5 Tanaman Buah yang Paling Banyak Direkayasa Genetikanya

Tanaman buah GMO
(Dari laboratorium lah buah-buahan GMO diproduksi. Sebagian di antaranya bisa jadi sering kita konsumsi sebagai makanan pencuci mulut. Image : Etarim)
Pomidor.id – Walau pun selalu mengundang kontroversi, para ilmuwan tak pernah berhenti melakukan rekayasa genetika pada tanaman, khususnya tanaman buah. Pertimbangannya macam-macam. Tapi umumnya rekayasa genetika dilakukan untuk memperkuat daya tahan terhadap serangan hama dan penyakit, mampu beradaptasi dengan iklim, meningkatkan hasil panen hingga memberi rasa baru yang berbeda dari tanaman aslinya.

Dari sekian banyak tanaman buah GMO (Genetically Modified Organism) atau yang genetikanya sudah tidak murni lagi, beberapa di antaranya sudah sangat familiar. Bahkan mungkin setiap hari kita konsumsi. Berikut urut-urutan 5 tanaman buah yang paling banyak atau paling sering direkayasa genetikanya.

  1. TomatTomat GMO

Ada beribu jenis varietas tanaman tomat yang tumbuh di planet ini. Sebagian besar asli. Namun sebagian lainnya adalah produk dari penelitian di berbagai laboratorium atau tempat riset perusahaan-perusahaan penyedia benih.

Tomat adalah tanaman buah (ada yang menggolongkannya sebagai sayur) yang sangat populer. Budaya kuliner di berbagai negara hampir tak ada yang tak mengenal tomat. Pasalnya, tanaman yang asal muasalnya dari daratan Amerika ini dikenal sebagai penambah cita rasa sekaligus mempercantik tampilan masakan.

Genetika tanaman tomat sejak lama diutak atik untuk mendapatkan varian tomat baru yang tahan penyakit, lebih besar atau lebih kecil, lebih menarik, dlsb. Sekedar info, tak lama lagi akan diluncurkan varietas tomat rasa cabai alias tomat pedas. Nah, lho. Memunculkan senyawa capsaicin (rasa pedas) pada tomat tak mungkin tanpa “mengobrak abrik” genetikanya.

  1. PisangPisang GMO

Alasan mendasar merekayasa genetika tanaman pisang adalah membuatnya resisten terhadap penyakit fusarium wilt. Penyakit yang disebabkan jamur fusarium ini dapat menghancurkan industri pisang global karena penyebarannya yang sangat cepat dan sulit ditanggulangi.

Pisang jenis Cavendish yang memegang 80 persen perdagangan pisang internasional, sangat rentan terhadap ancaman fusarium wilt. Apalagi perkebunan-perkebunan besar menanam pisang Cavendish secara monokultur sehingga memperbesar resiko luluh lantak terserang penyakit yang sama.

Baca Juga : Panama Disease Ancam Industri Perdagangan Pisang Global

Seiring waktu, rekayasa genetika pada pisang Cavendish tak hanya demi tahan penyakit. Tapi juga sudah berkembang pada keseragaman ukuran serta warna kulit dan buahnya.

  1. StrawberryStrawberry GMO

Pernah melihat buah strawberry seukuran kepalan tangan manusia biasa? Atau yang warnanya biru atau ungu terang? Campur tangan manusia lah yang membuat strawberry bisa berukuran raksasa serta berwarna warni.

Sebagai komoditas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, sayangnya strawberry memiliki kekurangan gampang keriput serta busuk. Untuk mengatasi hal ini, litbang (penelitian dan pengembangan) suplier-suplier besar merekayasa genetik strawberry agar awet dan tahan menempuh perjalanan jauh tanpa khawatir cepat membusuk.

Namun belum lama ini pengadilan Uni Eropa memberlakukan aturan yang mensyaratkan pemberian label pada strawberry GMO. Penjualannya pun dibatasi. Semuanya ini demi melindungi dan memberi pilihan pada konsumen yang peka akan isu-isu tanaman transgenik. Monsanto disebut sebagai pemain utama di strawberry GMO.

Baca Juga : Tak Suka Makanan Transgenik? Jangan Makan Jagung!

  1. ApelApel GMO

Buah apel yang secara resmi diklaim sebagai produk GMO adalah apel Arctic. Apel Arctic sebenarnya berasal dari apel biasa varietas Golden Delicious, Granny Smith, Fuji dan Gala. Hanya saja, apel ini sudah mengalami modifikasi pada genetikanya.

Hasilnya, apel Arctic memiliki kelebihan dibanding buah apel pada umumnya. Dagingnya tidak berubah warna menjadi coklat kusam setelah digigit atau dipotong, bahkan beberapa hari setelahnya. Perubahan warna itu disebabkan enzim yang disebut polifenol oksidae (PPO) yang dikeluarkan apel.

Meski demikian, perluasan jenis apel ini ditentang banyak pihak. Pasalnya, dengan PPO yang rendah, apel Arctic dituding menipu konsumen karena kesegaran buahnya dianggap tidak murni lagi alias boong-boongan.

Paska apel Arctic, diperkirakan akan muncul varietas-varietas baru apel hasil rekayasa genetika. Departemen Kesehatan dan lembaga perlindungan konsumen di sejumlah negara maju mendesak peredaran apel-apel ini disertai dengan pencantuman label GMO. Sehingga konsumen pun mendapat informasi yang benar.

Baca Juga : Apel Transgenik Mulai Dijual Secara Komersial Di AS

  1. PepayaPepaya GMO

Seorang pakar biologi tanaman bernama Dennis Goncalves, mengembangkan pepaya Rainbow. Pepaya ini direkayasa genetikanya dengan memasukkan gen dari virus ke DNA tanaman. Tujuannya agar resisten terhadap penyakit bercak cincin yang mematikan bagi tanaman pepaya.

Pepaya Rainbow diperkenalkan untuk pertama kalinya di tahun 1992. Kemunculan pepaya ini menyelamatkan industri pepaya di Hawaii dari kerugian senilai USD 11 juta.

Karena terbukti tahan penyakit, pepaya Rainbow kemudian banyak dibudidayakan di negara-negara produsen pepaya, tak terkecuali di Indonesia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan