“Ada Niat Menuju ke Pertanian Ramah Lingkungan. Tapi…”

Pertanian Ramah Lingkungan
(Penanaman varietas padi hibrida untuk menggenjot produksi dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang sebaiknya juga dipikirkan pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Uji penanaman padi hibrida jenis Brang Biji di demplot Kepanjen dan Singosari, menyimpulkan satu hal. Keinginan mengejar lonjakan produksi untuk sementara adalah fokus utama terkait persoalan pangan di Kabupaten Malang. Sebab, sebagaimana varietas padi hibrida, termasuk Brang Biji, tingkat produktivitas yang tinggi selalu dibarengi pula dengan tingginya biaya produksi pengadaan pupuk. Ini karena sifat bawaan padi hibrida yang rakus akan pupuk.

Rakusnya varietas padi hibrida akan pupuk, tentu membawa dampak lain. Penggunaan pupuk dalam jumlah besar, khususnya pupuk anorganik, menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. Jika tidak, sulit berharap hasil panen sesuai target. Bisa-bisa pertumbuhan tanaman padi justru “ngadat” di tengah jalan.

“Saat ini kami fokus dulu di peningkatan produksi. Makanya benih yang dipakai adalah benih padi hibrida. Memang iya rakus di pupuk. Tapi hasil panenannya lebih banyak. Jika dirawat dengan baik dan sesuai dengan juklak (petunjuk pelaksanaan, red) teknisnya, produksinya bisa naik hampir dua kali lipat,” ujar Moh Jamil, mantri tani merangkap koordinator penyuluh pertanian di BPP Singosari.

“Kalau dibilang kami mengorbankan kesuburan tanah demi mengejar produksi, itu tidak benar. Kami ingin agar terus berkurangnya lahan pertanian, terutama sawah, diimbangi dengan penanaman benih padi berproduktivitas tinggi di sawah-sawah yang ada. Salah satunya benih padi hibrida Brang Biji ini,” tutur Jamil.

Meski demikian, ia tak menampik jika penanaman padi jenis hibrida memiliki efek samping. Misalnya, ketergantungan petani pada benih F1 karena turunan padi hibrida (F2) tak bisa dipakai sebagai benih di masa tanam berikutnya. Kemudian selain harga benihnya lebih mahal, budidaya padi hibrida juga boros di ongkos produksi.

Yang paling mencemaskan, terus menerus menggunakan padi hibrida dalam jangka panjang akan berdampak kurang menguntungkan bagi lingkungan. Pasalnya, padi hibrida tak hanya rakus pupuk. Namun juga lebih rentan serangan hama dan penyakit sehingga mendorong aplikasi pestisida kimiawi yang lebih besar.

Baca Juga : Serbuan Hama dan Penyakit Ancam Ketahanan Pangan Global

Oleh karena itu, ia mengatakan sudah ada keinginan untuk secara bertahap melakukan perubahan ke arah pertanian berkelanjutan.

“Ada niat menuju ke pertanian ramah lingkungan. Tapi itu kan tidak bisa dilakukan seketika. Ada prosesnya. Dan itu butuh waktu,” lanjutnya.

Jamil menjelaskan, seandainya hendak mengubah sawah konvensional menjadi sawah organik yang lebih ramah lingkungan, paling cepat butuh waktu hingga 4 tahun atau 10 kali panen. Itu pun setiap kali musim tanam harus dikurangi secara bertahap penggunaan pupuk kimianya. Sebaliknya, pemberian agen hayati dan pupuk kandang musti diperbanyak untuk mempercepat kesuburan tanah. Jika tidak, akan ada guncangan produksi. Atau dengan kata lain, produksi anjlok bahkan bisa-bisa gagal panen.

“Sekarang tinggal kemauan pemangku kebijakan dan petaninya itu sendiri. Mau tidak beralih ke pertanian ramah lingkungan. Dilihat dari sisi ekonomis, padi dari sawah organik harganya juga jauh lebih mahal dibandingkan yang dihasilkan dari sawah konvensional. Tapi ya itu tadi. Prosesnya tidak ujug-ujug begitu saja,” urai Jamil.

Nyawur Pupuk
(Mantri tani Moh Jamil memberikan aplikasi pupuk kimia di demplot padi hibrida Brang Biji di Karanglo, Singosari, Kabupaten Malang. Image : Pomidor)

Baca Juga : Sister City di Sektor Pertanian dengan Negara Lain, Kenapa Tidak?

Sebelumnya, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Budiar, mengatakan sangat mendukung upaya menggenjot produksi tanaman padi di wilayahnya.

Mengenai persoalan apakah upaya itu selaras dengan keinginan menuju pertanian ramah lingkungan (sustainable agriculture) atau tidak, adalah persoalan yang tidak bisa dilihat secara parsial. Sepotong-sepotong. Dibutuhkan keterlibatan dan pemahaman yang sama seluruh stakeholder yang berkepentingan di masalah pangan ini. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi hingga petani.

“Jangan karena mengejar pertanian ramah lingkungan lantas mengabaikan hal yang tak kalah pentingnya. Produksi. Dua-duanya musti sejalan,” kata Budiar.

“Kuncinya memang di inovasi dan teknologi bagaimana menerapkan pertanian yang berkelanjutan tapi tidak mengganggu produksi. Saya mendukung inovasi apa pun untuk meningkatkan ketahanan pangan di masyarakat. Kalau bisa ya ramah di lingkungan, ya bagus di produksi,” tandasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan