border=

Ekspansi Perkebunan Alpukat Timbulkan Masalah Lingkungan

Perkebunan Alpukat di Michoacan, Meksiko
(Tampak dari kejauhan deretan rapi pohon-pohon alpukat muda di dataran tinggi Uruapan, Negara Bagian Michoacan, Meksiko. Pohon-pohon alpukat tersebut berdiri di atas lahan yang sebelumnya adalah hutan hujan tropis. Image : The Chronicle)
Pomidor.id – Michoacan merupakan salah satu sentra produksi alpukat terbesar di Meksiko. Perkebunan alpukat terus tumbuh pesat di negara bagian Meksiko tersebut. Namun meski mendatangkan pemasukan besar dan menggerakkan perekonomian penduduk lokal, ekspansi pembukaan lahan-lahan baru untuk ditanami alpukat, menggelisahkan para pemerhati lingkungan. Sebab  yang dikorbankan untuk membuka lahan-lahan baru tersebut adalah lahan pertanian pangan dan hutan hujan tropis Michoacan.

Persoalan lingkungan ini sebenarnya tidaklah khas Michoacan. Permintaan komoditas alpukat di pasar global meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Perkebunan alpukat pun bermunculan di berbagai belahan dunia untuk merespon demand yang tinggi tersebut.

Data dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB), jumlah lahan pertanian di seluruh dunia yang dialihfungsikan menjadi perkebunan alpukat naik signifikan selama satu dasawarsa. Dari 381 ribu hektar di tahun 2006, melonjak menjadi 564 ribu hektar sepuluh tahun kemudian.

 border=

Sebagian besar lahan yang diubah tersebut berada di Meksiko, tempat asal usul buah alpukat. Pohon-pohon alpukat muda tak henti-hentinya ditanam di sejumlah perkebunan besar di dataran tinggi Uruapan, kota terbesar kedua di Michoacan.

Tahun lalu saja, hampir 2 juta pohon alpukat ditanam di lahan seluas 200 ribu hektar. Dan luasan lahan perkebunan alpukat baru itu dipastikan masih akan terus bertambah.

Seorang ahli biologi Meksiko, Arturo Chacon Torres, mengatakan perluasan perkebunan alpukat kini malah sudah merambah ke hutan-hutan dan lereng-lereng gunung.

 border=

Pendiri LSM Academia Mexicana de Impacto Ambiental (Akademi Meksiko tentang Dampak Lingkungan) itu memperkirakan sekitar 600 hingga 1.000 hektar hutan hujan tropis digunduli setiap tahunnya untuk diubah menjadi lahan pertanian hortikultura, termasuk alpukat. Jejak-jejak pembabatan hutan itu, Torres menambahkan, bisa dilihat dari berserakannya serpihan kayu serta bongkahan-bongkahan pohon besar yang belum sepenuhnya dibersihkan.

Angkut Alpukat
(Pekerja mengangkut hasil panenan dari perkebunan alpukat di Tacambaro, Michoacan, Meksiko. Image : REUTERS)

Baca Juga : Peningkatan Produksi Coklat Berkorelasi dengan Deforestasi

Di Michoacan, ada banyak petani alpukat kecil. Sebagian di antaranya bekerja secara ilegal dengan menanam alpukat di wilayah hutan yang dilindungi. Tahun ini, pihak berwenang Meksiko menangkap sejumlah petani yang tertangkap basah menebangi pohon pinus karena hendak menggantinya dengan tanaman alpukat.

Menurut sebuah studi di tahun 2012 yang disponsori Pemerintah Meksiko, peningkatan produksi alpukat berkontribusi pada hilangnya keragaman, pencemaran lingkungan serta erosi tanah. Dampak ikutan lainnya adalah rusaknya siklus air alami dan spesies endemik di kawasan tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian Meksiko menyatakan permintaan pasar internasional untuk buah alpukat melesat hampir 50 persen dari tahun 2017 hingga 2030. Konsumsi global diperkirakan akan meningkat dari 2,84 juta ton menjadi 4,24 juta ton per tahunnya.

Baca Juga : Agromafia Italia Perlakukan Pekerja di Sektor Pertanian Layaknya Budak

Sialnya, gemerincing dolar dari “emas hijau” ini menarik pula perhatian kartel-kartel narkoba di Meksiko. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk ikut campur di industri ini.

Layaknya mengoperasikan bisnis narkoba, gembong-gembong kejahatan terorganisir itu kerap bersikap semau gue. Mereka mengintimidasi, bahkan tak segan-segan menculik para petani yang menolak menuruti kemauan mereka mereka.

Tak mau terus menerus jadi sapi perah kartel, para petani kemudian melawan balik dan membentuk kelompok bersenjata. Polisi Federal Meksiko pun turun tangan membantu petani. Kendati mereda, namun gangguan dari para kriminal sesekali masih terjadi.

Petani Bersenjata
(Para petani alpukat terpaksa mempersenjatai diri untuk melawan geng-geng kriminal yang ingin memalaki hasil “emas hijau” di Michoacan. Image : AFP)

Meksiko bukanlah satu-satunya negara yang mengalami paradoks berkaitan dengan tingginya permintaan buah alpukat ini. Hal yang nyaris sama juga terjadi di wilayah “terpanas” di muka bumi. Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 110 ribu ton alpukat diproduksi dan 65 ribu ton diekspor. Angka-angka ini menunjukkan kecenderungan kenaikan yang stabil. Di tahun 2016, produksi alpukat mencapai 101 ribu ton dan 47 ribu ton diekspor.

Baca Juga : LSM Lingkungan Gagas Penghijauan Gurun Sahara

Bibit pohon alpukat pertama kali dibawa ke wilayah penuh sengketa ini kira-kira 100 tahun silam. Bermula hanya menempati lahan ratusan meter, alpukat kini dibudidayakan di lahan seluas 8.500 hektar. Karena keterbatasan lahan, sering kali petani membongkar pohon jeruk dan menggantikannya dengan pohon alpukat.

Industri Alpukat di Israel
(Meski dikelilingi daerah tandus, Israel mampu memenuhi kebutuhan alpukat dalam negerinya. Malah sebagian kelebihannya diekspor. Namun ahli ekologi memperingatkan jika ekspansi perkebunan alpukat di negeri itu tak dikendalikan, bakal berakibat buruk pada lingkungan. Image : Fresh Plaza)

Marcelo Sternberg, seorang profesor ekologi tumbuhan di Universitas Tel Aviv, mencemaskan fenomena ini. Pasalnya, pohon alpukat jauh lebih membutuhkan air ketimbang pohon jeruk.

“Tanaman alpukat rakus akan air. Untuk memproduksi satu kilo alpukat butuh 600 liter air,” ujar Profesor Sternberg kepada DPA.

Di Israel, pohon-pohon biasanya disirami dengan air limbah yang sudah diolah, papar Sternberg. Ada kekhawatiran nanopartikel berbahaya dari air olahan ini bisa terserap ke buah. Selain itu, air limbah juga berpotensi merusak tanah dalam jangka panjang.

“Di alam, tidak ada yang gratis,” tambahnya mewanti-wanti.

Baca Juga : Milyaran Penduduk Bumi Kesulitan Air Bersih

Booming alpukat ternyata juga melanda Afrika Selatan, terutama di wilayah timur laut seperti Propinsi Limpopo dan Mpumalanga. Daerah-daerah tersebut beriklim subtropis namun hangat sehingga ideal untuk budidaya alpukat. Area yang digunakan untuk perkebunan alpukat semakin meluas sejak awal tahun 2000. Rata-rata meningkat seribu hektar setiap tahunnya.

Perkebunan Alpukat di Afsel
(Perkebunan alpukat di Propinsi Limpopo, Afrika Selatan. Image : Farmers Weekly)

Berdasarkan data asosiasi petani alpukat setempat, Afrika Selatan memproduksi sekitar 120 ribu ton alpukat pada tahun 2017. Padahal di dekade sebelumnya, produksi hanya 74 ribu ton. Namun lonjakan produksi itu bukan simsalabim begitu saja. Tanpa pembangunan saluran irigasi besar-besaran, yang terkadang mencaplok lahan-lahan produktif lainnya, mustahil menanam jutaan pohon alpukat di Afrika Selatan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan