam, ikan atau telur. Begitu pula dengan susu atau keju yang dapat disubstitusi dengan protein nabati dari kacang-kacangan.

“Jenis makanan ini yang jauh lebih penting. Contohnya, makan kacang-kacangan organik atau ayam organik jauh lebih ramah lingkungan daripada mengkonsumsi daging sapi atau domba yang diproduksi dengan cara konvensional,” paparnya.

Ayam Kampung
(Mengganti konsumsi daging sapi dengan daging ayam yang dibesarkan dengan cara organik (umumnya ayam kampung), dapat menjadi alternatif memperoleh sumber protein hewani yang lebih ramah lingkungan. Image : Alief Wahyudi)

“Satu sisi, makanan organik memang memiliki keunggulan dari makanan non-organik. Tapi ketika berbicara efeknya terhadap iklim, dari penelitian yang kami lakukan, secara umum makanan yang diproduksi secara organik berakibat lebih buruk terhadap iklim,” jelasnya.

Baca Juga : Ini Lho, Negara-negara Konsumen Produk Organik Terbesar di Dunia

Sejauh ini, persoalan bagaimana memproduksi pangan yang sehat dan ramah lingkungan adalah isu yang kerap diperbincangkan di Swedia. Pemerintah Swedia sendiri mendorong sepenuhnya ekspansi pertanian organik di negaranya.

Hanya saja, seperti yang diingatkan tim peneliti, kebijakan pemerintah negara Skandinavia itu juga harus dibarengi dengan pertimbangan hati-hati. Terutama menyangkut efisiensi, varietas tanaman, luas lahan serta dampaknya terhadap perubahan iklim.

1 Komentar

  1. Pro kontra pertanian organik akan selalu ada. Pilihan mau mengkonsumsi makanan organik atau tidak, ada di kita sbg konsumen

Tinggalkan Balasan