Fakta di Balik Tradisi Perburuan Ikan Paus di Jepang

Perburuan Ikan Paus Tradisi di Jepang
(Karena dianggap bagian dari tradisi dan budaya kuliner, Jepang enggan menghentikan aktivitas berburu ikan paus dan memilih keluar dari International Whaling Commision. Image : Kyodo/AP)
Pomidor.id – Keputusan Pemerintah Jepang keluar dari Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (International Whaling Commision/IWC), mengundang kritik keras dari berbagai negara. Apalagi keputusan itu kemudian diikuti dengan ijin yang memperbolehkan kembali perburuan ikan paus untuk tujuan komersial di perairan teritorial dan zona ekonomi eksklusifnya.

Pemerintah Jepang berkilah, berburu ikan paus sudah lama menjadi tradisi warganya. Selain itu, paus dianggap bukanlah spesies yang terancam punah sebagaimana dinyatakan IWC.

Dua alasan di atas sesungguhnya masih bisa diperdebatkan. Yang lebih aneh adalah alasan berikutnya. Menyantap daging paus dinilai lebih ramah lingkungan. Pasalnya, paus, sebagaimana ikan-ikan lain di lautan lepas, berkembang biak secara alami. Berbeda dengan hewan ternak yang diproduksi besar-besaran dalam skala industri sehingga dituding sebagai penyebab utama deforestasi, emisi gas rumah kaca serta kerusakan lingkungan pada umumnya.

Sebuah artikel yang pernah dipublikasikan Sankei Shimbun, bahkan menggunakan alasan ketiga ini untuk mempromosikan perburuan ikan paus. Dalam artikel itu dijelaskan bahwa jumlah karbon dioksida yang dihasilkan 1 kg daging paus dihitung dari jarak yang ditempuh kapal penangkap ikan, kurang dari sepersepuluh jumlah karbon dioksida yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg daging sapi.

Hasil Tangkapan Paus Bungkuk
(Hasil tangkapan Paus Bungkuk. 60 persen warga Jepang mendukung diteruskannya tradisi perburuan ikan paus. Image : Phys)

Baca Juga : China Berencana Produksi Daging Palsu. Mau?

Dalam talk show di sebuah radio di Jepang akhir tahun lalu, sempat ada survey yang menanyakan kepada para pekerja tentang seberapa jauh keinginan mereka untuk makan daging paus. Sekitar 33 persen responden menjawab sangat ingin. Sementara 67 persen lainnya ada yang mengatakan tidak akan menolak jika ditawari, namun ada pula yang sama sekali tidak ingin mengkonsumsinya.

Menariknya, jawaban yang diberikan berkorelasi ternyata langsung dengan usia responden.

Bagi generasi yang lebih tua, daging paus menjadi sumber protein dan makanan pokok adalah karena paska Perang Dunia II, Jepang mengalami kekurangan makanan yang hebat. Alternatif paling memungkinkan untuk menghindari kelaparan adalah memanfaatkan sumber daya yang ada di lautan, tak terkecuali ikan paus.

Selain itu, bagi mereka yang sudah berumur, makan ikan paus ada kaitannya dengan nostalgia masa kanak-kanak. Ketika masih bersekolah, menu daging ikan paus adalah komponen inti makan siang di sekolah.

Nostalgia Makan Paus
(Bagi generasi gaek di Jepang, menyantap daging ikan paus ibarat bernostalgia ketika daging mamalia laut itu menjadi sumber nutrisi utama makan siang di sekolah. Image : Japan Times)

Baca Juga : Tuna Sirip Biru Berbobot 278 Kg Pecahkan Rekor Termahal di Jepang

Namun banyak hal berubah ketika Jepang tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi global. Perubahan itu termasuk kemampuan pemerintah Jepang menyediakan beragam sumber nutrisi bagi warganya seperti daging ayam, babi dan sapi.

Menurut data Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang yang dirilis laman Kenichi Ohmae’s Business Breakthrough pada Juli 2018, di tahun 1960 rata-rata orang Jepang mengkonsumsi 5,2 kg daging. Tahun 1995, jumlahnya meningkat menjadi 28,5 kg dan bertambah 31,6 kg di tahun 2016.

Sebaliknya, konsumsi ikan per kapita di negeri matahari terbit itu adalah 27,8 kg di tahun 1960. Jumlahnya naik menjadi 40,2 kg di tahun 2001, tetapi kemudian berangsur-angsur turun. Di tahun 2016, orang Jepang mengkonsumsi rata-rata 24,6 kg ikan.

Perubahan ini menunjukkan telah terjadi keseimbangan konsumsi protein di Jepang. Meski demikian, di antara negara-negara maju Jepang adalah yang paling sedikit mengkonsumsi daging ternak.

Baca Juga : FAO : Pola Makan Jepang Role Model Gaya Hidup Sehat

Hal lain yang membuat konsumsi daging di negeri sakura bervariasi adalah faktor demografi dan tren sosial. Yang terakhir ini biasanya berhubungan erat dengan kesehatan. Seorang wanita yang peduli dengan masalah berat badan, cenderung memilih daging ayam yang lebih rendah kalori ketimbang daging sapi atau babi.

Daging Ikan Paus Dijual di Toko Daging
(Seorang pembeli melihat-lihat daging paus di toko daging di Toyonaka, Prefektur Osaka. Kendati harganya lebih mahal, daging paus dijual di tempat yang sama seperti daging-daging lainnya seperti daging babi atau sapi. Image : Kyodo/AP)

Konsumsi daging memang cukup tinggi di kalangan kaum muda. Namun konsumsi ikan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sekitar seperempat warga Jepang berusia di atas 70 tahun memilih hanya makan ikan untuk menu sehari-harinya. Perubahan pola konsumsi daging ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepedulian terhadap lingkungan atau kesejahteraan hewan. Murni faktor kesehatan.

Oleh karena itu, isu diperbolehkannya kembali perburuan ikan paus komersial kurang menggema di Jepang. Dari survey yang dilakukan, nyaris tidak ada responden yang menjawab mereka tidak mau makan paus karena keberatan membunuhnya. Begitu pula dengan kenyataan bahwa ikan raksasa itu terancam punah jika terus menerus diburu.

Dua alasan inilah yang mendasari IWC mengecam keras perburuan ikan paus. Akan tetapi bagi sebagian besar masyarakat Jepang, daging adalah daging. Mau daging paus atau daging sapi, tetaplah daging untuk dikonsumsi.

Baca Juga : Sepertiga Hasil Tangkapan Ikan Tak Pernah Sampai ke Meja Makan Kita

Pandangan ini tentu saja berbahaya bagi populasi ikan paus. Karena termasuk mamalia, daging mereka memiliki lebih banyak kesamaan dengan daging merah lainnya dibandingkan ikan biasa. Daging ikan paus berlemak disebut “bacon” (sebutan yang sama digunakan untuk daging babi asap). Daging paus juga sering digunakan sebagai bahan protein dalam banyak hidangan khas Jepang.

Daging Paus Kalengan
(Jika di sini ikan sardin yang dikalengkan, di Jepang daging paus pun dikalengkan. Image : Tokyo Times)

Di pasar komersial, daging paus dimasukkan dalam kelompok daging-dagingan, bukan seafood. Kalau pun jumlahnya tidak sebanyak daging ayam, babi atau sapi, daging mamalia terbesar di dunia ini tetap digolongkan sebagai daging konsumsi khusus seperti daging kuda atau hewan buruan lainnya.

Bisnis daging paus sangat menggiurkan di Jepang. Hal ini karena harganya yang relatif mahal, yakni ¥ 2.300/ons (sekitar Rp 300 ribu/ons, atau Rp 3 juta per/kg). Padahal seekor ikan paus bobotnya bisa berton-ton. Tak heran jika sangat sulit menghentikan perburuan ikan paus. Apalagi mengkonsumsi daging ikan paus sudah dianggap sebagai tradisi dan bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner masyarakat Jepang.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan