border=

Biaya Produksi Tinggi Sebabkan Harga Gula Mahal

Biaya Produksi Tinggi Sebabkan Harga Gula Mahal
(Produktivitas tebu Indonesia tergolong rendah. Image : ist)
Pomidor.id – Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih mahal dibandingkan harga gula di pasar internasional. Tingginya harga gula lokal mengindikasikan adanya biaya produksi tinggi di tingkat produsen lokal.

Hal itu diungkapkan peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman, dalam keterangan tertulisnya. Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya produktivitas gula lokal adalah banyak pabrik gula di Indonesia yang sudah sangat tua.

Pabrik-pabrik gula ini perlu mendapatkan revitalisasi mesin produksi. Belum lagi mempertimbangkan kualitas tebu yang ditanam yang dipengaruhi oleh faktor geografis dan iklim lokal.

Baca Juga : Kejar Swasembada Gula, Pemerintah Beri Perhatian Khusus Petani Tebu

“Menekan impor gula bukan pekerjaan mudah. Menekan impor gula dapat dilakukan apabila produksi dalam negeri sudah mencukupi permintaan dan tersedia pada harga yang terjangkau di pasar. Tentunya dengan memiliki komoditas gula yang terjangkau dan tersedia secara lokal. Baik produsen maupun konsumen sama-sama beruntung,” jelasnya.

Berdasarkan data USDA dan BPS pada 2009-2018, harga gula yang beredar di pasaran (gula kristal putih) menunjukkan perbedaan menyolok. Harga produk domestik hampir tiga kali lebih mahal dari harga internasional. Mahalnya harga gula lokal ini disebabkan oleh faktor biaya produksi tinggi.

Sebagai perbandingan, data dari United States Department of Agriculture (USDA) 2018, produktivitas perkebunan tebu di Indonesia hanya mencapai 68,29 ton per hektar di tahun 2017. Jumlah ini lebih rendah daripada negara-negara penghasil gula lainnya, seperti Brasil yang sebesar 68,94 ton per hektar dan India yang sebesar 70,02 ton per hektar dalam periode yang sama.

Baca Juga : Evaluasi Kebijakan Tata Niaga Gula Mendesak Dilakukan

Dengan kondisi ini, upaya menekan gula impor tentunya dapat berpotensi mengurangi peredaran gula di pasar, yang pada akhirnya bisa meningkatkan harga menjadi jauh lebih mahal lagi. Pada akhirnya, konsumen dan unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan menanggung kerugian.

“Mempertimbangkan penekanan impor gula bukan merupakan hal yang salah, namun sebaiknya yang patut diutamakan adalah peningkatan daya saing pabrik gula Indonesia. Kebijakan pemerintah yang mendorong modernisasi pabrik gula dapat menjadi salah satu langkah awal yang patut dipertimbangkan untuk menekan harga gula,” tandasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan