border=

Pemerintah Perlu Bantu Peremajaan Perkebunan Kakao Rakyat

Perkebunan Kakao Rakyat Banyak yang Musti Diremajakan
(Tanaman kakao yang dikelola masyarakat banyak yang sudah melampaui masa produksinya. Image : ist)
Pomidor.id – Pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian khusus terhadap perkebunan kakao rakyat karena mayoritas tanaman kakao yang dikelola masyarakat sudah uzur dan menurun produksinya. Perhatian khusus tersebut terutama pada bantuan peremajaan dan rehabilitasi tanaman.

Pengamat perkebunan Gamal Nasir mengatakan saat ini tren produksi kakao nasional meski meningkat, tapi tidak signifikan.

Hal ini diduga dengan mayoritas tanaman yang dikelola masyarakat telah melampaui usia produktif. Sedangkan bantuan pemerintah baru menyentuh 30 persen dari perkebunan milik masyarakat yang telah berumur rusak atau telah menurun produksi.

 border=

“Pemerintah harus serius menangani perkebunan kakao. Karena dari 1,7 juta ha perkebunan kakao, lebih dari 90 persen dari luasan tersebut dikelola oleh masyarakat. Sementara luas tanaman rusak mencapai 526.061 ha, sehingga perlu alokasi anggaran untuk peremajaan dan rehabilitasi tanaman kakao rakyat,” ujarnya, Senin (17/12).

Gamal berharap agar pabrik pengolahan kakao juga ikut berperan melakukan kemitraan untuk memfasilitasi masyarakat dalam memperbaiki perkebunan kakaonya.

Baca Juga : Sektor Perkebunan Mampu Tampil Sebagai Penghasil Devisa Negara

 border=

Ia mengutarakan selama ini kontribusi pabrik kakao terhadap penguatan perkebunan kakao masyarakat tidak signifikan, baru bersifat charity. Sehingga ada kesan pembinaannya hanya dalam skala terbatas dan hanya menyeret kelompok tani yang telah maju.

Menurut mantan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian itu, perbaikan perkebunan kakao rakyat tidak lagi semata-mata hanya membagikan bibit dan sarana pertanian lainnya. Namun juga dengan orientasi pada pengembangan kawasan terpadu.  Kawasan tersebut kemudian dimitrakan dengan industri pengolahan yang turut serta melakukan pembinaan terhadap petani.

“Pelaksanaan program sebelumnya sering bersifat spot-spot yang hanya memperbaiki kebun kakao di satu desa 5 hektare. Lalu di desa lain yang berjauhan 5 hektare,” paparnya.

Baca Juga : Peningkatan Produksi Coklat Berkorelasi dengan Deforestasi

Dengan kegiatan pengembangan kakao diharapkan terbangun sebuah kawasan kakao seluas 100 ha atau 200 ha yang dikelola oleh satu kelembagaan berikut hasil panennya.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah dua negara asal Afrika, Pantai Gading dan Ghana.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan