Jutaan UMKM Lokal Manfaatkan Harbolnas untuk Jualan

Harbolnas
(Transaksi di Harbolnas tahun ini diharapkan mencapai target Rp 7,7 triliun. Image : Price Area)
Pomidor.id – Sebanyak 6,5 juta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengikuti momen pesta belanja daring atau Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) tahun ini. Hajatan transaksi online oleh sejumlah pelaku e-Commerce digelar pada 11-12 Desember 2018.

Dalam keterangan resminya, Kamis (13/12), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara  mengatakan situs dagang daring semakin diminati pengguna internet. Hal ini terlihat dari 6,5 juta pelaku UMKM yang mengikuti momen Harbolnas tahun ini.

Rudiantara mengatakan, minat pelaku UMKM memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya memberikan nilai tambah terhadap setiap transaksi yang dilakukan selama pesta belanja daring berlangsung. Pasalnya, penjual lokal kini memiliki akses lebih mudah untuk menjangkau para pembeli sehingga mereka berpeluang meningkatkan penjualannya.

Baca Juga : Program e-Smart IKM Buka Peluang Perluasan Pasar

Selain itu, tumbuhnya jumlah pelaku UMKM lokal di platform digital juga menambah peluang penjualan produk lokal yang lebih tinggi.

“Dengan kemudahan yang ditawarkan, sudah sekitar 6,5 juta UMKM hijrah ke online dalam 2 tahun terakhir ini,” ujar Rudiantara.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan juga menganggarkan sekira Rp 3 triliun. Dana itu untuk pembiayaan ultra mikro yang ditujukan kepada para pelaku UMKM yang menggunakan platform digital.

Baca Juga : Pelaku UMKM Harus Melek Teknologi

Sementara itu, McKinsey, sebuah perusahaan konsultan manajemen internasional, merilis laporan terbarunya yang memproyeksikan nilai dagang elektronik di Indonesia bakal menyentuh USD 55 miliar hingga USD 65 miliar pada tahun 2022.

Proyeksi tersebut setara dengan pertumbuhan delapan kali lipat transaksi e-commerce di dalam negeri yang mencapai US$8 miliar sepanjang 2017.

Tumbuhnya nilai transaksi bertolak pada beberapa faktor. Yakni terus tumbuhnya tingkat penetrasi pengguna smartphone, asumsi berlanjutnya penguatan fundamental daya beli masyarakat Indonesia, dan adopsi teknologi masyarakat yang relatif cepat.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan