border=

FTA Indonesia-Australia Angin Segar bagi Pertanian di Queensland

FTA Indonesia-Australia Untungkan Petani Queensland
(Paska penandatanganan FTA Indonesia-Australia, jeruk asal Queensland bakal membanjiri pasar di tanah air. Image : Queensland Agriculture)
Pomidor.id – Menteri Pembangunan Industri Pertanian dan Perikanan Australia, Mark Furner, menyambut baik penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) negaranya dengan Indonesia tanggal 4 Maret lalu. Ia mengatakan Queensland menjadi ujung tombak dalam memanfaatkan FTA Indonesia-Australia. Perjanjian yang juga disebut Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IA-CEPA), bakal menguntungkan eksportir produk-produk pertanian dan peternakan, khususnya dari Queensland.  

“Di tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan menjadi satu dari lima negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Jumlah penduduknya yang lebih dari 270 juta jiwa, menjadikannya salah satu tujuan ekspor kami yang paling menjanjikan,” kata Furner.

“Sepanjang tahun 2017 lalu, Australia mengekspor produk-produk pertanian senilai USD 3,5 miliar ke Indonesia. Dengan FTA yang baru saja ditandatangani, kami berharap adanya peningkatan total secara signifikan,” lanjutnya.

Berdasarkan FTA Indonesia-Australia, di tahun 2020, ekspor dari kedua negara akan bebas tarif atau diatur khusus dalam prefensial yang disepakati bersama.

“Kami berupaya memanfaatkan peluang ini karena berarti akan lebih banyak lagi lapangan kerja untuk penguatan sektor ekonomi (pertanian) di Queensland,” terang Furner.

Baca Juga : Petani Australia Sambut Perdagangan Bebas dengan Indonesia

Berikut selengkapnya sejumlah produk yang diatur dalam FTA Indonesia-Australia dilansir Mirage News :

– Sapi hidup. Akses bebas tarif untuk 575 ribu ekor sapi jantan, tumbuh 4%/tahun menjadi 700 ribu. Setelah review di tahun ke-6, ada kemungkinan jumlahnya bertambah.

– Daging sapi dan daging domba beku. Segera setelah penandatanganan FTA, bea masuk berkurang menjadi 2,5% dan akan dihapuskan setelah 5 tahun.

– Biji-bijian untuk pakan. Akses bebas tarif diberlakukan setiap tahunnya untuk 500 ribu biji-bijian untuk pakan (gandum, barley, sorgum) dan meningkat 5%/tahun.

– Gula. Pemangkasan tarif untuk gula Australia menjadi 5% (sebelumnya 8-12%).

– Produk susu dan turunannya. Memangkas tarif 5% untuk susu dan krim serta konsentrat yang mengandung gula atau produk pemanis lainnya. Penghapusan tarif 5% juga diberlakukan untuk produk keju.

Baca Juga : Ekspor Buah Tropis Indonesia Masih Menjanjikan

– Produk buah. Potongan tarif untuk jeruk mandarin hingga 10% (dari 25%)/tahun. Tarif 0% setelah 20 tahun untuk volume tidak terbatas. Potongan tarif juga diberlakukan untuk 10 ton jeruk peras dan volumenya meningkat 5%/tahun. Sedangkan jeruk lemon, non-tarif berlaku untuk 5 ribu ton/tahun, volumenya meningkat 2,5%/tahun.

– Produk sayur. Pemotongan tarif 10% (dari 25%) untuk 10 ribu ton kentang/tahun. Setelah 5 tahun, tarif diturunkan lagi menjadi 5% untuk 12.500 ton kentang/tahun. Sementara untuk wortel, tarifnya dipangkas menjadi 10% (dari 25%) untuk 5 ribu ton/tahun. Setelah 15 tahun, tarif menjadi 0% untuk volume tidak terbatas.

Produk madu. Menghapus tarif 5% untuk madu Australia setelah 15 tahun penandatangan FTA.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan