border=

Kembalikan Kejayaan Kakao di Kolaka Utara, Kementan Lakukan Revitalisasi

Kakao di Kolaka Utara
(Sulawesi Tenggara, termasuk Kabupaten Kolaka Utara, merupakan satu dari empat propinsi di Sulawesi yang menjadi penghasil kakao terbesar di Indonesia. Tiga propinsi lainnya adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Image : Bobby Alimuddin)
Pomidor.id – Untuk mengembalikan kejayaan kakao, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan), melakukan gerakan revitalisasi kakao di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Menteri Andi Amran Sulaiman turun langsung dengan membagikan bibit unggul gratis kepada petani di daerah yang menjadi salah satu sentra produksi kakao di Indonesia tersebut.

Bantuan benih unggul tanaman kakao adalah sebanyak 1.5 juta batang untuk 1.500 hektare kepada kelompok tani di Kolaka Utara. Ini merupakan bantuan yang terbesar di Sulawesi tenggara yang totalnya mencapai 3,8 juta batang untuk 3.785 hektare.

“Tidak ada cara lain, pertanian Indonesia harus meningkatkan produktivitasnya dengan bibit unggul. Karena itu kita anggarkan Rp 5,5 triliun untuk bibit perkebunan dan hortikultura termasuk kakao, cengkeh, lada, kopi dan lain-lain untuk seluruh Indonesia,” kata Amran kepada petani yang hadir di Desa Kalahunde, Kecamatan Pakue Tengah, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

 border=

“Kami ingin, saudaraku petani terus berproduksi. Meningkatkan produktivitas dan kualitas. Bila perlu prosesingnya ke depan di tangan para petani. Sehingga nilai tambahnya bisa didapatkan. Kesejahteraan petani bisa meningkat,” pinta Amran.

Selama masa proses peremajaan mulai penebangan, penanaman kembali, hingga berbuah, ada waktu sela selama sekitar 2 tahun. Di masa sela itu, Menteri Arman meminta petani menanam jagung yang bibitnya juga dibagikan secara gratis.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Bantu Peremajaan Perkebunan Kakao Rakyat

Kolaka Utara merasakan masa keemasan untuk tanaman kakao pada tahun 1997. Bahkan ketika krisis ekonomi tengah melanda, petani kakao sejahtera karena harganya juga terkerek naik. Namun, sejak maraknya hama penyakit tanaman di tahun 2000-an, kakao tidak lagi menjadi primadona petani. Tanaman juga sudah berumur tua dan tidak produktif lagi.

Data Dinas Pertanian setempat menyebutkan, potensi kakao di Kolaka Utara mencapai 87 ribu hektare, dan 43 ribu harus segera direvitalisasi. Jika berhasil, maka akan bisa mengangkat kehidupan yang 80 persen masyatakatnya tergantung pada perkebunan kakao.

Bibit Kakao
(Bibit kakao. Image : Bobby Alimuddin)

“Bibit Kakao Sambung Pucuk yang kita bagikan ini adalah yang terbaik dan sudah tersertifikasi. Produktivitasnya 3,5 ton per hektare, atau 7 kali lipat dari yang ada saat ini. Usia 10 bulan sudah berbunga dan 18 bulan sudah berbuah,” jelas Amran.

“Kita harus hati-hati memilih bibit terutama perkebunan, karena jika salah, kerugiannya bisa hingga 20 tahun,” tambah Amran.

Baca Juga : Sektor Perkebunan Mampu Tampil Sebagai Penghasil Devisa Negara

Ke depan, Kolaka Utara diharapkan mampu mengembalikan kejayaan perkebunan kakao. Kemudian juga akan dibangun industri pengolahan sehingga petani tidak lagi menjual biji tapi produk siap konsumsi. Dengan demikian kesejahteraan petani meningkat dan menjaga kesinambungan perkebunan kakao di Kolaka Utara.

Dalam kesempatan itu, Kementan juga membagikan bibit kelapa, pupuk dan sejumlah alat mesin pertanian (alsintan) berupa hand tractor, traktor roda empat, combine harvester, hingga excavator.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan