border=

Pertanian Konservasi Bantu Petani Kecil Atasi Perubahan Iklim

Demplot Pertanian Konservasi di NTB
(Demplot pertanian konservasi untuk tanaman jagung di Bima, NTB. Image : Syamsul Riyadi)
Pomidor.id – Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), menjalankan program pertanian konservasi. Program yang sudah berjalan 4 tahun tersebut membantu 16.000 petani kecil beradaptasi dengan perubahan cuaca ekstrem namun di saat bersamaan tetap berupaya meningkatkan produksi dan memperbaiki tanah mereka.  

Selain Kementan dan Pemerintah Daerah, program pertanian konservasi didukung pula oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Bantuan Internasional AS (USAID), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

“Teknik pertanian konservasi amat bermanfaat terutama diterapkan di lahan kering, iklim kering. Teknik pertanian ini memungkinkan untuk mengkonservasi air di daerah perakaran. Hal ini membuat tanah mampu menyimpan air di saat musim hujan dan tetap menyimpannya saat musim kemarau,” ungkap Dedi Nursyamsi, Koordinator Nasional Projek Pertanian Konservasi/ Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, Kementerian Pertanian.

Dalam kunjungannya bersama berbagai elemen masyarakat ke lokasi pengembangan pertanian konservasi di desa Camplong, NTT, Kamis (7/2), ia mengatakan program ini membuat petani di daerah kering mampu panen hingga dua kali setahun.

Dedi menambahkan, intensitas panen yang semakin meningkat juga akan menyerap semakin banyak tenaga kerja. Termasuk kaum perempuan dan anak-anak muda. Hampir 800 kelompok tani di 28 kabupaten di NTT dan NTB terlibat dalam pengembangan program ini.

Baca Juga : 5 Metode Pertanian Ramah Lingkungan

Pertanian konservasi menghemat penggunaan air, melestarikan tanah serta efektif dalam pemberian pupuk. Sistem ini merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang melindungi tanah, air dan lingkungan.

Para petani kecil yang terlibat dalam pertanian konservasi terbukti mampu meningkatkan produktifitas jagung mereka menjadi lebih dari 4–5 ton. Hal itu terjadi selama puncak kekeringan ketika El Nino pada 2015 dan 2016. Padahal dengan metode tradisional panenan hanya 2,5 ton atau bahkan kurang.

Setelah empat tahun menerapkan teknik-teknik baru, petani merasakan kualitas tanah mereka lebih subur. Kandungan karbon dan nitrogen tanah juga jauh lebih tinggi.

Tak hanya produksi jagung yang meningkat. Banyak petani menanam berbagai jenis kacang dan tanaman lain untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menyediakan makanan bergizi bagi keluarga mereka.

Pertanian Konservasi Tingkatkan Produksi Jagung di NTT
(Pertanian konservasi meningkatkan produktivitas jagung di NTT yang berlahan kering. Image : Lux Oriente)

Baca Juga : “Ada Niat Menuju ke Pertanian Ramah Lingkungan. Tapi…”

Setelah keberhasilan di NTT dan NTB, awal 2018 penerapan program ini diperluas ke tiga propinsi yang memiliki lahan kering dan iklim kering. Ketiga propinsi tersebut adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Anang Noegroho, Direktur Pertanian Bappenas mengatakan pertanian konservasi yang diimplementasikan bersama FAO merupakan model IPTEK pertanian berkelanjutan. Diharapkan penerapannya dapat meningkatkan produktivitas lahan kering ditengah perubahan iklim yang semakin serius.

“Bappenas mengharapkan pola teknik pertanian konservasi ini dapat menjadi salah satu model yang dapat direplikasi di lokasi lainnya dalam mendukung ketahanan pangan lokal,” ujar Anang.

Baca Juga : FAO Bantu Petani Nepal Siasati Perubahan Iklim Global

Hal senada dinyatakan Perwakilan FAO di Indonesia, Stephen Rudgard. Menurutnya, teknik pertanian konservasi memungkinkan petani meninggalkan praktik-praktik pertanian konvensional. Pertanian konvensional selama ini ditengarai menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan hilangnya sebagian besar panen terkait perubahan iklim. FAO juga memperkenalkan mekanisasi yang cocok untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi.

“Kami berharap teknik ini akan lebih diperluas di Indonesia untuk mengembangkan pertanian dan petani yang lebih tangguh dan membawa kesejahteraan bagi para petani,” jelas Rudgard.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan