border=

Bertanam Cabai di Musim Penghujan

Tanaman Cabai
(Karena resiko gagal panen yang besar dan biaya operasional yang lebih tinggi, harga cabai hampir selalu naik di musim hujan. Image : ist)
Pomidor.id – Musim hujan telah tiba. Intensitas air yang turun dari langit sudah semakin tinggi sejak pertengahan November lalu. Seperti biasanya, masuknya musim hujan selalu diiringi dengan berita merangkaknya harga sayur mayur seperti tomat dan cabai. Bahkan untuk cabai, kenaikan harga bisa sangat ekstrem di akhir dan awal tahun.

Selain siklus tahunan natal dan tahun baru, naiknya harga segala jenis cabai ini amat dipengaruhi faktor kesulitan serta pola tanam sebagian besar petani kita. Bertanam cabai, apalagi di puncak musim hujan, sangat dihindari petani karena dianggap terlalu riskan.

Berbeda dengan musim kemarau, serangan hama dan penyakit menggila di musim penghujan sehingga meningkatkan resiko kegagalan panen. Tak jarang tingkat gagal panen mencapai lebih dari 50 persen. Untuk menghindarinya, petani biasanya belanja lebih banyak obat-obat kimia seperti fungisida, pestisida atau pun herbisida (obat pembasmi rumput).

 border=

Dengan biaya operasional lebih tinggit, otomatis akan mengerek harga produksi. Maka jamak ketika masuk musim hujan, harga cabai bisa sepedas rasanya.

Baca Juga : Pentingnya Memanfaatkan Prakiraan Cuaca untuk Pertanian

Sebagaimana diketahui, kelembaban yang tinggi memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman. Hal ini tidak kondusif bagi tanaman untuk tumbuh optimal. Tak terkecuali cabai. Untuk menjaga agar produksi tidak sampai gagal total, ada beberapa hal yang musti diperhatikan ketika bertanam cabai. Di antaranya adalah jenis, pengolahan tanah, pemupukkan, jarak tanam, drainase serta pemasangan mulsa.

 border=

Pemilihan Varietas

Untuk jenis/varietas cabai, kini sudah semakin banyak dijual benih yang tahan basah seperti Kencana, Cemeti, Rawit Prima, Tin Super LV, dan beberapa varietas lainnya yang tersedia di toko pertanian. Namun, sebagus apa pun benih, tanpa persiapan yang memadai, hasilnya tetap tidak akan maksimal.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah adalah langkah pertama yang musti dilakukan untuk mengkondisikan tanah sehingga kondusif bagi pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah yang baik dapat memperbaiki struktur tanah sehingga aerasi terjaga dan akar tanaman mudah menembus ke bawah.

Secara teknis, pengolahan tanah dibagi 2, yakni manual dan mekanis. Cara manual memang membuat gemburan tanah lebih merata. Namun karena alat yang digunakan sederhana (cangkul atau cetok), cara ini kurang efektif dan memakan waktu lama jika lahannya luas.

Sedangkan cara mekanis, menggunakan traktor misalnya, memangkas waktu pengerjaan pengolahan tanah. Sayangnya, selain berbiaya tinggi dan membutuhkan skill untuk mengoperasikan mesin, cara ini tak sebaik cara manual dalam upaya penggemburan tanah. Meski demikian, cara mekanis sangat membantu untuk mengolah lahan yang luas karena menghemat waktu.

Pengolahan Tanah Cara Manual
(Pengolahan tanah secara manual untuk bertanam cabai membutuhkan waktu lama dan tenaga banyak jika lahannya luas. Namun kelebihannya dibandingkan cara mekanis, cara ini membuat penggemburan tanah lebih merata. Image : ist)

Baca Juga : Stemphylium Leaf Blight, Penyakit Bercak Daun Pada Bawang Merah

Pemupukkan

Di musim hujan, penggunaan pupuk dengan unsur nitrogen tinggi musti dikurangi. Hal ini karena pemberian pupuk nitrogen berlebihan dapat menurunkan pH tanah. Kondisi tanah lembab dan kelebihan pupuk nitrogen akan membuat tanaman rentan serangan berbagai jenis penyakit. Sebaiknya pemupukkan di lahan yang akan ditanami, dilakukan seimbang sesuai kebutuhan unsur hara tanaman.

Selain pemupukkan, pengapuran juga penting untuk menormalkan pH tanah. Bertanam cabai, idealnya pH tanah berkisar antara 5,5 hingga 6,5. Saat musim penghujan, pH tanah biasanya menurun sehingga memicu perkembangan jamur dan bakteri. Untuk meningkatkan pH tanah, gunakan kapur pertanian atau dolomit secara merata di lahan yang hendak ditanami.

Jarak Tanam

Kepadatan tanaman cabai di musim hujan yang cenderung selalu lembab, sebaiknya dihindari agar tidak merangsang berkembangnya jamur atau bakteri patogen. Jarak tanaman di setiap bedengan idealnya adalah 65 cm x 70 cm dengan sistem tanam berhadap-hadapan. Atau bisa juga 60 cm x 65 cm jika sistem tanamnya zig zag.

Drainase

Pembuatan bedengan untuk menanam cabai di musim hujan pada lahan datar sebisa mungkin ditinggikan. Untuk menghindari tanaman cabai terendam air hujan yang menggenang, tinggi setiap bedengan minimal 50 cm dan lebarnya 1 meter. Sementara untuk memperlancar sirkulasi udara serta mempermudah perawatan tanaman cabai, lebar selokan antar bedengan paling tidak 70 cm.

Baca Juga : Teknologi Budidaya Kurangi Fluktuasi Harga Bawang Merah dan Cabai

Pemasangan Mulsa

Pasang Mulsa
(Memasang mulsa plastik sebaiknya dilakukan saat cuaca terik. Image : ist)

Setelah membuat bedengan, langkah berikutnya yang dapat dilakukan adalah pemasangan mulsa plastik hitam perak. Sebenarnya juga bisa digunakan mulsa organik seperti jerami. Namun karena kelembaban yang tinggi, mulsa dari bahan organik dikhawatirkan justru menimbulkan masalah baru, yakni malah merangsang berkembangnya jamur dan bakteri patogen.

Pemakaian mulsa plastik berfungsi menahan air hujan dan mencegah tanah di sekitar tanaman tergenang air. Mulsa plastik juga dapat menahan merebaknya gulma yang tumbuh lebih cepat di musim hujan.

Mulsa plastik sebaiknya dipasang antara jam 10 pagi hingga jam 1 siang, ketika cuaca panas karena mulsa mudah mengembang jika ditarik kencang. Kalau pun di musim hujan terik matahari sulit didapat karena hampir selalu mendung, pemasangan mulsa bisa dilakukan sementara dengan menancapkan kayu kecil atau bambu yang dibengkokkan pada bagian tengah dan ujung mulsa. Baru saat cuaca panas, pemasangan mulsa diperbaiki sehingga lebih kencang dan tampak rapi.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan