Pola Makan Global Musti Diubah demi Kesehatan dan Penyelamatan Bumi

Pola Makan Global Perlu Diubah
(Konsumsi daging merah yang berlebihan selain buruk bagi kesehatan, juga menambah berat beban bumi memberi makan seluruh penduduknya. Image : Getty Images)
Pomidor.id – Menuju tiga dekade ke depan, kebiasan atau pola makan global harus diubah secara drastis. Pasalnya, konsumsi daging serta gula yang tak terkendali bukan hanya buruk bagi kesehatan, tapi juga buruk bagi bumi.

Demikian kesimpulan laporan EAT-Lancet, sebuah komisi yang menaungi banyak ilmuwan yang peduli terhadap persoalan pangan berkelanjutan dan kesehatan. Selama tiga tahun, 37 pakar dari 16 negara, mengerjakan laporan tersebut. Para pakar yang bergabung memiliki kompetensi di bidang kesehatan, gizi, kelestarian lingkungan, sistem pangan, ekonomi dan politik.

Dalam laporannya, EAT-Lancet memaparkan bahwa konsumsi masyarakat dunia terhadap daging ternak dan gula musti dikurangi hingga separuhnya. Hal ini agar bumi dapat memberi makan seluruh penduduknya yang diperkirakan akan mencapai 10 milyar jiwa di tahun 2050.

Di saat yang bersamaan, pengurangan menyantap daging dan gula itu dapat disubtitusi dengan lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati seperti sayur, buah-buahan, kacang-kacangan, dlsb.

Oleh karena itu, dunia pertanian sebaiknya diarahkan untuk lebih banyak memproduksi makanan berbasis tumbuhan tersebut demi mengurangi tekanan pada lingkungan. Dalam skala luas, upaya yang sama juga diperlukan untuk melindungi sumber daya laut serta meminimalisir makanan yang terbuang sia-sia.

Data FAO PBB, hampir 30 persen produksi makanan tak dapat dikonsumsi. Bisa karena busuk atau dibuang-buang begitu saja karena sudah tak menarik selera makan. Padahal tak kurang dari 800 juta penduduk harus menahan lapar setiap harinya.

Waste Food
(Makanlah secukupnya. Kemaruk menuruti nafsu tapi tak mampu menghabiskannya, makanan yang Sampeyan buang-buang itu bisa mengganjal rasa lapar orang lain. Image : Phys)

Baca Juga : Food Loss, Makanan yang Terbuang Sia-sia di Indonesia Mengkhawatirkan

Di sisi lain, anjuran untuk mengubah pola makan global itu perlu didukung ditinjau dari manfaatnya yang besar bagi kesehatan. Hal ini dikatakan Dr. Walter Willet, komisioner Eat-Lancet sekaligus profesor epidemiologi dan nutrisi dari jurusan Kesehatan Masyarakat di Harvard T.H. Chan School.

“Sekitar 11 juta kematian prematur setiap tahunnya dapat dihindari jika semua orang mengadopsi kebiasaan makan yang sehat ini,” ujar Dr. Willet.

Pola makan berkelanjutan yang direkomendasikan komisi, tambahnya, adalah memperbanyak asupan protein harian mereka dari tanaman berbasis kacang atau produk susu. Sedangkan konsumsi daging sebaiknya tidak lebih dari satu ons per hari.

Begitu pula dengan telur dan ikan. Dua makanan sumber protein itu juga musti dikurangi konsumsinya. Maksimal satu ons per hari untuk ikan dan satu butir setengah telur per minggu.

Baca Juga : WHO Kampanyekan Eliminasi Trans Fat Olahan pada Industri Makanan

Rekomendasi itu sekilas tampak ekstrem. Namun, Dr. Willet bekilah, kebiasaan makan harian rendah kalori itu sudah lama diterapkan berbagai kalangan masyarakat di berbagai negara.

Anggota komisi juga menghitung sumber daya yang dimiliki bumi serta kemampuannya menyediakan makanan bagi seluruh penduduknya. Sistem pertanian yang lebih terarah diyakini dapat membuat setiap orang diberi makan secara berkelanjutan.

Pertanian Berkelanjutan
(Pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan sangat direkomendasikan. Image : FAO)

Peningkatan produksi pangan berkontribusi besar pada peningkatan harapan hidup dan mengatasi kelaparan di seluruh dunia. Akan tetapi hal itu akan percuma jika tidak diimbangi dengan perubahan pola makan global yang selama ini cenderung tinggi kalori.

Baca Juga : FAO : Pola Makan Jepang Role Model Gaya Hidup Sehat

Ironisnya, konsumsi berlebihan daging dan gula yang tinggi kalori itu hanya dinikmati sebagian warga bumi. Sebagian lainnya justru kekurangan sehingga rawan kelaparan.

“Prioritas sektor pertanian perlu digeser. Meski berperan besar memberi makan dunia, sektor pertanian tak mampu menyediakan makanan secara berkeadilan. Masih banyak orang kelaparan akibat ketimpangan distribusi makanan,” kata anggota komisi lainnya, Jessica Fanzo, seorang profesor kebijakan pangan dan pertanian global.

Karena itu, lanjutnya, komisi merekomendasikan pengurangan produksi daging hingga 65 persen. Sebagai gantinya, perlu digenjot produksi makanan seperti biji-bijian, kacang-kacangan dan ikan budidaya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan