Land Reform di Afrika Selatan Tak Boleh Abaikan Kepentingan Ekonomi

Land Reform di Afsel Tak Boleh Abaikan Faktor Ekonomi
(Pertanian di Afrika Selatan sebenarnya mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan domestiknya. Namun hal ini sulit tercapai jika land reform yang dilakukan mengabaikan kepastian hukum dan kepercayaan investor. Image : Reuters)
Pomidor.id – Land reform atau reformasi pertanahan di Afrika Selatan yang menjadi agenda penting Presiden Cyril Ramaphosa masih ditunggu implementasinya. Yang dikhawatirkan, kebijakan populis tersebut akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Berbicara di Citrus CGA Summit ketiga di Port Elizabeth, kota pelabuhan di Afrika Selatan, ekonom pertanian, Wandile Sihlobo, mengatakan land reform di negara itu perlu didasarkan pada kepentingan ekonomi yang sehat.

“Ada dua tujuan yang harus dicapai, keadilan restoratif dan pertumbuhan ekonomi. Keduanya tidak akan dapat tercapai jika ada salah satu yang dikorbankan,” kata Sihlobo dalam Summit yang bertemakan ‘Kepercayaan Bisnis di Sektor Pertanian’ itu.

Sihlobo adalah kepala ekonom dari Kamar Bisnis Pertanian Afrika Selatan (Agbiz). Ia juga bertugas di dewan penasihat presiden yang mengurusi reformasi lahan dan pertanian.

Kepada 600 delegasi yang hadir, ia menyampaikan keputusan reformasi lahan kemungkinan besar baru akan diambil usai pemilihan nasional dan propinsi yang berlangsung serentak 8 Mei mendatang.

Desember tahun lalu, Majelis Nasional di Parlemen menerima laporan Komite Tinjauan Konstitusi Bersama. Laporan itu merekomendasikan amandemen konstitusi yang memungkinkan pengambilalihan lahan tanpa kompensasi apa pun. Saat ini Majelis Nasional yang diketuai Thoko Didiza tengah membahas perubahan amandemen tersebut.

Baca Juga : Petani Kulit Putih Afsel Berencana Bedol Desa ke Rusia

Land reform, khususnya pengambilalihan tanpa kompensasi, menciptakan ketidakpastian di antara pemilik tanah dan properti di Afrika Selatan. Di level internasional, kebijakan ini juga menimbulkan ketidakpercayaan investor dan dunia bisnis.

Sihlobo menegaskan bahwa ekonomi Afrika Selatan, termasuk sektor pertaniannya, hanya dapat tumbuh sehat jika ada kepastian dan kepercayaan yang diikuti dengan reformasi struktural yang lebih solid.

Sebagai informasi, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) di sektor pertanian di negara itu terus melorot dari waktu ke waktu. Saat ini, modal asing yang masuk ke sektor pertanian hanya 0,1% dari total investasi asing di Afrika Selatan.

Demo Menuntut Pengembalian Lahan Tanpa Kompensasi di Afsel
(Isu pengembalian lahan tanpa kompensasi dari mayoritas warga kulit putih ke warga kulit hitam, kerap menjadi komoditas politik. Namun tanpa perhitungan matang, isu itu justru bisa menjadi bumerang bagi ekonomi Afrika Selatan. Image : BBC)

Baca Juga : Pertanian di Afrika Belum Optimal Adopsi Teknologi

Menurut Sihlobo, bisnis membutuhkan iklim yang sehat untuk berinvestasi. Termasuk kepastian hukum yang memberi kepercayaan investor.

“Kita harus meningkatkan tingkat kepercayaan (investor) jika ingin ekspansi di sektor pertanian. Baru kemudian berbicara tentang penciptaan lapangan kerja,” papar Sihlobo.

Ia berkesimpulan, optimisme bisnis dan investasi akan kembali ke sektor penghasil pangan ini jika kebijakan politik dan ekonomi didukung perubahan struktural yang jelas. Tanpa itu, akan sulit menarik minat investor menanamkan modalnya di sektor pertanian.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan