5 Metode Pertanian Ramah Lingkungan

Metode Pertanian Ramah Lingkungan
(Bertani tak hanya mengambil. Tapi sekaligus juga memberi. Image : NSW)
Pomidor.id – Pertanian sudah lama dituding sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan. Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk perluasan lahan, penghancuran habitat asli di suatu wilayah, penggunaan pestisida tak terkendali, emisi karbon yang dilepaskan dalam jumlah besar ke atmosfir saat pengolahan lahan, adalah beberapa contoh betapa sektor penghasil pangan ini memiliki kontribusi besar bagi kerusakan lingkungan. 

Akan tetapi merombak total metode pertanian konvensional yang sama sekali tak bersahabat dengan lingkungan ini juga sesuatu yang mustahil. Apalagi PBB memperkirakan jumlah warga bumi di tahun 2050 bakal mendekati 10 milyar jiwa. Sehingga semakin banyak pula kebutuhan pangan yang musti disediakan planet ini untuk memberi makan penduduknya.

Yang bisa dilakukan sekarang adalah mencari alternatif yang bisa mengurangi dampak negatifnya. Sudah banyak pemangku kebijakan di berbagai negara serta pemerhati lingkungan yang aktif menyuarakan solusi metode pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.

Berikut 5 metode pertanian berkelanjutan terbaik yang menjamin penyediaan pangan tapi juga paling minim menimbulkan kerusakan pada lingkungan.

  1. Permakultur

Permakultur adalah metode pertanian yang mengutamakan budidaya sayuran atau tanaman yang menyesuaikan dengan ekosistem alaminya. Metode ini menerapkan prinsip-prinsip alami yang menggabungkan antara smart farming dan desain demi mengurangi pemborosan sumber daya dan meningkatkan efisiensi produksi.

Teknik desain dalam permakultur termasuk menanam biji-bijian dan sayuran tanpa harus mengolah tanah. Sekitar tanah yang hendak ditanami cukup diberi gundukkan kompos, jerami atau tumpukkan kayu yang sudah membusuk. Teknik ini membantu meningkatkan kesuburan tanah, menahan air serta menjaga mikroorganisme yang bermanfaat untuk tanaman yang tumbuh di atasnya atau di sekitar gundukkan tersebut.

Permakultur
(Metode permakultur. Image : Fermedubec)

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Musti Beli Sayur & Buah dari Petani Lokal

  1. Aquaponik dan Hidroponik

Baik aquaponik maupun hidroponik sama-sama merupakan metode pertanian inovatif tanpa bergantung pada media tanah. Untuk pemberian nutrisi pada tanaman, kedua sistem ini menggunakan perantara air.

Meski demikian, ada perbedaan antara aquaponik dengan hidroponik. Jika hidroponik bertumpu pada air yang mengandung mineral untuk memberi makan akar tanaman secara terpisah, tidak demikian dengan aquaponik. Aquaponik merupakan gabungan antara sistem hidroponik dan aquakultur (memelihara ikan). Aquaponik memanfaatkan kotoran ikan untuk diurai dan diubah menjadi bakteri melalui proses nitrifikasi. Proses tersebut kemudian menghasilkan nutrisi bagi tanaman.

Mengingat kelebihannya yang tidak bergantung pada media tanah dan tingkat pencemarannya rendah, dua sistem ini diyakini akan menjadi metode pertanian yang akan semakin banyak dipakai di masa mendatang.

Aquaponik
(Metode aquaponik. Image : UMN)
  1. Penggunaan Sumber Energi Terbarukan

Pertanian berkelanjutan melibatkan penggunaan sumber-sumber energi alternatif terbarukan (tidak ada habisnya). Misalnya, energi dari tenaga air, tenaga surya atau tenaga angin yang ramah lingkungan.

Saat ini sudah banyak dimanfaatkan panel surya untuk menjalankan pompa dan pemanas. Begitu pula dengan tenaga hidroelektrik yang bersumber dari aliran air sungai. Energi ini dapat digunakan untuk menggerakan berbagai mesin pertanian.

Energi Terbarukan dari Angin
(Memanfaatkan energi terbarukan dari angin. Image : Framepool)

Baca Juga : Libatkan Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Air Bersih

  1. Rotasi Tanaman dan Polikultur

Sering-sering merotasi tanaman serta menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama (polikultur), adalah metode yang patut dilakukan. Praktek bertani semacam ini berlawanan dengan metode monokultur yang terus menerus membudidayakan satu jenis tanaman pada lahan yang luas.

Karena mengadopsi konsep keanekaragaman ekosistem alami, metode polikultur efektif mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit. Berkurangnya potensi serangan hama dan penyakit otomatis akan mengurangi pula kebutuhan penggunaan pestisida atau bahan-bahan kimia sintetis lainnya.

Tumpang sari adalah salah satu contoh penerapan polikultur.

Polikultur
(Metode polikultur atau tumpang sari. Image : Shuttlestock)
  1. Agroforestri

Agrofestri adalah metode pertanian yang menggabungkan antara budidaya tanaman pertanian jangka pendek seperti sayur-sayuran, dengan penanaman pepohonan untuk tujuan pengelolaan kehutanan. Metode ini menguntungkan secara ekonomis maupun untuk konservasi lingkungan.

Dibandingkan dengan pertanian konvensional, agroforestri dalam jangka panjang lebih berpotensi melipatgandakan hasil panen. Sementara di sisi lain, biaya operasional untuk pembelian pupuk kimia dan pestisida pun bisa ditekan secara signifikan.

Metode Agroforestri
(Metode agrofestri. Image : Agforward)

Baca Juga : Bertani itu Bersedekah

Pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan cepat atau lambat adalah hal yang tak bisa dihindari. Ini bukan soal setuju tidak setuju. Bukan pula soal peduli atau bersikap masa bodoh.Tapi ini soal fakta yang ada di depan mata kita. Bumi akan kian kesulitan menghidupi seluruh penghuninya jika manusia sebagai pemuncak rantai makanan masih saja berlaku pongah dan menganggap boleh bertindak semau-maunya terhadap alam.

Bertani itu bersedekah. Kita mengambil sekaligus mengembalikan pada alam sebagian yang telah kita nikmati. Bukan melulu mengekploitasinya tanpa batas. Nanti kalau pada satu titik ketika alam betul-betul “ngambek”, kita sendiri, lho, yang bakalan repot.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan