border=

Luas Lahan dan Produksi Singkong Terus Menyusut

Produksi Singkong Terus Menyusut
(Panen Singkong. Meski kebutuhan terus meningkat, luas lahan dan produksi singkong Indonesia dari tahun ke tahun makin menyusut. Image : ist)
Pomidor.id – Luas lahan dan produksi singkong dari tahun ke tahun terus menyusut. Padahal, tingkat kebutuhan tanaman yang juga dikenal dengan nama ubi kayu ini semakin meningkat.

Menurut data Kementerian Pertanian (Kemtan), luas lahan singkong di tahun 2015 mencapai 1,016 juta hektare. Lalu di tahun 2016 mencapai 822.000 ha, dan semakin menyusut di tahun 2017 menjadi seluas 772.000 ha. Produksi singkong juga turut menyusut dari 20 juta ton di tahun 2016 menjadi 19 juta ton di tahun 2017.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi, sebagaimana dilansir Kontan, memprediksi, luas lahan dan produksi singkong di tahun 2018 akan terus menyusut. Sebab, petani lebih memilih tanaman yang memiliki masa panen di bawah 10 bulan. Sementara singkong memiliki masa panen sekitar 10 bulan.

 border=

“Artinya petani baru bisa dapat duit setelah 10 bulan. Terlalu lama. Akibatnya sangat banyak singkong yang ditanam lalu ditinggal tidak dirawat,” ujarnya, Rabu (12/12).

Baca Juga : Nugget Singkong, Penganan Rakyat Bercita Rasa Kekinian

Di sisi lain, kebutuhan nasional akan singkong semakin meningkat. Singkong menjadi bahan baku pemanis non gula, dan tepung tapioka.

Menurut Bayu, produktivitas singkong Indonesia padahal tidak buruk, yakni sekitar 20 ton per ha. Tidak jauh dibandingkan Thailand atau Vietnam, negara produsen singkong di ASEAN.

“Namun yang disayangkan bila produksi stagnan di 20 juta per ton. Padahal, potensi produktivitas sebenarnya bisa 40 juta ton sampai 50 juta ton per ha,” jelasnya.

Baca Juga : Rumput Laut dan Singkong Alternatif Pengganti Plastik

Saat ini, Lampung masih jadi sentra produksi singkong yakni sekitar 30% dari total produksi nasional, Jatim 10% dan Jateng 10%. Bahkan, menurut Bayu, impor terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan.

“Untuk itu perlu langkah-langkah dari pemerintah mulai dari dukungan keuangan untuk menjaga cash flow petani, teknologi meningkatkan produktivitas, dan infrastruktur,” imbuhnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan