border=

Alat Mesin Pertanian Dorong Peningkatan Produksi Pertanian

Alat Mesin Pertanian
(Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menjajal salah satu alat mesin pertanian. Mekanisasi sektor pertanian terbukti meningkatkan produksi dan mensejahterakan petani. Image : Dok. Kementan)
Pomidor.id – Hasil analisis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian di tahun 2015, jumlah tenaga kerja pada sektor tanaman pangan terbanyak adalah petani berusia kurang 60 tahun, kemudian disusul usia 40 hingga 45 tahun. Dampaknya, kapasitas kerja tanam padi per satuan hektar sangat rendah dan biaya tanam pun mahal. Untuk mengatasi hal ini, Kementan mempercepat pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) di sentra-sentra produksi pertanian, khususnya padi..

Salah satu alat mesin pertanian yang pengadaannya menjadi fokus Kementan adalah mesin tanam padi atau transplanter.

“Masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit (transplanter) padi. Mesin transplanter adalah sebagai solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi. Hemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. Ini mampu menurunkan biaya produksi budidaya padi,” demikian diungkapkan Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Andi Nur Alam Syah dalam keterangan tertulis, Jum’at (4/1).

 border=

Baca Juga : Mekanisasi Bentuk Transformasi Menuju Pertanian Modern

Dampak nyata penggunakan mesin tanam padi ini, sambungnya, terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan rata-rata kinerja 1 mesin transplanter dengan 1 orang operator dan 2 asistennya dapat menggantikan antara 15 hingga 27 hari orang kerja (HOK). Sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1 hingga 1,2 hektar per hari.

Dari sisi biaya juga lebih ekonomis. Dengan Mesin Transplanter Jarwo 2.1 buatan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan, biaya tanam per hektar Rp 1,1 juta. Jauh lebih murah dibanding tanam padi secara manual yang membutuhkan rata-rata Rp 1,72 juta/hektar.

 border=

“Keuntungan lain dari cara tanam dengan mesin transplanter munculnya usaha pembibitan padi, karena mesin memerlukan bibit khusus, yaitu umur bibit harus kurang dari 18 hari dan bibit harus ditaruh pada kotak mesin (tipe dapog) sesuai ukuran mesinnya. Rata-rata kebutuhan bibit sebanyak 250 sampai 300 dapog per hektar,” jelas Andi Nur.

Baca Juga : Mobil Pengering Jagung Bantu Petani Jagung Indonesia

Sementara itu, dalam rilisnya Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan modernisasi berupa pemanfaatan alat mesin pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Program mekanisasi pertanian Kementan tidak hanya berperan nyata dalam meningkatkan produksi pangan. Namun juga menjadi solusi untuk mengatasi langkanya tenaga kerja di sektor pertanian.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan