border=

Membangun Ekonomi Kabupaten Malang dengan Agrowisata

Wisataagro Kebun Strawberry Pujon
(Kebun strawberry di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Jika dikelola dengan lebih serius, gaungnya tak akan kalah dengan tetangganya di Agrokusuma, Batu. Image : ist)
Pomidor.id – Jika berbicara tentang wisata pertanian atau agrowisata di wilayah Malang, hampir pasti orang akan langsung berpikir Batu. Ya, kota kecil yang terletak di barat laut Malang ini memang identik dengan wisata alam dan wisata kebunnya. Bagi orang luar daerah, melancong ke Malang belum lengkap rasanya kalau tidak pula menginjakkan kaki ke Batu.

Ketenaran Batu sebagai kota wisata tak bisa dilepaskan dari kondisi geografisnya yang berada di lereng pegunungan serta berudara sejuk. Selain itu, sejak menjadi kota otonom di tahun 2001 (dulunya adalah bagian dari Kabupaten Malang), Pemerintah Kota Batu fokus pada pembangunan di sektor pertanian dan pariwisata.

Pembangunan dua sektor yang kini juga dikenal sebagai agrowisata itu, perlahan tapi pasti membuahkan hasil. Roda ekonomi masyarakat Batu, termasuk mereka yang tinggal di desa-desa, banyak ditopang geliat pariwisata dan industri pertaniannya.

 border=

Sebenarnya konsep pembangunan yang mirip bisa diadopsi Kabupaten Malang. Ibarat raksasa yang sedang tidur-tidur ayam, Kabupaten Malang terkesan ogah-ogahan bangkit dari peraduannya. Wilayah yang luas justru terkesan terlihat sebagai beban ketimbang kelebihan bagi pemangku kepentingan di daerah ini.

Menurut Ketua DPRD Kabupaten Malang, Hari Sasongko, kesan itu memang sulit dihindari. Pasalnya, pengembangan wisata yang dilakukan pemerintah daerah sepertinya dilakukan tanpa perencanaan yang matang.

“Lihat saja Wendit. Konsep awalnya adalah wisata air, bahkan namanya pun Wendit Water Park. Namun karena pengelolaannya kurang optimal, tempat wisata ini ya begitu-begitu saja. Tidak ada yang wah,” kata Sasongko.

 border=

Baca Juga : Infrastruktur,Kunci Percepatan Geliat Ekonomi di Pesisir Kabupaten Malang

Padahal jika dikelola dengan baik, Wendit bisa menjadi salah satu ikon Kabupaten Malang. Apalagi lokasinya dekat Bandara Abd. Saleh, pintu masuk menuju Kota Malang dan sebagian besar wilayah Kabupaten Malang.

“Sayangnya, Wendit tambah lama tambah terkesan kumuh. Banyak PKL dan warung di pintu masuknya. Susah berharap pengunjung dari luar daerah mau mampir. Paling hanya lewat saja,” kritik Sasongko.

Hal yang hampir sama juga bisa ditemui pada tempat-tempat yang diplot menjadi destinasi wisata agro seperti Kebun Teh Lawang, Kebun Apel Poncokusumo, Kebun Strawberry Pujon, Kebun Jeruk Dau, serta Kebun Buah Naga di Bululawang.

Kebun Buah Naga di Bululawang
(Bululawang juga punya andalan agrowisata, yakni petik buah naga langsung dari kebunnya. Image : ist)

Kendati tempat-tempat bernuansa agrowisata tersebut sangat potensial dikembangkan, namun pengelolaannya kurang terintegrasi dengan baik.

“Jangankan orang luar daerah, orang Malang sendiri terkadang tidak ngeh kalau di Bululawang ada  wisata petik buah naga langsung dari kebun, misalnya,” tutur Sasongko.

Baca Juga : Mentan Dorong Malang Jadi Sentra Jeruk Nasional

Ia mengatakan, selain faktor promosi yang tak digarap serius, sarana dan prasarana penunjang juga kerap diabaikan.

“Wisata agro itu tak sekedar rekreasi, tapi juga ada unsur edukasinya. Kalau di kebun buah naga itu disediakan pula fasilitas di mana orang bisa belajar bagaimana proses budidaya buah naga mulai dari perawatan hingga pengemasan dan pengolahan paska panennya, maka akan lebih menarik minat orang berkunjung. Jadi tidak sekedar petik-petik buah, bayar, setelah itu pulang,” terangnya.

Kebun Jeruk Dau
(Selain menjadi tempat penelitian jeruk dan tanaman buah subtropika lainnya (BALITJESTRO), Kecamatan Dau juga memiliki kebun jeruk yang menawarkan wisata petik buah kepada para pengunjungnya. Image : ist)

Lebih lanjut pria yang juga pemerhati budaya di Malang ini menambahkan, ada kebutuhan untuk membuat satu kawasan terpadu jika hendak menggenjot potensi agrowisata di Kabupaten Malang. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari yang saat ini regulasinya tengah dalam penggodokan, bisa menjadi acuan.

“Pembangunan KEK di Singosari nantinya akan berdampak luas. Seperti meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya lapangan pekerjaan serta pendapatan pajak dari sektor bisnis dan pariwisata. Nah, sektor pariwisata ini yang harus digali habis-habisan. Potensinya sangat besar di Kabupaten Malang, termasuk agrowisatanya,” jelas Sasongko.

“Untuk kawasan-kawasan ekonomi khusus seperti ini, Pemerintah Kabupaten cukup sebagai penyedia sarana serta menetapkan regulasinya. Sisanya, serahkan saja pada swasta. Lebih efektif karena orientasi mereka pada profit. DPRD pasti akan mendukung penuh,” imbuhnya.

Baca Juga : Tukang Insinyur Impikan Wisata Petik Buah di Kebunnya

Meski demikian, ia menekankan, pengembangan agrowisata tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Pemerintah Kabupaten bisa bertindak sebagai fasilitator dengan menyediakan tempat khusus yang menampilkan beragam produk unggulan dari masing-masing daerah.

Kecamatan Pakis yang masih satu kawasan dengan Bandara Abd. Saleh, bisa menjadi alternatif.

“Keluar dari Lanud Abd. Saleh, ada jalan sepanjang kurang lebih 3 km sebelum masuk jalan raya Pakis-Tumpang. Di jalan itu bisa dibangun semacam rest area yang menyuguhkan apa-apa saja yang dimiliki Kabupaten Malang. Tentu lengkap dengan Tourism Information Centre,” ujarnya.

Jalan Menuju Abd Saleh
(Jalan raya menuju dan keluar Bandara Abd. Saleh dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan tempat-tempat wisata di Kabupaten Malang dan Malang Raya secara keseluruhan. Image : Pomidor)

Keberadaan Pusat Informasi Pariwisata sangat penting, terutama di jalan menuju dan keluar dari bandara. Pasalnya, bandara merupakan salah satu pintu masuk utama ke wilayah Malang Raya. Sehingga wisatawan, baik itu domestik maupun mancanegara, mendapat sekilas gambaran tempat-tempat menarik mana saja yang dapat mereka kunjungi.

Baca Juga : Jepang Tawarkan Sensasi Wisata Tinggal di Desa

“Akan sangat luar biasa kalau ini sampai terjadi. Petik tehnya di Lawang, minum sirup apelnya di Poncokusumo, makan buah naganya di Bululawang, tapi bikin kopinya di Dampit,” seloroh Sang Ketua Dewan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan