border=

Sektor Pertanian di Jepang Membuka Pintu bagi Pekerja Asing

Pekerja Asing di Pertanian di Jepang
(Seorang pekerja asal Vietnam memanen tomat di ladang pertanian di Asahi, Prefektur Chiba, Jepang. Image : Bloomberg)
Pomidor.id –  Meski dikenal sebagai negara pencipta robot paling produktif di dunia, termasuk pula robot untuk urusan esek-esek, Jepang ternyata cukup konservatif dalam penggunaan tenaga mesin “pintar” ini di sektor pertanian. Para pelaku usaha dan praktisi pertanian di Jepang lebih memilih menggunakan tenaga manusia ketimbang robot. Sayangnya, upaya untuk tetap menggunakan tenaga manusia ini dihadapkan pada satu masalah yang cukup berat. Regenerasi. Banyak petani Jepang yang kian uzur sementara penggantinya dari kaum muda tak sebanding jumlahnya.

Karena itu, Diet (Parlemen Jepang) bulan ini memutuskan untuk membuka pintu yang lebih luas bagi masuknya tenaga kerja dari luar negeri untuk bekerja di sektor pertanian di negara matahari terbit itu. Investasi jutaan dolar serta kiprah perusahaan-perusahaan semacam Kubota hingga Panasonic dalam pertanian berteknologi tinggi, dinilai masih belum dapat menggantikan kurangnya tenaga manusia dalam waktu dekat.

Selain itu, persoalan biaya juga menjadi kendala.

 border=

“Kami belum mampu jor-joran mengeluarkan modal untuk sepenuhnya mengotomatisasi produksi,” ujar Yasuji Kakuzaki, 67, seorang petani tomat.

Dikutip Japan Times, Petani di Prefektur Chiba itu menyambut baik keputusan parlemen yang mengijinkan perluasan perekrutan pekerja asing. Saat ini ada 1 pekerja asal Vietnam yang bekerja di lahan pertaniannya yang seluas 2 hektar, meningkat tajam dibandingkan hanya satu pekerja asing sepuluh tahun silam. Ia mempekerjakan mereka karena kesulitan mendapatkan pekerja asli Jepang yang mau digaji sesuai upah minimum yang ditetapkan pemerintah.

Pekerja Asing Memanen Sayuran
(Parlemen Jepang memberi lampu hijau untuk perluasan perekrutan tenaga kerja asing di sektor pertanian. Image : Asia Nikkei)

Baca Juga : Robot Pemetik Buah untuk Atasi Kekurangan Tenaga Kerja

Sedangkan bagi pekerja asing, bekerja dengan standar upah di Jepang, tentu sangat disyukuri.

Tran Thi My, misalnya. Buruh tani asal Vietnam itu mencari nafkah di Jepang sejak Februari 2016. Ia bekerja 7 jam sehari, 6 hari seminggu dengan upah ¥ 895/jam (Rp 117 rb/jam). Dengan upah sebesar itu ia mengatakan bisa membeli rumah di negaranya setelah kontraknya yang berdurasi tiga tahun berakhir.

“Jika tetap di Vietnam, saya butuh 15 tahun kerja keras untuk bisa membeli rumah,” jelas perempuan berusia 29 tahun itu.

Pengeluaran tahunan Kakuzaki untuk menggaji 5 pekerja asingnya sekitar ¥ 10 juta (Rp 1,3 milyar), sementara pendapatannya per tahun dari produksi tomat ¥ 50 juta (Rp 5,56 milyar). Masih menguntungkan. Kalau pun ia hendak memakai robot pemanen tomat buatan Panasonic, setidaknya ia masih harus menunggu hingga tahun 2020.

Saat ini, industri pertanian di Jepang memperkerjakan 7.300 pekerja asing sejak April lalu. Di bawah regulasi baru, jumlah itu diperkirakan akan melonjak hingga 36.500 pada bulan Maret 2024. Selain pertanian, industri yang menerima pekerja asing adalah rumah jompo, restoran dan hotel.

Baca Juga : Jepang Tawarkan Sensasi Wisata Tinggal di Desa

Petani Muda Jepang
(Tak banyak generasi muda Jepang yang mau melanjutkan profesi bertani yang ditekuni orang tuanya. Image : Pinterest)

Data yang dirilis tahun lalu oleh Kementerian Pertanian, Kehutanan  dan perikanan Jepang, jumlah petani di negara itu 1,82 juta. Menyusut 56 persen dari tahun 1995. Usia rata-rata petani juga cenderung kian tua, yakni 67 tahun dibandingkan 59 tahun pada periode yang sama.

Ketika petani memutuskan untuk pensiun, profesi ini jarang yang dilanjutkan anak-anak mereka. Kaum muda Jepang kebanyakan lebih suka bekerja di kantor-kantor di perkotaan dengan gaji yang lebih baik.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan