Kebutuhan Gula untuk Industri Terus Meningkat Setiap Tahunnya

Gula untuk Industri
(Kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman serta industri farmasi, terus meningkat setiap tahunnya. Image : ist)
Pomidor.id – Kebutuhan gula untuk industri nasional setiap tahunnya terus meningkat. Salah satunya adalah Gula Kristal Rafinasi (GKR) atau gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi.

Kebutuhan GKR angkanya naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan kebutuhan gula untuk industri ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7 persen per tahun.

Sepanjang 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 7,91 persen. Sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Tahun ini, industri makanan dan minuman diproyeksi tumbuh signfikan seiring peningkatan konsumsi karena adanya momen pemilihan umum. Sementara kinerja industri farmasi terkatrol melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Kami optimis, pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Untuk menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku. Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional. Di antaranya melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

Baca Juga : Standarisasi Industri Makanan dan Minuman untuk Go Internasional

Dorong industri gula terintegrasi dengan kebun

Dalam upaya peningkatan produksi gula, pemerintah tidak hanya tergantung pada peran pabrik gula atau off-farm, namun peran dari sisi para petani tebu atau on-farm yang pengaruhnya sangat besar.

“Petani tebu diyakini bisa memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional. Karena hasil tebu yang berkualitas akan menghasilkan rendemen gula yang tinggi,” jelas Airlangga.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 yang direvisi menjadi Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Negatif Investasi, setiap pembangunan pabrik gula baru wajib terintegrasi dengan perkebunan tebu.

“Petani tebu memegang peranan sangat besar dalam industri ini. Sehingga pemerintah perlu memberikan stimulus bagi petani tebu agar tetap bergairah dalam menanam tebu dan tidak beralih ke tanaman lain yang dikhawatirkan akan semakin menurunnya produksi gula nasional,” ujar Airlangga.

Baca Juga : Kejar Swasembada Gula, Pemerintah Beri Perhatian Khusus Petani Tebu

Menperin menambahkan, pembangunan pabrik gula baru juga diharapkan dapat memberikan dampak yang positif kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah pabrik. Utamanya terhadap kesejahteraan ekonomi yang meningkat. Termasuk di dalamnya sopir-sopir tebu yang turut serta membantu kelancaran operasi pabrik gula dan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik gula.

“Kami terus mendorong agar pabrik gula dan petani dapat berupaya optimal meningkatkan produksi tebu dan gula. Sehingga berkontribusi pada pengembangan industri gula nasional dan pemenuhan gula nasional,” tandas Airlangga.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan