Siklus Perubahan Iklim Gurun Sahara Terjadi 20 Ribu Tahun Sekali

Gurun Sahara Pernah Hijau
(Perubahan poros bumi membuat Gurun Sahara memiliki siklus “hijau”. Image : Tech Explorist)
Pomidor.id – Kita mengenal Gurun Sahara sebagai salah satu tempat paling panas, kering dan terpencil di muka bumi. Akan tetapi gambaran itu sangat berbeda dengan ribuan tahun silam. Gurun yang terletak di Afrika Utara itu ternyata pernah menjadi tempat yang teduh, hijau dan berkontribusi besar sebagai paru-paru dunia.

Hal itu dibuktikan dengan adanya corak dan fosil batuan primitif yang tersebar di Gurun Sahara. Batu-batuan tersebut menunjukkan bahwa Sahara dulunya adalah kawasan hijau di mana pemukiman manusia dan beragam tumbuhan serta hewan tumbuh di banyak tempat.

Namun kini keadaannya jauh berbeda. Bahkan tanda-tanda kehidupan pun sulit ditemui di gurun seluas 9,3 juta kilometer persegi itu. Kalau pun ada kabilah-kabilah yang melintasi Sahara, umumnya membawa perbekalan yang banyak agar dapat bertahan menghadapi iklimnya yang super ekstrem.

Baca Juga : Ini yang Akan Terjadi Jika Rotasi Bumi Bergerak Terbalik

Sejumlah pakar ekologi dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), AS, menganalisis partikel debu yang tersimpan di Pantai Afrika Barat selama 240 ribu tahun terakhir. Dalam analisisnya, mereka mendapati kenyataan bahwa iklim di Gurun Sahara dan kawasan Afrika Utara pada umumnya, memiliki siklus berubah dari basah ke kering dan sebaliknya, setiap 20 ribu tahun sekali.

Temuan ini menunjukkan ketika iklim Sahara basah, maka memungkinkan tumbuhan dan hewan berkembang biak. Hal ini pada gilirannya akan memicu munculnya pemukiman manusia.

“Bukti baru ini mendukung gambaran bahwa iklim di daerah itu selalu berubah selama ribuan tahun. Riset kami menunjukkan kawasan Afrika Utara selama ini iklimnya berubah-ubah antara hijau dan kering,” demikian pernyataan David McGee, profesor di Departemen Bumi MIT.

Dilansir Science Advance, para ilmuwan menjelaskan bahwa perubahan iklim drastis tersebut terutama didorong oleh perubahan poros bumi saat mengorbit matahari. Proses ini mempengaruhi pula intensitas sinar matahari di antara musim. Penelitian menunjukkan setiap 20 ribu tahun, bumi menerima lebih banyak sinar matahari di musim panas.

Gurun Sahara di Masa Kini
(Gurun Sahara di masa kini. Siklus setiap 20 ribu tahun sekali akan membuat gurun terluas di dunia itu berubah menjadi lebih hijau sehingga lebih layak ditinggali mahluk hidup. Image : Ummid)

Baca Juga : LSM Lingkungan Gagas Penghijauan Gurun Sahara

Ketika poros bumi mengalami perubahan, maka sinar matahari pun berkurang. Hujan badai kemudian menyusul. Kondisi ini membuat bumi lebih basah, lebih hijau dan kaya tanaman. Namun ketika aktivitas hujan melemah, atmosfer berubah menjadi lebih panas, lebih kering. Mirip dengan Gurun Sahara yang kita kenal sekarang.

Perubahan iklim yang berselang seling ini berlangsung terus menerus secara konsisten setiap 20 ribu tahun. Sayangnya dalam publikasi penelitian itu tidak disebutkan kapan siklus Gurun Sahara kembali hijau dan nyaman untuk dihuni mahluk hidup, termasuk manusia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan